Selasa, 12 April 2016

Unsur - Unsur Badan Dalam Hindu

Dalam agama Hindu dikenal ada 3 jenis badan yaitu Stula Sarira, Suksma Sarira dan Antakarana Sarira yang disebut sebagai Tri Sarira. Ketiga jenis tubuh inilah yang menjadi kesatuan sehingga manusia bisa hidup dengan selayaknya manusia normal. Apabila salah satu tubuh ini terlepas maka sudah pasti akan terjadi ketidak seimbangan ataupun kematian. Penjabaran dari masing-masing badan tersebut adalah :

  1. Stula Sarira atau badan kasar, merupakan badan yang bisa dilihat, diraba, dirasakan, mempunyai bentuk tetapi tidak memiliki kehidupan.
  2. Suksma Sarira atau badan halus, merupakan badan yang memiliki bentuk, akan tetapi tidak bisa dilihat ataupun diraba dan merupakan letak dari akal dan pikiran manusia. Badan ini diidentikkan dengan roh manusia. Orang yang meninggal akan meninggalkan badan kasarnya dan menjadi roh dan menempati alam Pitara sampai waktunya dia kembali lagi ke dunia. Kenapa menjadi roh, bukan menjadi atman? Buktinya adalah terkadang ada orang yang memiliki kemampuan lebih/indra ke-enam yang mampu membuat orang itu melihat roh orang yang sudah meninggal dimana mempunyai bentuk dan wajah sama seperti saat keadaan masih hidup. 
  3. Antakarana Sarira atau badan penyebab merupakan atman yang merupakan sumber kehidupan dari keseluruhan badan yang ada. Atman mempunyai sifat yang sama dengan asalnya yaitu Paramaatman atau Tuhan Yang Maha Esa. Hanya saja atman merupakan percikan terkecil dari Tuhan sehingga walaupun mempunyai sifat yang sama tetapi tidak sama dalam hal kemampuan. 
Atman dan roh berbeda, roh merupakan suksma sarira sedangkan atman adalah penyebab kehidupan yang mana semua hasil dari karma melekat pada atman ini. Apabila seseorang yang sudah meninggal itu harus kembali lagi ke dunia, maka dia harus melepas suksma sariranya yang lama dan kembali ke dalam bentuk atman, kemudian akan mendapat suksma dan stula sarira yang baru. Makanya dia akan lupa bagaimana dia ada di kehidupan sebelumnya karena akal dan pikiran yang merupakan tempat penyimpanan memory ada pada sukma sarira sebelumnya. Apabila seseorang kehilangan rohnya/suksma sarira, orang itu tetap masih hidup tetapi tidak punya akal dan pikiran lagi dan akan mudah diombang-ambing.

Inti badan yang sebenarnya adalah atman, begitu atman terlepas dari badan kasar dan badan halus, maka kedua badan itu tidak akan diperlukan lagi. Sesuatu yang diciptakan sudah pasti lama kelamaan akan usang termakan usia dan tidak akan bisa digunakan lagi. Seperti diibaratkan sebuah komputer, dimana badan kasar adalah perangkat kerasnya, badan halus adalah perangkat lunaknya/software, dan listrik adalah atman. Apabila ketiga unsur itu berjalan normal, maka anda akan dengan mudah mengoperasikannya. Seandainya ada kerusakan pada perangkat keras, sudah tentu komputer tersebut tidak akan bisa digunakan lagi dan harus dilakukan penggantian alat baru bahkan komputer yang baru. Dan apabila ada kerusakan pada softwarenya, maka komputer itu masih bisa hidup tetapi tidak bisa digunakan. Dan apabila listriknya mati sudah tentu tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.

Jadi sama halnya Tri Sarira dengan perumpamaan di atas, badan kasar yang sudah rusak atau sudah usang sudah tentu tidak akan bisa digunakan lagi. Kalau sebuah komputer rusak mungkin anda bisa buang atau dijual ke tempat barang bekas. Bagaimana dengan tubuh manusia, apakah bisa dijual atau dibuang begitu saja? Tentu saja tubuh manusia tidak serendah komputer yang merupakan buatan manusia. Unsur penciptaan badan kasar terdiri dari 5 macam yang disebut sebagai Panca Maha Bhuta yang diantaranya :

  1. Akasa atau rongga; tanpa adanya rongga segala benda padat/organ tubuh tidak akan bisa diposisikan dan tidak akan ada aliran apapun apabila seandainya sebuah tubuh dipenuhi benda padat. Maka dari itu akasa adalah bagian yang pertama.
  2. Pertiwi atau organ padat; merupakan benda padat/organ-organ tubuh yang digunakan untuk proses pencernaan serta pemerosesan lainnya. Organ tubuh tersebut antara lain hati, paru-paru, jantung, usus, tulang, kulit dan organ padat lainnya.
  3. Bayu atau udara; di dalam rongga sudah pasti ada udara, disamping itu udara juga dibutuhkan untuk proses pernafasan dan pembakaran sehingga menjadi energi. 
  4. Apah atau darah; darah yang mengalir melalui pembuluh akan membantu mengalirkan sari-sari makanan sehingga energi.
  5. Teja atau panas; dari hasil pemrosesan akan mengasilkan panas dan akan menghasilkan suhu yang tetap. Suhu ruangan yang tidak bagus akan berpengaruh pada kondisi tubuh misalnya kalau terlalu dingin akan membuat kita mengalami hypotermia atau kalau terlalu panas akan mengakibatkan dehidrasi. 
Unsur badan kasar ini mempunyai bahan yang sama dengan unsur penciptaan alam semesta. Maka dari itu badan manusia disebut sebagai Buana Alit (Mikrokosmos) dan alam semesta disebut sebagai Buana Agung (Makrokosmos). Hanya saja untuk Buana Agung pengertiannya lebih luas yaitu Akasa merupakan ruang angkasa, Pertiwi adalah planet, bintang, meteor, dll. Bayu merupakan udara, Apah adalah air, dan Teja adalah panas/api dalam inti. Badan kasar yang terdiri dari lima unsur tersebut harus dikembalikan ke asalnya semula sehingga di adakanlah upacara ngaben untuk mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta kembali ke asalnya. Upacara ngaben ini tidak harus dilakukan secara kremasi saja yang penting sudah menggunakan salah satu unsur penciptaannya. Misalnya dikubur yang artinya menggunakan unsur pertiwi/tanah, dihanyutkan yang artinya menggunakan unsur Apah/air (seperti orang India di sungai Gangga). Diantara tata cara ngaben yang ada, kremasi adalah yang utama.


Kenapa kremasi adalah utama dalam ngaben?
Dalam kremasi semua unsur akan kembali dengan cepat. Teja akan kembali ke panas (api), Apah akan kembali ke air (menjadi uap), Bayu akan kembali ke udara, Pertiwi akan kembali ke tanah (abu), dan Akasa akan kembali ke hampa. Dan semuanya kembali dalam waktu yang tidak lama. Itulah sebabnya kenapa umat Hindu sebagian besar melakukan kremasi dalam prosesi upacara ngabennya. Hanya sedikit ada yang melakukan dengan cara dikubur karena desa, kala, patra (tempat, waktu dan kondisi) yang tidak sesuai.

Kremasi memang kelihatan kejam, bahkan banyak non-Hindu mengatakan sangat tidak berprikemanusiaan. Tetapi memang begitulah cara yang paling tepat untuk mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta. Badan kasar sudah tidak bisa digunakan lagi. Roh dan atman juga sudah tidak melekat lagi dalam badan kasar. Maka apapun yang dilakukan pada badan kasar tidak akan mempengaruhi badan halus dan badan penyebabnya. Bahkan dengan dilakukannya hal tersebut akan membantu jiwa/Atman agar segera bisa terlepas dari duniawi dan bisa melanjutkan ke proses selanjutnya.

Rabu, 06 April 2016

Bergesernya Tradisi di Bali Akibat Penjajahan

Tradisi/budaya Bali sebenarnya tidak lepas dari ajaran Weda, hanya saja dengan begitu banyaknya campur tangan akhirnya tradisi yang sudah sesuai dan lengkap akhirnya berubah sesuai dengan keinginan manusia. Salah satu contoh tradisi yang bergeser adalah catur warna yang menjadi kasta. Padahal dalam kitab suci Hindu sudah jelas dituliskan bahwa catur warna adalah pembagian manusia berdasarkan kualitas dan keahliannya. Dan hal ini juga sudah dipertegas oleh sloka Bhagawad Gita IV-13 : "Catur Varna (Warna) adalah ciptaan-Ku, menurut pembagian kualitas dan kerja; tapi ketahuilah walaupun Aku penciptanya, Aku tak berbuat dan merubah diri-Ku".

Pembagian catur warna sendiri adalah

  1. Brahmana : golongan yang mempunyai keahlian di bidang pelaksanaan keagamaan. Golongan ini cocok ditempatkan sebagai pendeta atau sulinggih, pemangku, guru kerohanian.
  2. Ksatria : golongan yang ahli di bidang ke ketatanegaraan, sehingga cocok ditempatkan sebagai pengatur jalannya suatu negara dan pembela negara, misalnya prajurit/tentara, menteri, pemerintah.
  3. Weisya : golongan yang ahli di bidang ekonomi, sehingga cocok ditempatkan sebagai pengatur perekonomian, misalnya pengusaha, pedagang, petani.
  4. Sudra : golongan yang mendedikasikan diri untuk memberikan pelayanan terhadap suatu pekerjaan. Sehingga golongan ini cocok ditempatkan sebagai buruh atau karyawan.
Dilihat dari pembagian beserta dengan maksud yang ada dalam catur warna, sudah jelas sekali ada perbedaan antara catur warna dan kasta. Catur warna lebih mementingkan ke profesi sedangkan kasta lebih cenderung ke wangsa/keturunan.

Bagaimana kasta bisa terbentuk ?
Pada awal kehidupan di Bali bahkan sampai masuknya Majapahit di bali tidak mengenal adanya kasta. Ini terbukti dengan nama-nama orang Bali termasuk petingginya yang tidak menggunakan kata sandang apapun, misalnya Ida Bagus, Gusti Ngurah, I Dewa, dll. Yang menjadi raja ataupun petingginya tidak harus dari keluarga bangsawan atau wangsa tertentu. Seperti contoh di Jawa, Kerajaan Singosari yang dibangun oleh seorang pemuda biasa yang bernama Ken Arok, Kerajaan Majapahit dibangun oleh menantu bekas raja Singosari yaitu Raden Wijaya dan akhirnya juga mendapat seorang patih dari rakyat biasa yang bernama Gajah Mada. Di Bali sendiri semenjak masih dalam masa Kerajaan Bedahulu, rajanya masih menggunakan nama aslinya, misalnya Kesari Warmadewa menjadi Sri Kesari Warmadewa, Ugrasena menjadi Sri Ugrasena, Udayana menjadi Sri Udayana. Jadi hanya ditambahkan kata "Sri" sebagai abiseka bahwa beliau adalah seorang raja. Patih-patihnya pun bernama Ki Kebo Iwa, Ki Pasung Grigis, dll yang hanya dari rakyat biasa. Jadi sudah jelas sekali bahwa jaman dulu Bali tidak mengenal kasta. Tetapi yang dipentingkan adalah keahlian.

Kemudian setelah kedatangan penjajah Belanda dengan politik adu dombanya, direncanakanlah pengkotak-kotakan masyarakat Bali ke dalam sistem kasta. Sistem kasta ini ditiru dari penerapan sistem kasta yang sudah berhasil diterapkan oleh sekutunya yaitu Inggris di India. Maka Belanda juga ingin melakukan hal yang sama terhadap rakyat Bali dan sayangnya berhasil. Akhirnya semenjak itulah Warna (catur warna) disalah artikan menjadi kasta dan mulailah pemakaian kata sandang untuk kaum bangsawan sampai ke keturunannya.

Disamping itu pengkotak-kotakan masyarakat Bali dilakukan juga dalam hal pembagian waris. Pada awal Bali, anak perempuan dan laki-laki mempunyai hak yang sama dalam hal warisan. Perbedaannya hanya jumlahnya yaitu "a suun" (mengangkat dengan kepala) untuk anak perempuan dan "a tegen" (mengangkat dengan bahu) untuk anak laki-laki. Artinya anak perempuan mendapat setengah dari anak laki-laki. Kecuali untuk warisan yang bersifat pusaka keluarga memang harus diserahkan kepada anak laki-laki. Penjajah juga akhirnya menghapus hak-hak anak perempuan dalam hal warisan dan sebagainya.

Begitulah tragisnya perubahan tradisi dalam tatanan masyarakat Bali yang sudah maju dan akhirnya hancur sebagai akibat dari penjajahan Belanda. Untungnya sekarang kehancuran tradisi ini sudah mulai luntur, perbedaan kasta sudah mulai pudar dan persamaan hak antara anak perempuan dan laki-laki sudah mulai diakui. Memang belum semua orang melakukannya, tetapi semoga untuk kedepannya masyarakat Bali bisa kembali lagi ke ajaran Weda yang sesungguhnya.

Selasa, 05 April 2016

Agama Adalah Petunjuk Jalan

Berdasarkan sloka Bhagavad Gita Bab IV-11 "Bagaimanapun (jalan) manusia mendekati-Ku, Aku terima wahai Arjuna. Manusia mengikuti jalan-Ku pada segala jalan". Sebenarnya sloka ini bukan berarti apapun agama yang dianut, berati Tuhan akan langsung menerimanya. Jalan sebenarnya yang dimaksud adalah catur marga yaitu 4 jalan/cara untuk mencapai Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Catur marga terdiri dari :

  1. Bhakti Marga : Jalan untuk mendekatkan diri melalui berbhakti/sembahyang, membaca doa dan kidung suci, mencintai dan menjaga semua ciptaan-Nya.
  2. Jnana Marga : Jalan untuk mendekatkan diri melalui pengetahuan, mengamalkan pengetahuan-pengetahuan suci, membagi pengetahuan suci (yang benar) baik itu tentang saints ataupun spiritual.
  3. Karma Marga : Jalan untuk mendekatkan diri melalui perbuatan, melakukan pekerjaan sebaik-baiknya tanpa mengeluh, membantu sesama mahluk Tuhan, selalu mengamalkan Tri Kaya Parisudha.
  4. Raja/Yoga Marga : Jalan untuk mendekatkan diri melalui jalan yoga, meditasi, pemusatan pikiran dan melepaskan semua ikatan duniawi,
Kemudian apa hubungan agama dengan catur marga ini? Catur marga merupakan cara atau jalan untuk mencapai pendekatan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa, hanya dilakukan melalui 4 cara tersebut. Sedangkan agama merupakan panduan yang menjadi penuntun untuk melaksanakan catur marga tersebut.

Lalu apakah semua agama melakukan catur marga tersebut?
Jawabannya bisa iya bisa tidak. Dalam agama Hindu sendiri sudah jelas filosofi catur marga tersirat dalam Weda, sehingga sudah pasti melakukan apa yang ada dalam catur marga. Dari keempat jalan itu tidak harus semua dilakukan, yang penting selalu diikuti oleh Bhakti Marga. Bisa hanya melakukan Bhakti dan Jnana, Bhakti dan Karma, atau Bhakti dan Raja. Agama Hindu di masing-masing daerah juga melakukan hal yang berbeda. Contohnya agama Hindu di Bali yang melakukan Bhakti dan Karma Marga, agama Hindu di India melakukan Bhakti dan Raja Marga, dan saya sendiri melakukan Bhakti dan Jnana Marga.

Untuk agama selain Hindu, secara tidak langsung sebenarnya juga melakukan catur marga tersebut. Misalnya agama Kristen melakukan bhakti dan karma marga karena yang terpenting adalah perbuatan, agama Budha melakukan bhakti dan Raja marga karena yang terpenting adalah pemusatan pikiran untuk melepaskan ikatan duniawi, dan agama lainnya tergantung cara pandang masing-masing.

Jadi pada dasarnya semua agama sudah menganjurkan untuk melakukan catur marga tersebut hanya saja konsepnya tidak ada. Tuhan tidak memerlukan agama, manusialah yang perlu agama sebagai pemandu untuk melakukan catur marga tersebut. Dengan demikian agama lebih baik disebut sebagai penunjuk jalan. Sekarang tinggal manusianya yang memilih apakah akan mengikuti petunjuk yang salah atau yang benar.

Rabu, 23 Maret 2016

Umat Hindu tidak tahu isi Weda

Sebagian besar umat Hindu di Bali pastinya tidak mempunyai kitab Weda (Sruti) bahkan membacanya tidak pernah. Lalu bagaimana umat Hindu bisa mengerti tentang Weda padahal mereka tidak pernah membacanya. Dalam agama Hindu dikenal dengan tiga kerangka dasar agama Hindu yaitu tatwa (filsafat), etika (susila) dan upakara (upacara). Ketiga kerangka dasar ini saling terhubung satu dengan yang lainnya dimana tatwa adalah ilmu pengetahuannya sebagai bahan acuan, etika adalah tingkah laku dalam lingkungan sosial dan upakara adalah tata cara penghormatan kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi.

Dalam kesehariannya umat Hindu memang jarang mempelajari tatwa, tetapi telah mempraktekkan susila dan upacara sesuai dengan di dalam Weda. Jadi secara tidak langsung umat Hindu sudah melakukan apa yang dituliskan dalam Weda hanya mereka tidak tau makna dari hal-hal yang dilakukannya tersebut. Maka ketika ditanya oleh orang yang belum mengenal, dijawabnya "Nak Mule Keto" (memang begitu adanya) seperti orang Bali bilang.

Untuk mempelajari Weda memang tidak segampang kelihatannya. Berbeda dengan kitab suci agama lain yang sudah jelas dalam pemaknaannya, tetapi di dalam Weda sendiri adalah berupa syair-syair atau nyanyian suci dalam bahasa sansekerta. Sehingga tidak semua orang bisa memahami apa sebenarnya arti dari syair yang ada. Kecuali orang tersebut sudah mencapai tingkat kebijaksanaan tertinggi dan mengerti tentang alam semesta sehingga kebanyakan dari pembaca Weda adalah dari kalangan orang suci atau maharesi.

Weda berarti pengetahuan. Semua pengetahuan tentang alam semesta ada di dalam Weda. Ibarat buku pelajaran, Weda adalah buku tentang pelajaran matematika, IPS, IPA, PPKN, dll dari kelas 1 SD sampai perguruan tinggi. Sungguh banyak ilmu yang bisa digali dalam Weda. Karena banyaknya ilmu yang tersirat dalam Weda, maka Weda dibagi lagi menjadi beberapa bagian, dan dibagi lagi dan dibagi lagi sampai benar-benar jelas dan mudah dipelajari oleh umat Hindu.

Secara garis besar Weda dibagi menjadi 2 bagian yaitu :

  1. Weda Sruti, merupakan wahyu yang secara langsung diterima oleh para maharesi (Sapta Resi) yang kemudian disusun menjadi 4 bagian yaitu Reg Weda, Sama Weda, Yajur Weda, dan Atharwa Weda. Weda Sruti inilah yang merupakan Weda yang asli karena langsung diterima dari Brahman/Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi. Ilmu tentang alam semesta ini sangat sulit diterima oleh otak manusia yang terbatas, karena luas alam semesta yang besarnya tak terkira beserta dengan segala rahasianya tidak akan bisa dicerna dengan mudah dan masuk ke dalam otak manusia yang kecil dan dangkal. Maka dari itu dibuatlah penjelasan dari Weda Sruti yang disebut dengan Weda Smerti.
  2. Weda Smerti, merupakan Dharma Sastra yang isinya bersumber dari Weda Sruti atau lebih jelasnya merupakan buku manual/petunjuk/penjelasan yang sumbernya dari Weda Sruti. Hal ini dilakukan untuk mempermudah umat Hindu dalam mempelajari Weda. Secara umum Weda Smerti terdiri dari 2 bagian yaitu kelompok Wedangga dan Upaweda. 
Yang termasuk kelompok Wedangga adalah
  • Siksa (Phonetika/Ilmu olah vokal), tata cara pengucapan mantra serta tekanan suara
  • Wyakarana (Ilmu tata bahasa), yang memudahkan untuk mengerti isi dari Weda Sruti
  • Chanda (Lagu), lantunan nada menjadi sebuah nyanyian sehingga memudahkan dalam membaca dan mengingat mantra-mantra. 
  • Nirukta, memuat penafsiran otentik tentang kata-kata dalam Weda, berisikan sinomim, antonim, dll.
  • Jyotisa (Imu perbintangan/Astronomi), ilmu tentang tata surya, bulan, ruang angkasa.
  • Kalpa, kelompok wedangga terbesar yang terdiri dari Srauta (tata cara pelaksanaan yadnya), GrhyaSutra (yadnya bagi orang yang sudah berumah tangga), Dharma Sutra (peraturan dan ketentuan dalam bernegara), Sulwasutra (ilmu arsitektur dan tata cara pembuatan tempat peribadatan)
Yang termasuk kelompok Upaweda adalah
  • Itihasa, berisikan kisah kepahlawanan dan peperangan Dharma melawan Adharma (kebaikan melawan kejahatan) antara lain Ramayana dan Mahabharata.
  • Purana, kumpulan cerita kuno yang menceritakan awal penciptaan dunia dan silsilah raja-raja di dunia. Salah satu purana yang paling terkenal adalah Bhagavata Purana.
  • Arthasastra, ilmu pemerintahan dalam bernegara dan ilmu politik
  • Ayur Weda, ilmu tentang pengobatan (medis)
  • Gandarwaweda, ilmu tentang seni (musik, sajak, tari)
Berdasarkan cerita dalam Itihasa terutama Mahabharata, menghasilkan kitab suci yang terkenal yaitu Bhagavad Gita yang disusun Bagawan Wyasa. Disamping itu ada pula kitab Sarasamuscaya yang disusun oleh Bagawan Wararuci dan Manawa Dharma Sastra yang kesemuanya masuk ke dalam kelompok Weda Smerti. Dari seluruh kitab yang ada, yang paling banyak dibaca saat ini adalah Bhagavad Gita karena memang sangat mudah untuk dipelajari dan sudah mencakup hampir keseluruhan isi Weda. 

Dengan demikian, hanya dengan mempelajari 1 kitab Smerti saja sebenarnya umat Hindu sudah mengenal isi dari Weda itu sendiri. Disamping itu dari ajaran susila yang merupakan tingkah laku sehari-hari, umat Hindu secara turun temurun sudah diajarkan cara bergerak dan berprilaku seperti yang diajarkan dalam Weda (Misal : Tat Wam Asi, Panca Yadnya, Tri Kaya Parisudha, Tri Hita Karana, Panca Yama & Nyama Bratha, Sad Ripu, dll). Hanya saja ada memang sebagian umat yang tidak mengindahkannya disebabkan karena nafsu duniawinya terlalu tinggi sehingga mereka lupa tentang ajaran turun temurun yang sudah didapatkannya.

Rabu, 13 Januari 2016

Perayaan Tumpek Landep

Tumpek Landep adalah salah satu hari raya agama Hindu di bali berdasarkan pawukon (wuku) yang jatuhnya kurang lebih setiap 6 bulan sekali untuk kalender masehi. Hari raya ini tiba pada saat hari Saniscara Kliwon wuku Landep. Arti kata landep dalam hal ini adalah tajam, dimana tajam dalam ini adalah ketajaman pikiran. Jadi pada hari tumpek landep ini diharapkan umat Hindu bisa memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pasupati untuk memberikan ketajaman pikiran dalam memilah sesuatu, baik dalam melakukan perbuatan, perkataan dan berfikir.

Pada jaman dahulu, hari tumpek landep ini digunakan untuk mengasah sesuatu yang tajam secara niskala dalam bentuk senjata, diantaranya adalah keris, tombak,dll. Dan senjata yang diupacarai pun juga bukan sembarang senjata, yaitu senjata yang memang merupakan anugrah dari Dewa. Hal tersebut dilakukan sebagai rasa syukur atas anugrah yang diberikan dan agar tetap diberikan ketajaman dalam memerangi Adharma/ketidak baikan. Tetapi pada masa sekarang keadaan berubah, dimana yang diupacarai adalah mobil, motor, mesin, dan alat teknologi lainnya. Entah dari kapan kebiasaan ini berlangsung yang pasti kebiasaan ini masih terjadi sampai sekarang.

Berdasarkan makna dari tumpek landep sendiri yaitu menajamkan pikiran untuk sesuatu yang lebih baik. Tetapi rasanya tidak ada kaitannya antara ketajaman pikiran dengan mobil, mesin, motor, lalu kenapa umat Hindu malah mengupacarai barang tersebut. Disamping itu barang tersebut adalah buatan manusia sendiri yang berbeda dengan keris jaman dahulu yang memang diperoleh dari hasil bertapa/semedi dan mendapat anugrah dari Dewata sehingga sudah jelas-jelas bahwa senjata tersebut adalah milik dari Dewa. Bahkan ada yang sampai membuat banten gede hanya untuk mengupacarai mobilnya apalagi itu mobil baru. Apakah yang kemudian disembah? Apakah Ida Bethara Avanza atau Sang Hyang Xenia? Makanya hal tersebut menjadi hal perbincangan dari umat lain yang mangatakan bahwa umat hindu, mobil koq disembah. Sungguh miris mendengar hal tersebut. Bahkan ada yang mengatakan kenapa umat hindu mebanten di mobil? Dan sayangnya ada umat hindu yang menjawab karena di mobil ada setannya maka harus dibanteni. Itulah karena makna sebenarnya hari tumpek landep ini tidak dimengerti secara utuh. Seseorang lebih mementingkan hari tumpek landep untuk mengupacarai kendaraan sampai mereka rela mencuci dulu kendaraannya sebelum diupacarai padahal sayangnya pada saat otonan dia sendiri tidak pernah diupacarai. Dimana jelas-jelas dalam diri terdapat atman yang lebih suci tetapi mendapat perlakukan yang lebih rendah dibandingkan dengan kendaraan atau mesin yang dibuat oleh manusia.

Jadi inti sebenarnya dari tumpek landep adalah permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi sebagai Sang Hyang Pasupati agar buana alit/tubuh manusia terutama inti yang terpenting yaitu atman, bisa diberikan ketajaman pikiran agar diperoleh kebijaksanaan dalam melalui kehidupan sehingga bisa menjalankan Dharma. Bukan harus mengupacarai mobil, motor, mesin, komputer, dll. Maka dari itu setiap hari tumpek landep, utamakan dulu penyucian atman sebelum dilakukan upacara yang lainnya.

Senin, 11 Januari 2016

Benarkah Tuhan ada di dalam dan di luar ciptaan-Nya

Salah satu sifat Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi dalam Catur Cadu Sakti yaitu Wibhu Sakti yang artinya Tuhan Maha Ada dan meresapi segalanya, tidak berubah dan tidak terpengaruh (wyapi wyapaka nir wikara), Beliau berada di dalam dan diluar cipataanNya. Bagaimana Tuhan bisa seperti itu?

Seperti kita andaikan air laut di seluruh bumi ini yang terdiri dari berbagai samudera, lautan dan pantainya. Tuhan adalah air laut di seluruh bumi ini. Lalu samudera kita ibaratkan Dewa Tri Murti, lautan/selat kita ibaratkan Dewa-Dewi di nirwana. Sedangkan manusia dan mahluk hidup lainnya adalah titik-titik air laut. Maka walaupun sebutannya berbeda tetap saja tetap saja adalah merupakan laut itu sendiri. Samudera mempunyai luasan terbesar di antara lautan yang ada, begitu pula antara samudera yang satu dengan yang lain satupun tidak ada pembatasnya, begitu juga dengan perairan laut lainnya. Tetapi diantaranya diberikan nama yang berbeda-beda padahal sebenarnya lautan itu semuanya adalah satu. Begitu pula dengan Tri Murti yang kita ibaratkan samudera karena mempunyai sifat kesadaran yang hampir sama dengan Tuhan, padahal Beliau adalah manifestasi Tuhan itu sendiri. Begitu pula dengan Dewa-Dewi lainnya yang mempunyai kesadaran agak kurang dibandingkan Tri Murti yang kita ibaratkan lautan atau selat. Mereka juga adalah manifestasi dari Tuhan seperti halnya lautan/selat adalah merupakan lautan di bumi yang satu.

Lalu bagaimana dengan manusia yang diibaratkan titik-titik air laut. Manusia dan mahluk hidup lainnya di bumi ini sama sekali tidak mempunyai kesadaran tentang Tuhan. Jika kita ibaratkan proses titik-titik air laut ini, maka akan sama dengan perjalanan mahluk hidup rendah di bumi ini. Titik-titik air laut ini akan menguap ke udara dan akan menggumpal menjadi awan, yang nantinya akan menurunkan hujan dan mengalir di sungai atau jalur lainnya yang akan kembali lagi ke laut. Di antara air hujan yang mengalir tersebut tentu saja akan ada yang terperangkap di bumi yaitu masuk ke dalam danau atau bendungan.

Personifikasinya adalah titik-titik air laut yang menguap ini adalah proses pemisahan atman dengan asal utama (Tuhan) dan proses turun hujan adalah lahirnya manusia ke bumi, dan akan mengalir melalui sungai yang artinya sama dengan manusia yang berjalan melalui jalan agama. Air hujan yang sudah melewati jalur sungai yang tepat akan bisa kembali lagi ke laut. Seperti halnya seseorang yang sudah melewati jalan kebenaran dan sesuai dengan prinsip dalam agama (Dharma) akan bisa kembali lagi kepada asal muasalnya yaitu Tuhan (Moksa). Lalu ada juga manusia yang tersesat karena ketidak tahuannya (Awidya) seperti air hujan yang terperangkap di danau yang tidak akan mengalir kemana pun. Lalu bagaimana cara agar air dalam danau itu bisa mengalir? Maka air dalam danau tersebut harus menguap kembali terlebih dahulu dan turun kembali dalam bentuk hujan dan mengalir dalam sungai yang sesuai sehingga dia bisa mengalir ke laut. Sama halnya dengan manusia yang sudah tersesat dan melakukan banyak dosa sehingga dia harus terlahir kembali (Reinkarnasi/Punarbhawa), dan harus bisa melalui jalan kebenaran (Dharma) sehingga bisa menyatu kembali dengan Tuhan.

Air laut tersebut bisa saja menguap dari belahan laut manapun, maka sama dengan manusia yang bisa saja terlahir dari Tuhan itu sendiri, Dewa tertinggi Tri Murti, ataupun Dewa-Dewi lainnya. Maka tidak salah kalau manusia berbakti juga kepada Dewa-Dewi.

Jadi sama seperti lautan di bumi, walaupun disebut samudera hindia, samudera atlantik, laut jawa, selat sunda, dan lain-lain yang karena luasannya berbeda tetap saja itu adalah lautan bumi dan sama sekali tidak ada pembatasnya. Begitu juga Dewa, manusia dan mahluk hidup lainnya walaupun berbeda karena tingkat kesadarannya maka tetap saja asalnya dari Tuhan dan merupakan Tuhan itu sendiri. Laut juga bukan hanya terdiri air laut saja, tetapi juga dipenuhi oleh karang, pasir, palung, dll yang merupakan personifikasi alam semesta ini. Jadi dengan demikian sama seperti lautan yang terdiri dari beraneka ragam, sebagai sumber air terbesar bumi, Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi berada di dalam dan di luar ciptaanNya dan meresapi segala-galanya serta merupakan asal dari segalanya.

Selasa, 08 Desember 2015

Dasar Kepercayaan Agama Hindu

Untuk mejadi suatu keyakinan dasarnya adalah kepercayaan. Dari kepercayaan ini timbul rasa ingin tau dan belajar lebih sehingga apa yang dipercayai itu bisa diterima dengan logis sehingga menjadi suatu keyakinan. Dalam Agama Hindu terdapat 5 dasar kepercayaan yang disebut sebagai Panca Sradha. Dari lima kepercayaan ini sehingga memunculkan berbagai materi pengetahuan yang akhirnya menjadi pedoman hidup umat Hindu dalam melaksanakan keseharian dalam hal berkeTuhanan dan bergaul dengan sesamanya serta alam. Kelima dasar kepercayaan atau disebut sebagai Panca Srada itu adalah :

  1. Percaya dengan adanya Brahman
  2. Percaya dengan adanya Atman
  3. Percaya dengan adanya Karma Phala
  4. Percaya dengan adanya Punarbhawa
  5. Percaya dengan adanya Moksa
1. Percaya dengan adanya Brahman

Brahman adalah jiwa Maha Tunggal/Maha Besar/Maha Tau dan Maha Sempurna sesempurna-purnanya serta menguasai segalanya atau kita sebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Waca. Dalam hal ini kenapa kita hanya percaya dengan Brahman, kenapa tidak ditulis percaya dengan adanya Brahman dan Para Dewa Dewi? Jawabannya karena agama Hindu bukan penganut paham politeisme melainkan yang lebih universal yaitu Panteisme. Para Dewa dan Dewi hanyalah manifestasi dari Tuhan berdasarkan fungsinya karena hal yang terpenting di dunia ini adalah fungsi dan tugas. Tidak ada seorangpun atau benda apapun di dunia ini yang tidak mempunyai fungsi/tugas. Maka dari itu Tuhan mengajarkan kita bahwa fungsi itu penting melalui diciptakannya para Dewa dan Dewi. 

Dengan adanya dasar kepercayaan kepada Brahman/Tuhan Yang Maha Esa, maka timbul banyak konsep baru/keinginan diantaranya :
  • Keinginan untuk mengetahui bahwa Tuhan itu memang ada yang disebut sebagai Tri Pramana diataranya Anumana, Pratyaksa dan Agama.
  • Rasa memiliki hutang kepada Beliau yang telah menciptakan manusia atau disebut Tri Rna (hutang kepada Tuhan, hutang kepada orang tua, hutang kepada guru yang telah mengajarkan kita).
  • Keinginan untuk melakukan pengorbanan yang disebut Panca Yadnya.
  • dan lain-lain yang akhirnya menciptakan konsep baru lainnya.
Jadi pada dasarnya agama Hindu tidak pernah mengajarkan bahwa kita hanya harus percaya Dewa dan Dewi melainkan kepada Brahman/Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasi beliau sebagai Dewa Dewi. Hanya saja karena dasar pikiran manusia yang masih lemah sehingga sulit untuk menggambarkan bagaimana sebenarnya Brahman tersebut. Maka salah satu cara untuk menghubungkan manusia dengan Brahman adalah melalui penyembahan para Dewa dan Dewi. Berbeda halnya untuk orang yang sudah mempunyai kesadaran tinggi atau sudah memperoleh pencerahan maka tidak akan sulit untuk menghubungkan diri dengan Brahman Sang Pencipta.

2. Percaya dengan adanya Atman

Atman adalah jiwa/roh/badan suksma yang merupakan percikan terkecil dari Tuhan Yang Maha Esa/Brahman sebagai sumber dari segala kehidupan. Itulah sebabnya mengapa sifat-sifat atman sama dengan sifat-sifat Brahman. Hanya saja karena atman adalah merupakan percikan terkecil (atom) maka atman tidak memiliki sifat keesaan seperti yang dimiliki oleh Tuhan. Karena atman inilah semua mahluk hidup di alam semesta bisa hidup. Atman ini kemudian diberi badan kasar (Stula Sarira) sehingga tubuh bisa hidup dan bisa dilihat/dirasa/diraba. Sedangkan para Dewa yang memiliki persentasi keesaan lebih tinggi dibandingkan dengan manusia diberikan badan halus (Suksma Sarira), sedangkan atman itu sendiri sering disebut sebagai Antakarana Sarira. Karena sudah diberikan badan kasar maka atman yang sudah berwujud manusia atau mahluk hidup lainnya, akan mulai harus melalukan rutinitas sebagaimana kehidupan itu misalnya makan, minum, bekerja, olah raga, rekreasi, dan segala aktivitas duniawi lainnya hanya untuk memberikan makanan kepada badan kasar tersebut. 

Kemudian apakah atman itu juga harus diberi makan? Jawabannya iya, tetapi bukan makanan dalam bentuk lahiriah dan materi. Makanan atman adalah sesuatu yang bisa membuat mereka menyatu kembali dengan keEsaan Tuhan dalam bentuk pengendalian diri. Dalam hal ini disebut dengan Panca Yama Brata (pengendalian diri dalam sikap) dan Panca Nyama Brata (pengendalian diri dalam mental) yang masing-masing terdiri dari 5 bagian.

     Panca Yama Brata diantaranya :
  • Ahimsa, artinya tidak membunuh, tidak menyakiti, tidak melukai baik melalui pikiran, perbuatan maupun perkataan
  • Brahmacari, artinya menuntut ilmu sebaik-baiknya khususnya dalam hal pendekatan kepada Tuhan. Masa brahmacari ini bukan hanya dilakukan pada saat masih sekolah saja tetapi masih harus tetap dilakukan sampai akhir hayat karena ilmu pengetahuan itu tidak akan pernah habis.
  • Satya, artinya kesetiaan terhadap apapun yang dilakukan. Satya ini terbagi menjadi 5 yang disebut Panca satya diantaranya satya wacana, satya herdaya, satya laksana, satya mitra, satya samaya.
  • Awyawahara/Awyawaharika, yaitu tidak terikat dengan ketentuan/ikatan keduniawian yang bersifat materi. Dalam hal ini kita diajarkan tentang keserhanaan yaitu tidak bergaya hidup mewah, tidak suka berfoya-foya, tidak sombong dan tidak suka pamer.
  • Asteya artinya tidak mencuri atau mengambil milik orang lain. Segala sesuatu yang sudah menjadi milik seseorang adalah milik dia sendiri. Tidak pantas seseorang mengambil secara paksa ataupun sembunyi-sembunyi apa yang sudah menjadi milik orang lain.
Disamping Panca Yama Brata ini ada juga yang disebut dengan Panca Nyama Brata yang merupakan pengendalian diri tingkat lanjut yang diantaranya :

  • Akroda, artinya tidak marah/tidak mempunyai sifat marah. Sifat marah lebih banyak mengakibatkan hal yang buruk dibanding hal yang baik. 
  • Guru Susrusa, artinya hormat dan bakti terhadap guru. Dalam hal ini bukan artinya hanya hormat kepada guru pengajar di sekolah tetapi hormat kepada Catur Guru.
  • Sauca, artinya kesucian lahir dan bathin. Dalam silakrama disebutkan bahwa tubuh dibersihkan dengan air, jiwa dibersihkan dengan ilmu dan tapa bratha, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan.
  • Aharalagawa, artinya makan yang serba ringan atau tidak rakus. Makan yang berlebihan tidak akan baik pada tubuh karena akan menyebabkan tubuh sakit dan secara tidak langsung akan mempengaruhi kejiwaan. Maka ada semboyan "dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat".
  • Apramada, artinya tidak bersifat inkar terhadap kewajiban. Setiap manusia lahir ke dunia pastilah mempunyai maksud dan fungsi/tugas tertentu. Dengan demikian melakukan kewajiban dengan tulus wajib dilakukan.
Setiap mahluk hidup pasti mempunyai atman tetapi tidak sama karena tingkatannya berbeda dari mahluk terendah sampai ke manusia yang merupakan mahluk tertinggi. Atman pada setiap mahluk hidup mempunyai istilah yang berbeda diantaranya Jiwatman (atman pada manusia), Janggama (atma pada binatang) dan Sthawana (atma pada tumbuhan)

3. Percaya dengan adanya hukum Karma Phala

Karma Phala artinya hasil dari perbuatan yang dilakukan. Apapun yang sudah dilakukan baik melalui perkataan, perbuatan dan pikiran, suatu saat pasti akan mendapat imbalannya. Baik perbuatan yang dilakukan maka baik pula pahala yang didapat dan begitu pula dengan sebaliknya. Tidak ada di dunia ini yang bisa lepas dari hukum ini. Dalam menjalani kehidupan banyak orang beranggapan setiap perbuatan itu tidak akan mempengaruhi pahala yang dia dapat. Maksudnya kalau dia sudah melakukan lebih banyak perbuatan baik ketimbang perbuatan tidak baik maka nantinya dia pasti akan memperoleh hasil yang baik. Namun tidak demikian adanya, karena setiap detail perbuatan kita pasti akan memperoleh ganjarannya. Misalnya dalam kehidupan seseorang 80% melakukan kebaikan dan sisanya adalah perbuatan yang tidak baik. Maka sisa yang 20% dari perbuatanya pastilah tetap akan mendapat imbalan yang tidak baik juga. Tidak ada istilah "Pemutihan Pahala" yang artinya perbuatannya yang tidak baik akan diabaikan karena sudah melakukan lebih banyak kebaikan. Itulah hukum sebab akibat yang tidak akan bisa lepas dan tidak akan bisa dihindari.

Dalam agama Hindu, hukum sebab akibat atau Karma Phala ini terdiri dari 3 bagian yaitu :

  1. Sancita Karma Phala, artinya perbuatan di masa lampau atau kehidupan terdahulu maka hasilnya akan kita terima pada kehidupan sekarang.
  2. Prarabda Karma Phala, artinya perbuatan kita saat ini maka hasilnya akan kita dapat pada saat ini juga.
  3. Kryamana Karma Phala, artinya perbuatan kita di saat ini maka hasilnya akan kita terima pada kehidupan yang akan datang. Dalam hal ini yang akhirnya menyebabkan terjadinya Reinkarnasi/Punarbhawa.
Akibat dari hukum Karma Phala ini akan memperoleh tujuan yang berbeda yaitu apakah orang tersebut akan mengalami reinkarnasi/kelahiran kembali atau bisa mencapai tujuan terakhir yaitu Moksa. Maka dari itu prilaku sangatlah penting demi mencapai tujuan yang lebih baik.

4. Percaya dengan adanya Punarbhawa

Punarbhawa artinya lahir kembali ke dunia atau bereinkarnasi. Punarbhawa ini adalah akibat dari hukum karma phala yang sudah diberlakukan sebelumnya. Seseorang mengalami kelahiran kembali karena belum bisa mencapai pengendalian diri yang baik sehingga harus dilakukan pembenahan lagi sehingga menjadi lebih sempurna. 

Banyak pertanyaan sering saya dengar, kalau memang punarbhawa ini benar adanya, kenapa jumlah manusia bertambah sedangkan dosa mereka sebenarnya juga bertambah. Jadi banyak yang beranggapan bahwa Punarbhawa itu tidak mungkin karena kalau bertambah terus, lalu siapa itu yang lahir kembali?
Dalam hal ini banyak orang gelap mata bahwa mereka hanya hidup dalam kelompoknya saja. Tidak memikirkan bahwa ada mahluk hidup lain selain manusia yang mempunyai atman juga yaitu binatang dan tumbuhan. Secara kasat mata untuk saat ini kita sudah bisa melihat bagaimana populasi binatang maupun tumbuhan yang sudah berkurang dari belahan dunia. Lalu kemana perginya mereka (binatang & tumbuhan) yang sudah mati tersebut? Apakah kita hanya melihat bagian kasarnya saja bahwa binatang yang mati itu sudah menjadi santapan manusia dan tumbuhan yang ditebang itu sudah menjadi rumah bagi manusia? Padahal sudah jelas dalam agama Hindu bahwa mereka juga memiliki jiwa. Maka dari itu jiwa merekalah lahir kembali menjadi mahluk yang lebih tinggi yaitu manusia. 
Apakah benar binatang bisa lahir menjadi manusia? Jawabannya adalah bisa. Binatang bahkan bisa mempunyai jumlah dosa yang jauh lebih sedikit dibanding manusia maka wajar mereka bisa mencapai kehidupan yang lebih tinggi yaitu terlahir kembali sebagai manusia. Dan bahkan malah sebaliknya kebanyakan manusia bisa saja terlahir kembali menjadi mahluk yang lebih rendah karena banyaknya dosa yang mereka perbuat.

5. Percaya dengan adanya Moksa

Moksa artinya kebebasan yang kekal dan tiada akhir dimana atman bisa bersatu kembali dengan Sang Pencipta/Brahman/Ida Sang Hyang Widi dan merupakan tujuan terakhir. Tidak akan ada lagi kelahiran kembali. Tingkatan moksa ini terbagi dalam 3 golongan yaitu :

  • Moksa, artinya kebebasan yang dicapai seseorang tetapi masih meninggalkan badan kasar.
  • Adi Moksa, artinya kebebasan yang dicapai seseorang tetapi masih meninggalkan sisa berupa abu.
  • Parama Moksa, artinya kebebasan yang dicapai seseorang tanpa meninggalkan bekas.
Apapun jenis moksa yang telah dicapai artinya adalah sama walaupun dia meninggalkan bekas ataupun tanpa bekas karena pada intinya seseorang sudah bisa mencapai kebebasan tertinggi yaitu manunggal dengan Brahman.

Itulah kelima dasar kepercayaan dalam agama Hindu yang menjadi tolak ukur dalam menjalani kehidupan beragama Hindu. Dari kelima Sradha tersebut kenapa tidak ada surga dan neraka? Apakah agama Hindu tidak percaya dengan surga dan neraka? Jawabannya, agama Hindu percaya dengan adanya surga dan neraka tetapi tidak menjadi dasar kepercayaan atau suatu tujuan karena surga dan neraka hanyalah gambaran situasi yang sebenarnya ada di dunia fana ini. Saat kita senang itulah surga dan saat kita susah itulah neraka. Jadi konsepnya sangat berbeda dengan agama lain yang tujuan akhirnya adalah surga dan neraka.