Rabu, 23 Maret 2016

Umat Hindu tidak tahu isi Weda

Sebagian besar umat Hindu di Bali pastinya tidak mempunyai kitab Weda (Sruti) bahkan membacanya tidak pernah. Lalu bagaimana umat Hindu bisa mengerti tentang Weda padahal mereka tidak pernah membacanya. Dalam agama Hindu dikenal dengan tiga kerangka dasar agama Hindu yaitu tatwa (filsafat), etika (susila) dan upakara (upacara). Ketiga kerangka dasar ini saling terhubung satu dengan yang lainnya dimana tatwa adalah ilmu pengetahuannya sebagai bahan acuan, etika adalah tingkah laku dalam lingkungan sosial dan upakara adalah tata cara penghormatan kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi.

Dalam kesehariannya umat Hindu memang jarang mempelajari tatwa, tetapi telah mempraktekkan susila dan upacara sesuai dengan di dalam Weda. Jadi secara tidak langsung umat Hindu sudah melakukan apa yang dituliskan dalam Weda hanya mereka tidak tau makna dari hal-hal yang dilakukannya tersebut. Maka ketika ditanya oleh orang yang belum mengenal, dijawabnya "Nak Mule Keto" (memang begitu adanya) seperti orang Bali bilang.

Untuk mempelajari Weda memang tidak segampang kelihatannya. Berbeda dengan kitab suci agama lain yang sudah jelas dalam pemaknaannya, tetapi di dalam Weda sendiri adalah berupa syair-syair atau nyanyian suci dalam bahasa sansekerta. Sehingga tidak semua orang bisa memahami apa sebenarnya arti dari syair yang ada. Kecuali orang tersebut sudah mencapai tingkat kebijaksanaan tertinggi dan mengerti tentang alam semesta sehingga kebanyakan dari pembaca Weda adalah dari kalangan orang suci atau maharesi.

Weda berarti pengetahuan. Semua pengetahuan tentang alam semesta ada di dalam Weda. Ibarat buku pelajaran, Weda adalah buku tentang pelajaran matematika, IPS, IPA, PPKN, dll dari kelas 1 SD sampai perguruan tinggi. Sungguh banyak ilmu yang bisa digali dalam Weda. Karena banyaknya ilmu yang tersirat dalam Weda, maka Weda dibagi lagi menjadi beberapa bagian, dan dibagi lagi dan dibagi lagi sampai benar-benar jelas dan mudah dipelajari oleh umat Hindu.

Secara garis besar Weda dibagi menjadi 2 bagian yaitu :

  1. Weda Sruti, merupakan wahyu yang secara langsung diterima oleh para maharesi (Sapta Resi) yang kemudian disusun menjadi 4 bagian yaitu Reg Weda, Sama Weda, Yajur Weda, dan Atharwa Weda. Weda Sruti inilah yang merupakan Weda yang asli karena langsung diterima dari Brahman/Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi. Ilmu tentang alam semesta ini sangat sulit diterima oleh otak manusia yang terbatas, karena luas alam semesta yang besarnya tak terkira beserta dengan segala rahasianya tidak akan bisa dicerna dengan mudah dan masuk ke dalam otak manusia yang kecil dan dangkal. Maka dari itu dibuatlah penjelasan dari Weda Sruti yang disebut dengan Weda Smerti.
  2. Weda Smerti, merupakan Dharma Sastra yang isinya bersumber dari Weda Sruti atau lebih jelasnya merupakan buku manual/petunjuk/penjelasan yang sumbernya dari Weda Sruti. Hal ini dilakukan untuk mempermudah umat Hindu dalam mempelajari Weda. Secara umum Weda Smerti terdiri dari 2 bagian yaitu kelompok Wedangga dan Upaweda. 
Yang termasuk kelompok Wedangga adalah
  • Siksa (Phonetika/Ilmu olah vokal), tata cara pengucapan mantra serta tekanan suara
  • Wyakarana (Ilmu tata bahasa), yang memudahkan untuk mengerti isi dari Weda Sruti
  • Chanda (Lagu), lantunan nada menjadi sebuah nyanyian sehingga memudahkan dalam membaca dan mengingat mantra-mantra. 
  • Nirukta, memuat penafsiran otentik tentang kata-kata dalam Weda, berisikan sinomim, antonim, dll.
  • Jyotisa (Imu perbintangan/Astronomi), ilmu tentang tata surya, bulan, ruang angkasa.
  • Kalpa, kelompok wedangga terbesar yang terdiri dari Srauta (tata cara pelaksanaan yadnya), GrhyaSutra (yadnya bagi orang yang sudah berumah tangga), Dharma Sutra (peraturan dan ketentuan dalam bernegara), Sulwasutra (ilmu arsitektur dan tata cara pembuatan tempat peribadatan)
Yang termasuk kelompok Upaweda adalah
  • Itihasa, berisikan kisah kepahlawanan dan peperangan Dharma melawan Adharma (kebaikan melawan kejahatan) antara lain Ramayana dan Mahabharata.
  • Purana, kumpulan cerita kuno yang menceritakan awal penciptaan dunia dan silsilah raja-raja di dunia. Salah satu purana yang paling terkenal adalah Bhagavata Purana.
  • Arthasastra, ilmu pemerintahan dalam bernegara dan ilmu politik
  • Ayur Weda, ilmu tentang pengobatan (medis)
  • Gandarwaweda, ilmu tentang seni (musik, sajak, tari)
Berdasarkan cerita dalam Itihasa terutama Mahabharata, menghasilkan kitab suci yang terkenal yaitu Bhagavad Gita yang disusun Bagawan Wyasa. Disamping itu ada pula kitab Sarasamuscaya yang disusun oleh Bagawan Wararuci dan Manawa Dharma Sastra yang kesemuanya masuk ke dalam kelompok Weda Smerti. Dari seluruh kitab yang ada, yang paling banyak dibaca saat ini adalah Bhagavad Gita karena memang sangat mudah untuk dipelajari dan sudah mencakup hampir keseluruhan isi Weda. 

Dengan demikian, hanya dengan mempelajari 1 kitab Smerti saja sebenarnya umat Hindu sudah mengenal isi dari Weda itu sendiri. Disamping itu dari ajaran susila yang merupakan tingkah laku sehari-hari, umat Hindu secara turun temurun sudah diajarkan cara bergerak dan berprilaku seperti yang diajarkan dalam Weda (Misal : Tat Wam Asi, Panca Yadnya, Tri Kaya Parisudha, Tri Hita Karana, Panca Yama & Nyama Bratha, Sad Ripu, dll). Hanya saja ada memang sebagian umat yang tidak mengindahkannya disebabkan karena nafsu duniawinya terlalu tinggi sehingga mereka lupa tentang ajaran turun temurun yang sudah didapatkannya.

Rabu, 13 Januari 2016

Perayaan Tumpek Landep

Tumpek Landep adalah salah satu hari raya agama Hindu di bali berdasarkan pawukon (wuku) yang jatuhnya kurang lebih setiap 6 bulan sekali untuk kalender masehi. Hari raya ini tiba pada saat hari Saniscara Kliwon wuku Landep. Arti kata landep dalam hal ini adalah tajam, dimana tajam dalam ini adalah ketajaman pikiran. Jadi pada hari tumpek landep ini diharapkan umat Hindu bisa memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pasupati untuk memberikan ketajaman pikiran dalam memilah sesuatu, baik dalam melakukan perbuatan, perkataan dan berfikir.

Pada jaman dahulu, hari tumpek landep ini digunakan untuk mengasah sesuatu yang tajam secara niskala dalam bentuk senjata, diantaranya adalah keris, tombak,dll. Dan senjata yang diupacarai pun juga bukan sembarang senjata, yaitu senjata yang memang merupakan anugrah dari Dewa. Hal tersebut dilakukan sebagai rasa syukur atas anugrah yang diberikan dan agar tetap diberikan ketajaman dalam memerangi Adharma/ketidak baikan. Tetapi pada masa sekarang keadaan berubah, dimana yang diupacarai adalah mobil, motor, mesin, dan alat teknologi lainnya. Entah dari kapan kebiasaan ini berlangsung yang pasti kebiasaan ini masih terjadi sampai sekarang.

Berdasarkan makna dari tumpek landep sendiri yaitu menajamkan pikiran untuk sesuatu yang lebih baik. Tetapi rasanya tidak ada kaitannya antara ketajaman pikiran dengan mobil, mesin, motor, lalu kenapa umat Hindu malah mengupacarai barang tersebut. Disamping itu barang tersebut adalah buatan manusia sendiri yang berbeda dengan keris jaman dahulu yang memang diperoleh dari hasil bertapa/semedi dan mendapat anugrah dari Dewata sehingga sudah jelas-jelas bahwa senjata tersebut adalah milik dari Dewa. Bahkan ada yang sampai membuat banten gede hanya untuk mengupacarai mobilnya apalagi itu mobil baru. Apakah yang kemudian disembah? Apakah Ida Bethara Avanza atau Sang Hyang Xenia? Makanya hal tersebut menjadi hal perbincangan dari umat lain yang mangatakan bahwa umat hindu, mobil koq disembah. Sungguh miris mendengar hal tersebut. Bahkan ada yang mengatakan kenapa umat hindu mebanten di mobil? Dan sayangnya ada umat hindu yang menjawab karena di mobil ada setannya maka harus dibanteni. Itulah karena makna sebenarnya hari tumpek landep ini tidak dimengerti secara utuh. Seseorang lebih mementingkan hari tumpek landep untuk mengupacarai kendaraan sampai mereka rela mencuci dulu kendaraannya sebelum diupacarai padahal sayangnya pada saat otonan dia sendiri tidak pernah diupacarai. Dimana jelas-jelas dalam diri terdapat atman yang lebih suci tetapi mendapat perlakukan yang lebih rendah dibandingkan dengan kendaraan atau mesin yang dibuat oleh manusia.

Jadi inti sebenarnya dari tumpek landep adalah permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi sebagai Sang Hyang Pasupati agar buana alit/tubuh manusia terutama inti yang terpenting yaitu atman, bisa diberikan ketajaman pikiran agar diperoleh kebijaksanaan dalam melalui kehidupan sehingga bisa menjalankan Dharma. Bukan harus mengupacarai mobil, motor, mesin, komputer, dll. Maka dari itu setiap hari tumpek landep, utamakan dulu penyucian atman sebelum dilakukan upacara yang lainnya.

Senin, 11 Januari 2016

Benarkah Tuhan ada di dalam dan di luar ciptaan-Nya

Salah satu sifat Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi dalam Catur Cadu Sakti yaitu Wibhu Sakti yang artinya Tuhan Maha Ada dan meresapi segalanya, tidak berubah dan tidak terpengaruh (wyapi wyapaka nir wikara), Beliau berada di dalam dan diluar cipataanNya. Bagaimana Tuhan bisa seperti itu?

Seperti kita andaikan air laut di seluruh bumi ini yang terdiri dari berbagai samudera, lautan dan pantainya. Tuhan adalah air laut di seluruh bumi ini. Lalu samudera kita ibaratkan Dewa Tri Murti, lautan/selat kita ibaratkan Dewa-Dewi di nirwana. Sedangkan manusia dan mahluk hidup lainnya adalah titik-titik air laut. Maka walaupun sebutannya berbeda tetap saja tetap saja adalah merupakan laut itu sendiri. Samudera mempunyai luasan terbesar di antara lautan yang ada, begitu pula antara samudera yang satu dengan yang lain satupun tidak ada pembatasnya, begitu juga dengan perairan laut lainnya. Tetapi diantaranya diberikan nama yang berbeda-beda padahal sebenarnya lautan itu semuanya adalah satu. Begitu pula dengan Tri Murti yang kita ibaratkan samudera karena mempunyai sifat kesadaran yang hampir sama dengan Tuhan, padahal Beliau adalah manifestasi Tuhan itu sendiri. Begitu pula dengan Dewa-Dewi lainnya yang mempunyai kesadaran agak kurang dibandingkan Tri Murti yang kita ibaratkan lautan atau selat. Mereka juga adalah manifestasi dari Tuhan seperti halnya lautan/selat adalah merupakan lautan di bumi yang satu.

Lalu bagaimana dengan manusia yang diibaratkan titik-titik air laut. Manusia dan mahluk hidup lainnya di bumi ini sama sekali tidak mempunyai kesadaran tentang Tuhan. Jika kita ibaratkan proses titik-titik air laut ini, maka akan sama dengan perjalanan mahluk hidup rendah di bumi ini. Titik-titik air laut ini akan menguap ke udara dan akan menggumpal menjadi awan, yang nantinya akan menurunkan hujan dan mengalir di sungai atau jalur lainnya yang akan kembali lagi ke laut. Di antara air hujan yang mengalir tersebut tentu saja akan ada yang terperangkap di bumi yaitu masuk ke dalam danau atau bendungan.

Personifikasinya adalah titik-titik air laut yang menguap ini adalah proses pemisahan atman dengan asal utama (Tuhan) dan proses turun hujan adalah lahirnya manusia ke bumi, dan akan mengalir melalui sungai yang artinya sama dengan manusia yang berjalan melalui jalan agama. Air hujan yang sudah melewati jalur sungai yang tepat akan bisa kembali lagi ke laut. Seperti halnya seseorang yang sudah melewati jalan kebenaran dan sesuai dengan prinsip dalam agama (Dharma) akan bisa kembali lagi kepada asal muasalnya yaitu Tuhan (Moksa). Lalu ada juga manusia yang tersesat karena ketidak tahuannya (Awidya) seperti air hujan yang terperangkap di danau yang tidak akan mengalir kemana pun. Lalu bagaimana cara agar air dalam danau itu bisa mengalir? Maka air dalam danau tersebut harus menguap kembali terlebih dahulu dan turun kembali dalam bentuk hujan dan mengalir dalam sungai yang sesuai sehingga dia bisa mengalir ke laut. Sama halnya dengan manusia yang sudah tersesat dan melakukan banyak dosa sehingga dia harus terlahir kembali (Reinkarnasi/Punarbhawa), dan harus bisa melalui jalan kebenaran (Dharma) sehingga bisa menyatu kembali dengan Tuhan.

Air laut tersebut bisa saja menguap dari belahan laut manapun, maka sama dengan manusia yang bisa saja terlahir dari Tuhan itu sendiri, Dewa tertinggi Tri Murti, ataupun Dewa-Dewi lainnya. Maka tidak salah kalau manusia berbakti juga kepada Dewa-Dewi.

Jadi sama seperti lautan di bumi, walaupun disebut samudera hindia, samudera atlantik, laut jawa, selat sunda, dan lain-lain yang karena luasannya berbeda tetap saja itu adalah lautan bumi dan sama sekali tidak ada pembatasnya. Begitu juga Dewa, manusia dan mahluk hidup lainnya walaupun berbeda karena tingkat kesadarannya maka tetap saja asalnya dari Tuhan dan merupakan Tuhan itu sendiri. Laut juga bukan hanya terdiri air laut saja, tetapi juga dipenuhi oleh karang, pasir, palung, dll yang merupakan personifikasi alam semesta ini. Jadi dengan demikian sama seperti lautan yang terdiri dari beraneka ragam, sebagai sumber air terbesar bumi, Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi berada di dalam dan di luar ciptaanNya dan meresapi segala-galanya serta merupakan asal dari segalanya.

Selasa, 08 Desember 2015

Dasar Kepercayaan Agama Hindu

Untuk mejadi suatu keyakinan dasarnya adalah kepercayaan. Dari kepercayaan ini timbul rasa ingin tau dan belajar lebih sehingga apa yang dipercayai itu bisa diterima dengan logis sehingga menjadi suatu keyakinan. Dalam Agama Hindu terdapat 5 dasar kepercayaan yang disebut sebagai Panca Sradha. Dari lima kepercayaan ini sehingga memunculkan berbagai materi pengetahuan yang akhirnya menjadi pedoman hidup umat Hindu dalam melaksanakan keseharian dalam hal berkeTuhanan dan bergaul dengan sesamanya serta alam. Kelima dasar kepercayaan atau disebut sebagai Panca Srada itu adalah :

  1. Percaya dengan adanya Brahman
  2. Percaya dengan adanya Atman
  3. Percaya dengan adanya Karma Phala
  4. Percaya dengan adanya Punarbhawa
  5. Percaya dengan adanya Moksa
1. Percaya dengan adanya Brahman

Brahman adalah jiwa Maha Tunggal/Maha Besar/Maha Tau dan Maha Sempurna sesempurna-purnanya serta menguasai segalanya atau kita sebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Waca. Dalam hal ini kenapa kita hanya percaya dengan Brahman, kenapa tidak ditulis percaya dengan adanya Brahman dan Para Dewa Dewi? Jawabannya karena agama Hindu bukan penganut paham politeisme melainkan yang lebih universal yaitu Panteisme. Para Dewa dan Dewi hanyalah manifestasi dari Tuhan berdasarkan fungsinya karena hal yang terpenting di dunia ini adalah fungsi dan tugas. Tidak ada seorangpun atau benda apapun di dunia ini yang tidak mempunyai fungsi/tugas. Maka dari itu Tuhan mengajarkan kita bahwa fungsi itu penting melalui diciptakannya para Dewa dan Dewi. 

Dengan adanya dasar kepercayaan kepada Brahman/Tuhan Yang Maha Esa, maka timbul banyak konsep baru/keinginan diantaranya :
  • Keinginan untuk mengetahui bahwa Tuhan itu memang ada yang disebut sebagai Tri Pramana diataranya Anumana, Pratyaksa dan Agama.
  • Rasa memiliki hutang kepada Beliau yang telah menciptakan manusia atau disebut Tri Rna (hutang kepada Tuhan, hutang kepada orang tua, hutang kepada guru yang telah mengajarkan kita).
  • Keinginan untuk melakukan pengorbanan yang disebut Panca Yadnya.
  • dan lain-lain yang akhirnya menciptakan konsep baru lainnya.
Jadi pada dasarnya agama Hindu tidak pernah mengajarkan bahwa kita hanya harus percaya Dewa dan Dewi melainkan kepada Brahman/Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasi beliau sebagai Dewa Dewi. Hanya saja karena dasar pikiran manusia yang masih lemah sehingga sulit untuk menggambarkan bagaimana sebenarnya Brahman tersebut. Maka salah satu cara untuk menghubungkan manusia dengan Brahman adalah melalui penyembahan para Dewa dan Dewi. Berbeda halnya untuk orang yang sudah mempunyai kesadaran tinggi atau sudah memperoleh pencerahan maka tidak akan sulit untuk menghubungkan diri dengan Brahman Sang Pencipta.

2. Percaya dengan adanya Atman

Atman adalah jiwa/roh/badan suksma yang merupakan percikan terkecil dari Tuhan Yang Maha Esa/Brahman sebagai sumber dari segala kehidupan. Itulah sebabnya mengapa sifat-sifat atman sama dengan sifat-sifat Brahman. Hanya saja karena atman adalah merupakan percikan terkecil (atom) maka atman tidak memiliki sifat keesaan seperti yang dimiliki oleh Tuhan. Karena atman inilah semua mahluk hidup di alam semesta bisa hidup. Atman ini kemudian diberi badan kasar (Stula Sarira) sehingga tubuh bisa hidup dan bisa dilihat/dirasa/diraba. Sedangkan para Dewa yang memiliki persentasi keesaan lebih tinggi dibandingkan dengan manusia diberikan badan halus (Suksma Sarira), sedangkan atman itu sendiri sering disebut sebagai Antakarana Sarira. Karena sudah diberikan badan kasar maka atman yang sudah berwujud manusia atau mahluk hidup lainnya, akan mulai harus melalukan rutinitas sebagaimana kehidupan itu misalnya makan, minum, bekerja, olah raga, rekreasi, dan segala aktivitas duniawi lainnya hanya untuk memberikan makanan kepada badan kasar tersebut. 

Kemudian apakah atman itu juga harus diberi makan? Jawabannya iya, tetapi bukan makanan dalam bentuk lahiriah dan materi. Makanan atman adalah sesuatu yang bisa membuat mereka menyatu kembali dengan keEsaan Tuhan dalam bentuk pengendalian diri. Dalam hal ini disebut dengan Panca Yama Brata (pengendalian diri dalam sikap) dan Panca Nyama Brata (pengendalian diri dalam mental) yang masing-masing terdiri dari 5 bagian.

     Panca Yama Brata diantaranya :
  • Ahimsa, artinya tidak membunuh, tidak menyakiti, tidak melukai baik melalui pikiran, perbuatan maupun perkataan
  • Brahmacari, artinya menuntut ilmu sebaik-baiknya khususnya dalam hal pendekatan kepada Tuhan. Masa brahmacari ini bukan hanya dilakukan pada saat masih sekolah saja tetapi masih harus tetap dilakukan sampai akhir hayat karena ilmu pengetahuan itu tidak akan pernah habis.
  • Satya, artinya kesetiaan terhadap apapun yang dilakukan. Satya ini terbagi menjadi 5 yang disebut Panca satya diantaranya satya wacana, satya herdaya, satya laksana, satya mitra, satya samaya.
  • Awyawahara/Awyawaharika, yaitu tidak terikat dengan ketentuan/ikatan keduniawian yang bersifat materi. Dalam hal ini kita diajarkan tentang keserhanaan yaitu tidak bergaya hidup mewah, tidak suka berfoya-foya, tidak sombong dan tidak suka pamer.
  • Asteya artinya tidak mencuri atau mengambil milik orang lain. Segala sesuatu yang sudah menjadi milik seseorang adalah milik dia sendiri. Tidak pantas seseorang mengambil secara paksa ataupun sembunyi-sembunyi apa yang sudah menjadi milik orang lain.
Disamping Panca Yama Brata ini ada juga yang disebut dengan Panca Nyama Brata yang merupakan pengendalian diri tingkat lanjut yang diantaranya :

  • Akroda, artinya tidak marah/tidak mempunyai sifat marah. Sifat marah lebih banyak mengakibatkan hal yang buruk dibanding hal yang baik. 
  • Guru Susrusa, artinya hormat dan bakti terhadap guru. Dalam hal ini bukan artinya hanya hormat kepada guru pengajar di sekolah tetapi hormat kepada Catur Guru.
  • Sauca, artinya kesucian lahir dan bathin. Dalam silakrama disebutkan bahwa tubuh dibersihkan dengan air, jiwa dibersihkan dengan ilmu dan tapa bratha, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan.
  • Aharalagawa, artinya makan yang serba ringan atau tidak rakus. Makan yang berlebihan tidak akan baik pada tubuh karena akan menyebabkan tubuh sakit dan secara tidak langsung akan mempengaruhi kejiwaan. Maka ada semboyan "dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat".
  • Apramada, artinya tidak bersifat inkar terhadap kewajiban. Setiap manusia lahir ke dunia pastilah mempunyai maksud dan fungsi/tugas tertentu. Dengan demikian melakukan kewajiban dengan tulus wajib dilakukan.
Setiap mahluk hidup pasti mempunyai atman tetapi tidak sama karena tingkatannya berbeda dari mahluk terendah sampai ke manusia yang merupakan mahluk tertinggi. Atman pada setiap mahluk hidup mempunyai istilah yang berbeda diantaranya Jiwatman (atman pada manusia), Janggama (atma pada binatang) dan Sthawana (atma pada tumbuhan)

3. Percaya dengan adanya hukum Karma Phala

Karma Phala artinya hasil dari perbuatan yang dilakukan. Apapun yang sudah dilakukan baik melalui perkataan, perbuatan dan pikiran, suatu saat pasti akan mendapat imbalannya. Baik perbuatan yang dilakukan maka baik pula pahala yang didapat dan begitu pula dengan sebaliknya. Tidak ada di dunia ini yang bisa lepas dari hukum ini. Dalam menjalani kehidupan banyak orang beranggapan setiap perbuatan itu tidak akan mempengaruhi pahala yang dia dapat. Maksudnya kalau dia sudah melakukan lebih banyak perbuatan baik ketimbang perbuatan tidak baik maka nantinya dia pasti akan memperoleh hasil yang baik. Namun tidak demikian adanya, karena setiap detail perbuatan kita pasti akan memperoleh ganjarannya. Misalnya dalam kehidupan seseorang 80% melakukan kebaikan dan sisanya adalah perbuatan yang tidak baik. Maka sisa yang 20% dari perbuatanya pastilah tetap akan mendapat imbalan yang tidak baik juga. Tidak ada istilah "Pemutihan Pahala" yang artinya perbuatannya yang tidak baik akan diabaikan karena sudah melakukan lebih banyak kebaikan. Itulah hukum sebab akibat yang tidak akan bisa lepas dan tidak akan bisa dihindari.

Dalam agama Hindu, hukum sebab akibat atau Karma Phala ini terdiri dari 3 bagian yaitu :

  1. Sancita Karma Phala, artinya perbuatan di masa lampau atau kehidupan terdahulu maka hasilnya akan kita terima pada kehidupan sekarang.
  2. Prarabda Karma Phala, artinya perbuatan kita saat ini maka hasilnya akan kita dapat pada saat ini juga.
  3. Kryamana Karma Phala, artinya perbuatan kita di saat ini maka hasilnya akan kita terima pada kehidupan yang akan datang. Dalam hal ini yang akhirnya menyebabkan terjadinya Reinkarnasi/Punarbhawa.
Akibat dari hukum Karma Phala ini akan memperoleh tujuan yang berbeda yaitu apakah orang tersebut akan mengalami reinkarnasi/kelahiran kembali atau bisa mencapai tujuan terakhir yaitu Moksa. Maka dari itu prilaku sangatlah penting demi mencapai tujuan yang lebih baik.

4. Percaya dengan adanya Punarbhawa

Punarbhawa artinya lahir kembali ke dunia atau bereinkarnasi. Punarbhawa ini adalah akibat dari hukum karma phala yang sudah diberlakukan sebelumnya. Seseorang mengalami kelahiran kembali karena belum bisa mencapai pengendalian diri yang baik sehingga harus dilakukan pembenahan lagi sehingga menjadi lebih sempurna. 

Banyak pertanyaan sering saya dengar, kalau memang punarbhawa ini benar adanya, kenapa jumlah manusia bertambah sedangkan dosa mereka sebenarnya juga bertambah. Jadi banyak yang beranggapan bahwa Punarbhawa itu tidak mungkin karena kalau bertambah terus, lalu siapa itu yang lahir kembali?
Dalam hal ini banyak orang gelap mata bahwa mereka hanya hidup dalam kelompoknya saja. Tidak memikirkan bahwa ada mahluk hidup lain selain manusia yang mempunyai atman juga yaitu binatang dan tumbuhan. Secara kasat mata untuk saat ini kita sudah bisa melihat bagaimana populasi binatang maupun tumbuhan yang sudah berkurang dari belahan dunia. Lalu kemana perginya mereka (binatang & tumbuhan) yang sudah mati tersebut? Apakah kita hanya melihat bagian kasarnya saja bahwa binatang yang mati itu sudah menjadi santapan manusia dan tumbuhan yang ditebang itu sudah menjadi rumah bagi manusia? Padahal sudah jelas dalam agama Hindu bahwa mereka juga memiliki jiwa. Maka dari itu jiwa merekalah lahir kembali menjadi mahluk yang lebih tinggi yaitu manusia. 
Apakah benar binatang bisa lahir menjadi manusia? Jawabannya adalah bisa. Binatang bahkan bisa mempunyai jumlah dosa yang jauh lebih sedikit dibanding manusia maka wajar mereka bisa mencapai kehidupan yang lebih tinggi yaitu terlahir kembali sebagai manusia. Dan bahkan malah sebaliknya kebanyakan manusia bisa saja terlahir kembali menjadi mahluk yang lebih rendah karena banyaknya dosa yang mereka perbuat.

5. Percaya dengan adanya Moksa

Moksa artinya kebebasan yang kekal dan tiada akhir dimana atman bisa bersatu kembali dengan Sang Pencipta/Brahman/Ida Sang Hyang Widi dan merupakan tujuan terakhir. Tidak akan ada lagi kelahiran kembali. Tingkatan moksa ini terbagi dalam 3 golongan yaitu :

  • Moksa, artinya kebebasan yang dicapai seseorang tetapi masih meninggalkan badan kasar.
  • Adi Moksa, artinya kebebasan yang dicapai seseorang tetapi masih meninggalkan sisa berupa abu.
  • Parama Moksa, artinya kebebasan yang dicapai seseorang tanpa meninggalkan bekas.
Apapun jenis moksa yang telah dicapai artinya adalah sama walaupun dia meninggalkan bekas ataupun tanpa bekas karena pada intinya seseorang sudah bisa mencapai kebebasan tertinggi yaitu manunggal dengan Brahman.

Itulah kelima dasar kepercayaan dalam agama Hindu yang menjadi tolak ukur dalam menjalani kehidupan beragama Hindu. Dari kelima Sradha tersebut kenapa tidak ada surga dan neraka? Apakah agama Hindu tidak percaya dengan surga dan neraka? Jawabannya, agama Hindu percaya dengan adanya surga dan neraka tetapi tidak menjadi dasar kepercayaan atau suatu tujuan karena surga dan neraka hanyalah gambaran situasi yang sebenarnya ada di dunia fana ini. Saat kita senang itulah surga dan saat kita susah itulah neraka. Jadi konsepnya sangat berbeda dengan agama lain yang tujuan akhirnya adalah surga dan neraka.

Minggu, 09 November 2014

Hindu Menyembah Banyak Dewa

"Hindu menyembah banyak dewa, lalu dewa apakah yang harus saya sembah?"
Setiap dewa mempunyai sifat dan fungsi masing-masing, dan yang paling penting apapun dewa tersebut sebenarnya adalah sama. Tuhan memanifestasikan diri kedalam 3 dewa yang disebut Tri Murti sebagai dewa utama. Dari Tri Murti masing-masing menciptakan dewa lainnya untuk membantu mengatur roda dunia agar tetap terkendali dan berjalan sebagaimana mestinya.

Menyembah salah satu Tri Murti artinya menyembah seluruh Tri Murti, jadi tidak masalah kalau kita mengagumi salah satu bentuk dari Beliau karena pada dasarnya adalah sama. Dan menyembah Tri Murti artinya sama dengan menyembah Brahman/Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi yang utama.

Bagaimana kalau kita menyembah salah satu dewa yang bukan merupakan dewa utama?
Hal ini juga pada akhirnya juga sama. Seperti contoh kita adalah seorang nelayan, yang pastinya  memohon kepada Sang Hyang Baruna yang artinya sama dengan menyembah Dewa Wisnu sebagai penguasa lautan. Sebagai pelajar kita memohon kepada Dewi Saraswati yang artinya kita juga memohon kepada Dewa Brahma, atau kita memohon perlindungan kepada Sri Ganesha yang artinya kita memohon kepada Dewa Siwa, yang mana pada akhirnya kita akan tetap memohon kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi. Dalam Bhagawad Gita disebutkan :

"Orang yang menyembah para dewa sebenarnya adalah menyembahKu hanya saja mereka melakukannya dengan cara yang keliru."

Perbedaanya terletak pada anugrah yang didapat. Tuhan sama sekali tidak mengharapkan imbalan apapun ataupun memberikan imbalan. Tuhan hanya menerima siapapun yang sudah bisa melepaskan diri dari keinginan ataupun ikatan apapun dan akhirnya bisa bersatu dengan Beliau. Jadi kalau kita memohon sesuatu yang akan memberikan anugrah adalah para Dewa karena fungsi dari dewa selain mengatur roda kehidupan tetapi memberikan anugrah. Seperti yang dikutip dalam Bhagawad Gita sebagai berikut :

"Orang yang menyembah para dewa akan hidup di dunia para dewa, sedangkan orang yang menyembahKu akan mencapai duniaKu"

Maksud dari sloka di atas adalah karena manusia masih memiliki keinginan sehingga cenderung memohon kepada dewa agar diberikan anugrah, sehingga mereka belum bisa terbebas dari belenggu duniawi. Jadi intinya hendaknya kita harus bisa membebaskan diri dan memuja kebesaran Tuhan tanpa memohon atau mengharapkan apapun. Segala sesuatu diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak ada lagi yang perlu disampaikan selain rasa syukur sehingga kita bisa bersatu dengan Beliau.

Jadi dapat disimpulkan apapun dewa yang disembah pada intinya sama, yang penting disesuaikan dengan fungsi masing-masing atau tergantung kekaguman kita terhadap salah satu dari Tri Murti. Tetapi hendaknya segala sesuatu harus dilakukan secara tulus ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun apabila tujuannya adalah untuk mencapai moksa (bersatunya atma dengan Tuhan).


Konsep Ketuhanan dalam Agama Hindu

"Agama Hindu adalah agama politheisme yang menyembah banyak Tuhan?". Hal ini sering saya dengar dari saudara beda agama yang mungkin belum mengerti tentang konsep ketuhanan dalam Hindu. Dengan demikian maka sering muncul pemikiran yang cenderung merendahkan karena ketidakjelasan Tuhan mana sebenarnya yang disembah. Padahal sebenarnya Hindu bukanlah agama monotheisme, politheisme, atheisme ataupun lainnya. Konsep agama Hindu adalah Panteisme yaitu agama universal (satu Tuhan untuk semuanya).

Kenapa Agama Hindu disebut Panteisme? Memang terdapat perbedaan dalam proses tata cara penyembahan dan bahkan perbedaan nama Beliau yang disembah sesuai dengan alirannya tetapi sebenarnya mereka tetap menyembah satu Tuhan yang disebut Brahman/Ida Sang Hyang Widhi Wasa dikarenakan Beliau mempunyai banyak gelar seperti yang disebutkan oleh sloka-sloka berikut :

"Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangruwa" yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu, tidak ada Dharma/Tuhan yang lainnya.

"Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadhanti" artinya Tuhan hanya satu, tetapi para resi bijaksana menyebut Beliau dengan banyak nama.

Berbeda dengan monotheisme yang hanya menyembah satu Tuhan, tetapi sayangnya hanya berpihak pada satu kelompok saja, sedangkan kelompok lain adalah kaum musuh yang harus dibasmi. Atau paham politheisme yang jelas-jelas menunjukkan perbedaan dan penyembahan berhala.

Lalu siapakah sebenarnya Tuhan dalam Agama Hindu ?
Tuhan dalam agama Hindu disebut Brahman ("bukan Dewa Brahma") atau di Bali biasa disebut Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang artinya Tuhan yang maha besar dan tahu segalanya. Segala sesuatu tentang Brahman/Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak secara gampang bisa kita pahami kecuali kita sudah memiliki hati yang tulus, bijaksana dan tidak memiliki keterikatan terhadap apapun masalah keduniawian dikarenakan sifat-sifat beliau. Sifat-sifat Beliau banyak disebutkan dalam kitab suci. Dalam Weda disebutkan 4 sifat kemahakuasaan dari Tuhan yang disebut Cadu Sakti yang diantaranya :

  1. Wibhu Sakti : Tuhan Maha Ada yang memenuhi dan meresapi seluruh bhuana/dunia dan berada dimana-mana, tidak terpengaruh dan tidak berubah ("Wyapi Wyapaka Nir Wikara") dan tidak ada tempat yang kosong bagi Beliau karena beliau memenuhi segalanya. Beliau ada di dalam dan di luar ciptaan-Nya.
  2. Prabhu Sakti : Tuhan Maha Kuasa yang menjadi raja dari segala raja (Raja Diraja),  yang menguasai segalanya baik dalam hal penciptaan (Utpetti), pemeliharaan (Stiti), dan Pelebur (Prelina). 
  3. Jnana Sakti : Tuhan Maha Tahu yang mengetahui segala sesuatu yang terjadi baik di alam nyata maupun tidak nyata, yang terjadi di masa lampau(Atita), yang sedang terjadi (Nagata), ataupun yang akan terjadi (Wartamana).
  4. Krya Sakti : Tuhan Maha Karya yang setiap saat tidak pernah berhenti melakukan aktifitas baik dalam penciptaan, pemeliharaan, pelebur, pengawasan, penjagaan, sutradara dalam sandiwara kehidupan (demi memberikan pembelajaran dan pengetahuan) dan segala aktifitas lainnya.
Disamping sifat kemahakuasaan di atas, Tuhan/Brahman/Ida Sang Hyang Widhi juga memiliki sifat sebagai berikut seperti yang disebutkan dalam kitab Wrhaspati Tattwa yang disebut sebagai Asta Iswara yang diantaranya :
  1. Anima : Tuhan bagaikan setiap atom yang mempunyai kehalusan yang bahkan lebih halus dari partikel apapun
  2. Lagima : Sifat Tuhan yang sangat ringan bahkan lebih ringan dari ether
  3. Mahima : Dapat memenuhi segala ruang, tidak ada tempat kosong bagi Beliau
  4. Prapti : Segala tempat bisa dicapai,  Beliau dapat pergi kemanapun yang dikehendaki dan Beliau telah ada.
  5. Prakamya : Segala kehendakNya akan selalu terjadi.
  6. Isitwa : Tuhan merajai segala-galanya, dalam segala hal yang paling utama
  7.  Wasitwa : Menguasai dan dapat mengatasi apapun.
  8. Yatrakamawasayitwa : Tidak ada yang dapat menentang kehendakNya.
Adapun sifat-sifat Tuhan yang merupakan sumber dari segala kehidupan (Parama Atma) adalah :
  1. Achintya : tak terpikirkan
  2. Awikara : tak berubah-ubah
  3. Awyakta : tak terlahirkan.
  4. Achodya : tak terlukai oleh senjata
  5. Adhaya : tak terbakar oleh api
  6. Akledya : tak terkeringkan oleh angin
  7. Achesyah : tak terbasahi oleh air
  8. Nitya : kekal abadi
  9. Sarwagatah : ada dimana-mana
  10.  Sthanu : tak berpindah-pindah
  11. Acala : tak bergerak
  12. Sanatana : selalu dalam keadaan sama
  13. Atarjyotih : maha sempurna sesempurna-purnanya.
Dengan adanya sifat-sifat Beliau seperti di atas sangatlah sulit bagi orang awam untuk bisa mengerti dan memahami Tuhan kecuali kita sudah memiliki keyakinan teguh, berusaha untuk memahami dan menghayati keberadaan Beliau, melepaskan semua ikatan terhadap keinginan duniawi, dan memasrahkan sepenuhnya untuk Beliau.

Lalu apakah fungsi Dewa-Dewi? Apakah mereka bukan Tuhan?
Dewa berasal dari kata "Div" yang artinya sinar suci dari Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi. Dewa  adalah belahan dari Tuhan yang mana sebenarnya sama dengan mahluk lainnya termasuk manusia yang merupakan percikan terkecil dari Beliau karena Beliau adalah sumber dari segala kehidupan hanya saja Dewa berbentuk Sarira/roh/atma yang mempunyai sifat dan kemahakuasaan yang hampir sama dengan Tuhan. Diantara nama Dewa-Dewa yang ada hanya ketiga dewa yang mempunyai sifat yang mendekati sama dengan Tuhan diantaranya Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa sehingga ketiga dewa tersebut dijadikan dewa tertinggi dalam agama Hindu yang disebut Tri Murti.

Fungsi para dewa adalah untuk mengatur jalannya roda kehidupan baik dalam penciptaan, perjalanan waktu, dan peleburan serta proses setelah kematian. Mereka juga membantu makluk lainnya termasuk manusia untuk bisa mengerti konsep ketuhanan dan mengatur tatatan hidup manusia. Sehingga secara tidak langsung mereka adalah wakil dari Tuhan yang mengatur segala kehidupan sesuai dengan tugasNya masing-masing dan juga sebagai penghubung antara Tuhan dengan ciptaanNya. Dengan kata lain apabila manusia melakukan persembahan kepada salah satu dewa maka sama artinya mereka menyembah Tuhan dan dewa lainnya karena mereka semua adalah satu tetapi berbeda karena fungsinya. Sama halnya dengan kita sendiri, dengan menjaga diri sendiri dan menghormati orang lain artinya juga kita menjaga dan menghormati Tuhan karena Tuhan juga bersemayam dalam diri manusia.

Jika diibaratkan dalam sebuah perusahaan besar, Tuhan adalah sebagai pemilik perusahaan dan Tri Murti adalah Owner Representative, Dewa Indra yang merupakan raja dari para dewa adalah sebagai General Manager dan dewa-dewa lainnya sebagai departement head/manager. Dan disini manusia adalah staff yang harus tetap tunduk dan patuh terhadap atasan. Seorang staff sangatlah susah untuk bertemu langsung dengan pemilik perusahaan sehingga mereka harus menggunakan penghubung yaitu atasannya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Hindu tidak menganut paham monotheisme, politeisme, atheisme tetapi panteisme yang bersifat universal sehingga Hindu bisa menyatu dengan unsur daerah manapun tanpa adanya perselisihan sehingga penyebaran agama Hindu tidak pernah sekalipun dilakukan melalui kekerasan. Hindu tetap menyembah satu Tuhan yang disebut Brahman/Ida Sang Hyang Widhi hanya saja karena sifat dan kemahakuasaan Beliau sangat sulit untuk bisa dipahami akal manusia yang masih sangat terbatas sehingga manusia lebih cenderung untuk menyembah Dewa-Dewa yang sebenarnya sama artinya dengan dengan menyembah Tuhan.

Konsep Ketuhanan Agama Hindu Bagian 2 - Saguna dan Nirguna Brahman

Senin, 15 September 2014

Agama Diibaratkan Sebagai Orang Tua

Berbicara tentang agama adalah sesuatu yang sangat sensitif, karena jika ada salah satu pihak yang merasa sakit hati karena pihak lain akan mengakibatkan pemberontakan yang akan berakibat fatal. Agama merupakan pedoman dan tuntunan dalam menjalankan kehidupan. Jadi dalam situasi apapun dalam tingkah lakunya selalu berasaskan pada ajaran agama.

Manusia lahir, hidup dan mati dari Agama, karena itu agama bisa dikatakan sama seperti orang tua. Orang tua yang melahirkan anaknya, kemudian memberikan tuntunan sampai dia bisa hidup sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Disebutkan lahir dari agama karena setiap manusia yang percaya akan kebesaran Tuhan akan memeluk suatu agama yang sangat diyakininya. Walaupun kita terlahir dari orang tua, tetapi tanpa adanya kebesaran dari Tuhan YME, manusia tidak akan bisa tercipta. Setelah kelahirannya, manusia akan dituntun dengan ajaran-ajaran sebagaimana tertera dalam kitab sucinya. Jadi bisa dilihat, suatu ajaran agama yang memang mengandung unsur kebenaran pasti dapat dilihat dari tingkah laku pengikutnya. Apapun yang diajarkan orang tua kepada anaknya pasti akan tetap melekat dan tetap dilakukannya karena sudah terdoktrin seperti yang diajarkan, Begitu pula dengan agama, apapun yang diajarkan dalam kitab suci, pasti akan tetap melekat yang tentunya akan menentukan masa depan tingkah laku manusia apakah akan selalu menjunjung kebenaran atau melakukan kebiadaban.

Seorang anak yang mempunyai orang tua yang berbudi luhur pastinya mempunyai anak yang baik, sedangkan anak yang mempunyai orang tua yang keji, anaknya pasti akan mengikuti orang tuanya yang berbuat keji pula. Orang tua dalam hal ini bukan dalam arti sempit yang hanya berarti yang melahirkan kita, tetapi orang yang mengasuh dan memelihara kita juga disebut orang tua. Begitupun dengan agama. Suatu agama yang mengajarkan Darma (kebenaran) pasti akan membuat manusianya menjadi berbudi luhur dan baik hati. Tetapi kalau dalam agama sudah mengajarkan kekerasan dan dendam, menghasilkan manusia yang beringas, keji, pemberontak.

Seorang anak yang terlahir dari orang tua mempunyai hutang kepada orang tua yang melahirkannya. Dengan demikian seorang anak wajib untuk mengikuti semua aturan dan perintah orang tua. Agama pun demikian. Manusia juga mempunyai hutang kepada Tuhan yang telah menciptakannya berserta dengan alam semesta. Sehingga manusia wajib untuk memuja Tuhan dengan berbagai pengorbanan yang memang layak untuk dilakukan.

Kita tidak bisa memilih orang tua sesuka kita karena bagaimanapun seorang anak pasti terlahir dari orang tua. Berbeda dengan agama yang memang akan dipilih oleh seorang manusia apabila sudah sesuai dengan keyakinannya. Dalam hal ini, kebijakan dalam memilih suatu ajaran yang memang murni dan mengandung kebenaran serta bisa dijadikan panutan sangat diperlukan.