Minggu, 09 November 2014

Hindu Menyembah Banyak Dewa

"Hindu menyembah banyak dewa, lalu dewa apakah yang harus saya sembah?"
Setiap dewa mempunyai sifat dan fungsi masing-masing, dan yang paling penting apapun dewa tersebut sebenarnya adalah sama. Tuhan memanifestasikan diri kedalam 3 dewa yang disebut Tri Murti sebagai dewa utama. Dari Tri Murti masing-masing menciptakan dewa lainnya untuk membantu mengatur roda dunia agar tetap terkendali dan berjalan sebagaimana mestinya.

Menyembah salah satu Tri Murti artinya menyembah seluruh Tri Murti, jadi tidak masalah kalau kita mengagumi salah satu bentuk dari Beliau karena pada dasarnya adalah sama. Dan menyembah Tri Murti artinya sama dengan menyembah Brahman/Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi yang utama.

Bagaimana kalau kita menyembah salah satu dewa yang bukan merupakan dewa utama?
Hal ini juga pada akhirnya juga sama. Seperti contoh kita adalah seorang nelayan, yang pastinya  memohon kepada Sang Hyang Baruna yang artinya sama dengan menyembah Dewa Wisnu sebagai penguasa lautan. Sebagai pelajar kita memohon kepada Dewi Saraswati yang artinya kita juga memohon kepada Dewa Brahma, atau kita memohon perlindungan kepada Sri Ganesha yang artinya kita memohon kepada Dewa Siwa, yang mana pada akhirnya kita akan tetap memohon kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi. Dalam Bhagawad Gita disebutkan :

"Orang yang menyembah para dewa sebenarnya adalah menyembahKu hanya saja mereka melakukannya dengan cara yang keliru."

Perbedaanya terletak pada anugrah yang didapat. Tuhan sama sekali tidak mengharapkan imbalan apapun ataupun memberikan imbalan. Tuhan hanya menerima siapapun yang sudah bisa melepaskan diri dari keinginan ataupun ikatan apapun dan akhirnya bisa bersatu dengan Beliau. Jadi kalau kita memohon sesuatu yang akan memberikan anugrah adalah para Dewa karena fungsi dari dewa selain mengatur roda kehidupan tetapi memberikan anugrah. Seperti yang dikutip dalam Bhagawad Gita sebagai berikut :

"Orang yang menyembah para dewa akan hidup di dunia para dewa, sedangkan orang yang menyembahKu akan mencapai duniaKu"

Maksud dari sloka di atas adalah karena manusia masih memiliki keinginan sehingga cenderung memohon kepada dewa agar diberikan anugrah, sehingga mereka belum bisa terbebas dari belenggu duniawi. Jadi intinya hendaknya kita harus bisa membebaskan diri dan memuja kebesaran Tuhan tanpa memohon atau mengharapkan apapun. Segala sesuatu diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak ada lagi yang perlu disampaikan selain rasa syukur sehingga kita bisa bersatu dengan Beliau.

Jadi dapat disimpulkan apapun dewa yang disembah pada intinya sama, yang penting disesuaikan dengan fungsi masing-masing atau tergantung kekaguman kita terhadap salah satu dari Tri Murti. Tetapi hendaknya segala sesuatu harus dilakukan secara tulus ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun apabila tujuannya adalah untuk mencapai moksa (bersatunya atma dengan Tuhan).


Konsep Ketuhanan dalam Agama Hindu

"Agama Hindu adalah agama politheisme yang menyembah banyak Tuhan?". Hal ini sering saya dengar dari saudara beda agama yang mungkin belum mengerti tentang konsep ketuhanan dalam Hindu. Dengan demikian maka sering muncul pemikiran yang cenderung merendahkan karena ketidakjelasan Tuhan mana sebenarnya yang disembah. Padahal sebenarnya Hindu bukanlah agama monotheisme, politheisme, atheisme ataupun lainnya. Konsep agama Hindu adalah Panteisme yaitu agama universal (satu Tuhan untuk semuanya).

Kenapa Agama Hindu disebut Panteisme? Memang terdapat perbedaan dalam proses tata cara penyembahan dan bahkan perbedaan nama Beliau yang disembah sesuai dengan alirannya tetapi sebenarnya mereka tetap menyembah satu Tuhan yang disebut Brahman/Ida Sang Hyang Widhi Wasa dikarenakan Beliau mempunyai banyak gelar seperti yang disebutkan oleh sloka-sloka berikut :

"Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangruwa" yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu, tidak ada Dharma/Tuhan yang lainnya.

"Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadhanti" artinya Tuhan hanya satu, tetapi para resi bijaksana menyebut Beliau dengan banyak nama.

Berbeda dengan monotheisme yang hanya menyembah satu Tuhan, tetapi sayangnya hanya berpihak pada satu kelompok saja, sedangkan kelompok lain adalah kaum musuh yang harus dibasmi. Atau paham politheisme yang jelas-jelas menunjukkan perbedaan dan penyembahan berhala.

Lalu siapakah sebenarnya Tuhan dalam Agama Hindu ?
Tuhan dalam agama Hindu disebut Brahman ("bukan Dewa Brahma") atau di Bali biasa disebut Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang artinya Tuhan yang maha besar dan tahu segalanya. Segala sesuatu tentang Brahman/Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak secara gampang bisa kita pahami kecuali kita sudah memiliki hati yang tulus, bijaksana dan tidak memiliki keterikatan terhadap apapun masalah keduniawian dikarenakan sifat-sifat beliau. Sifat-sifat Beliau banyak disebutkan dalam kitab suci. Dalam Weda disebutkan 4 sifat kemahakuasaan dari Tuhan yang disebut Cadu Sakti yang diantaranya :

  1. Wibhu Sakti : Tuhan Maha Ada yang memenuhi dan meresapi seluruh bhuana/dunia dan berada dimana-mana, tidak terpengaruh dan tidak berubah ("Wyapi Wyapaka Nir Wikara") dan tidak ada tempat yang kosong bagi Beliau karena beliau memenuhi segalanya. Beliau ada di dalam dan di luar ciptaan-Nya.
  2. Prabhu Sakti : Tuhan Maha Kuasa yang menjadi raja dari segala raja (Raja Diraja),  yang menguasai segalanya baik dalam hal penciptaan (Utpetti), pemeliharaan (Stiti), dan Pelebur (Prelina). 
  3. Jnana Sakti : Tuhan Maha Tahu yang mengetahui segala sesuatu yang terjadi baik di alam nyata maupun tidak nyata, yang terjadi di masa lampau(Atita), yang sedang terjadi (Nagata), ataupun yang akan terjadi (Wartamana).
  4. Krya Sakti : Tuhan Maha Karya yang setiap saat tidak pernah berhenti melakukan aktifitas baik dalam penciptaan, pemeliharaan, pelebur, pengawasan, penjagaan, sutradara dalam sandiwara kehidupan (demi memberikan pembelajaran dan pengetahuan) dan segala aktifitas lainnya.
Disamping sifat kemahakuasaan di atas, Tuhan/Brahman/Ida Sang Hyang Widhi juga memiliki sifat sebagai berikut seperti yang disebutkan dalam kitab Wrhaspati Tattwa yang disebut sebagai Asta Iswara yang diantaranya :
  1. Anima : Tuhan bagaikan setiap atom yang mempunyai kehalusan yang bahkan lebih halus dari partikel apapun
  2. Lagima : Sifat Tuhan yang sangat ringan bahkan lebih ringan dari ether
  3. Mahima : Dapat memenuhi segala ruang, tidak ada tempat kosong bagi Beliau
  4. Prapti : Segala tempat bisa dicapai,  Beliau dapat pergi kemanapun yang dikehendaki dan Beliau telah ada.
  5. Prakamya : Segala kehendakNya akan selalu terjadi.
  6. Isitwa : Tuhan merajai segala-galanya, dalam segala hal yang paling utama
  7.  Wasitwa : Menguasai dan dapat mengatasi apapun.
  8. Yatrakamawasayitwa : Tidak ada yang dapat menentang kehendakNya.
Adapun sifat-sifat Tuhan yang merupakan sumber dari segala kehidupan (Parama Atma) adalah :
  1. Achintya : tak terpikirkan
  2. Awikara : tak berubah-ubah
  3. Awyakta : tak terlahirkan.
  4. Achodya : tak terlukai oleh senjata
  5. Adhaya : tak terbakar oleh api
  6. Akledya : tak terkeringkan oleh angin
  7. Achesyah : tak terbasahi oleh air
  8. Nitya : kekal abadi
  9. Sarwagatah : ada dimana-mana
  10.  Sthanu : tak berpindah-pindah
  11. Acala : tak bergerak
  12. Sanatana : selalu dalam keadaan sama
  13. Atarjyotih : maha sempurna sesempurna-purnanya.
Dengan adanya sifat-sifat Beliau seperti di atas sangatlah sulit bagi orang awam untuk bisa mengerti dan memahami Tuhan kecuali kita sudah memiliki keyakinan teguh, berusaha untuk memahami dan menghayati keberadaan Beliau, melepaskan semua ikatan terhadap keinginan duniawi, dan memasrahkan sepenuhnya untuk Beliau.

Lalu apakah fungsi Dewa-Dewi? Apakah mereka bukan Tuhan?
Dewa berasal dari kata "Div" yang artinya sinar suci dari Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi. Dewa  adalah belahan dari Tuhan yang mana sebenarnya sama dengan mahluk lainnya termasuk manusia yang merupakan percikan terkecil dari Beliau karena Beliau adalah sumber dari segala kehidupan hanya saja Dewa berbentuk Sarira/roh/atma yang mempunyai sifat dan kemahakuasaan yang hampir sama dengan Tuhan. Diantara nama Dewa-Dewa yang ada hanya ketiga dewa yang mempunyai sifat yang mendekati sama dengan Tuhan diantaranya Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa sehingga ketiga dewa tersebut dijadikan dewa tertinggi dalam agama Hindu yang disebut Tri Murti.

Fungsi para dewa adalah untuk mengatur jalannya roda kehidupan baik dalam penciptaan, perjalanan waktu, dan peleburan serta proses setelah kematian. Mereka juga membantu makluk lainnya termasuk manusia untuk bisa mengerti konsep ketuhanan dan mengatur tatatan hidup manusia. Sehingga secara tidak langsung mereka adalah wakil dari Tuhan yang mengatur segala kehidupan sesuai dengan tugasNya masing-masing dan juga sebagai penghubung antara Tuhan dengan ciptaanNya. Dengan kata lain apabila manusia melakukan persembahan kepada salah satu dewa maka sama artinya mereka menyembah Tuhan dan dewa lainnya karena mereka semua adalah satu tetapi berbeda karena fungsinya. Sama halnya dengan kita sendiri, dengan menjaga diri sendiri dan menghormati orang lain artinya juga kita menjaga dan menghormati Tuhan karena Tuhan juga bersemayam dalam diri manusia.

Jika diibaratkan dalam sebuah perusahaan besar, Tuhan adalah sebagai pemilik perusahaan dan Tri Murti adalah Owner Representative, Dewa Indra yang merupakan raja dari para dewa adalah sebagai General Manager dan dewa-dewa lainnya sebagai departement head/manager. Dan disini manusia adalah staff yang harus tetap tunduk dan patuh terhadap atasan. Seorang staff sangatlah susah untuk bertemu langsung dengan pemilik perusahaan sehingga mereka harus menggunakan penghubung yaitu atasannya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Hindu tidak menganut paham monotheisme, politeisme, atheisme tetapi panteisme yang bersifat universal sehingga Hindu bisa menyatu dengan unsur daerah manapun tanpa adanya perselisihan sehingga penyebaran agama Hindu tidak pernah sekalipun dilakukan melalui kekerasan. Hindu tetap menyembah satu Tuhan yang disebut Brahman/Ida Sang Hyang Widhi hanya saja karena sifat dan kemahakuasaan Beliau sangat sulit untuk bisa dipahami akal manusia yang masih sangat terbatas sehingga manusia lebih cenderung untuk menyembah Dewa-Dewa yang sebenarnya sama artinya dengan dengan menyembah Tuhan.

Konsep Ketuhanan Agama Hindu Bagian 2 - Saguna dan Nirguna Brahman

Senin, 15 September 2014

Agama Diibaratkan Sebagai Orang Tua

Berbicara tentang agama adalah sesuatu yang sangat sensitif, karena jika ada salah satu pihak yang merasa sakit hati karena pihak lain akan mengakibatkan pemberontakan yang akan berakibat fatal. Agama merupakan pedoman dan tuntunan dalam menjalankan kehidupan. Jadi dalam situasi apapun dalam tingkah lakunya selalu berasaskan pada ajaran agama.

Manusia lahir, hidup dan mati dari Agama, karena itu agama bisa dikatakan sama seperti orang tua. Orang tua yang melahirkan anaknya, kemudian memberikan tuntunan sampai dia bisa hidup sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Disebutkan lahir dari agama karena setiap manusia yang percaya akan kebesaran Tuhan akan memeluk suatu agama yang sangat diyakininya. Walaupun kita terlahir dari orang tua, tetapi tanpa adanya kebesaran dari Tuhan YME, manusia tidak akan bisa tercipta. Setelah kelahirannya, manusia akan dituntun dengan ajaran-ajaran sebagaimana tertera dalam kitab sucinya. Jadi bisa dilihat, suatu ajaran agama yang memang mengandung unsur kebenaran pasti dapat dilihat dari tingkah laku pengikutnya. Apapun yang diajarkan orang tua kepada anaknya pasti akan tetap melekat dan tetap dilakukannya karena sudah terdoktrin seperti yang diajarkan, Begitu pula dengan agama, apapun yang diajarkan dalam kitab suci, pasti akan tetap melekat yang tentunya akan menentukan masa depan tingkah laku manusia apakah akan selalu menjunjung kebenaran atau melakukan kebiadaban.

Seorang anak yang mempunyai orang tua yang berbudi luhur pastinya mempunyai anak yang baik, sedangkan anak yang mempunyai orang tua yang keji, anaknya pasti akan mengikuti orang tuanya yang berbuat keji pula. Orang tua dalam hal ini bukan dalam arti sempit yang hanya berarti yang melahirkan kita, tetapi orang yang mengasuh dan memelihara kita juga disebut orang tua. Begitupun dengan agama. Suatu agama yang mengajarkan Darma (kebenaran) pasti akan membuat manusianya menjadi berbudi luhur dan baik hati. Tetapi kalau dalam agama sudah mengajarkan kekerasan dan dendam, menghasilkan manusia yang beringas, keji, pemberontak.

Seorang anak yang terlahir dari orang tua mempunyai hutang kepada orang tua yang melahirkannya. Dengan demikian seorang anak wajib untuk mengikuti semua aturan dan perintah orang tua. Agama pun demikian. Manusia juga mempunyai hutang kepada Tuhan yang telah menciptakannya berserta dengan alam semesta. Sehingga manusia wajib untuk memuja Tuhan dengan berbagai pengorbanan yang memang layak untuk dilakukan.

Kita tidak bisa memilih orang tua sesuka kita karena bagaimanapun seorang anak pasti terlahir dari orang tua. Berbeda dengan agama yang memang akan dipilih oleh seorang manusia apabila sudah sesuai dengan keyakinannya. Dalam hal ini, kebijakan dalam memilih suatu ajaran yang memang murni dan mengandung kebenaran serta bisa dijadikan panutan sangat diperlukan.

Rabu, 26 Februari 2014

Makna Cerita "MAHA BHARATA" di Kehidupan Saat Ini

Maha Bharata adalah sebuah kisah yang ditulis oleh Bhagawan Byasa atau Maharesi Wyasa yang mengisahkan kehidupan Pandawa dengan Korawa sedari kecil sampai dewasa dan akhirnya timbul perselisihan yang mengakibatkan terjadinya pertempuran antara kedua belah pihak. Padahal sebenarnya mereka adalah saudara sedarah yang seharusnya hidup rukun satu sama lain tetapi malah terlibat perang. Dalam pertempuran ini, masing-masing pihak berperang demi mempertahankan kehormatan, tahta dan juga menuntut keadilan.

Sama halnya dengan kehidupan saat ini, dimana masih saja ada saudara satu darah apakah itu sepupu atau bahkan saudara kandung yang terlibat permusuhan. Biasanya yang menjadi akar permasalah yang paling populer adalah hak tentang warisan, dimana kalau sudah menyangkut masalah ini, seseorang bagaikan sudah kehilangan akal sehat dan tidak akan mengenali mana saudara dan mana lawan. Sehingga timbullah sifat iri hati dari satu pihak yang merasa tidak mendapat keadilan.

Disamping karena masalah warisan, sifat iri hati tersebut timbul karena ketidak senangan apabila melihat saudara lain yang sukses, maka mulailah timbul pikiran-pikiran kotor yang akan menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan orang lain yang bahkan bisa berakibat fatal bagi yang dijatuhkan.

Sungguh sangat disayangkan apabila hal tersebut bisa terjadi. Bagaimana kita sebagai saudara yang seharusnya saling membantu dan saling mendukung bisa saling adu jotos satu sama lain. Tetapi walaupun demikian Tuhan tidak akan pernah tinggal diam. Sama halnya dalam cerita Maha Bharata dimana Sri Krisna yang merupakan perwujudan dari Tuhan YME hadir untuk membantu pihak Pandawa. Seperti kita ketahui bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Korawa bertolak belakang dengan sifat yang dimiliki oleh Pandawa. Pihak korawa memiliki sifat angkuh, rakus, sombong, iri hati. Berbeda dengan Pandawa yang memiliki sifat lembut, hormat dan patuh, suka menolong dan selalu menjalankan Dharma sehingga Tuhan pun akan berada di pihak mereka yang pada akhirnya kemenangan bisa diraih.

Dengan demikian bisa disimpulkan walaupun seandainya kita berada dalam situasi yang sama seperti dalam cerita Maha Bharata tersebut, hendaknya kita tetap memegang teguh kebenaran (dharma) dan bukannya selalu merasa diri benar. Karena dalam situasi tersebut Tuhan akan selalu membantu umatnya yang berada dalam posisi tertindas tetapi masih memegang teguh kebenaran.

Walaupun demikian hendaknya kita harus tetap berusaha memegang teguh persaudaraan agar tidak terjadi perselisihan. Maka dari itu sangat diperlukan sikap saling mengerti dan menghormati satu sama lain. Bukankah kita akan merasa lebih nyaman apabila memiliki saudara yang rukun daripada memiliki saudara yang menjadi musuh.

Senin, 07 Oktober 2013

Tujuan Hidup Manusia

Sebagian besar orang jika ditanyakan masalah tujuan hidup pastilah jawabannya sama. Mayoritas orang ingin menjadi orang kaya sehingga semua keinginannya tercapai, menduduki jabatan yang tinggi agar dihormati, bahkan agar bisa mencapai surga sebagai tujuan akhiratnya. Tetapi segala sesuatu itu tidak ada artinya apabila semua yang didapat tidak sesuai dengan filsafat kebenaran. Terkadang mereka bangga dengan apa yang telah dicapai walaupun itu adalah hasil dari kejahatan/sesuatu yang tidak baik.

Tingkatan tujuan hidup sebenarnya memiliki aturan yang harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Dalam agama Hindu tujuan hidup bukan hanya mencari kekayaan kemudian melakukan kebaikan agar bisa mencapai surga. Walaupun itu ada benarnya tetapi itu bisa dikatakan kategori salah besar. Kenapa demikian? Karena pencarian tujuan terutama kekayaan kalau tidak ada yang melandasinya artinya sama saja dengan omong kosong. Maka dari itu dalam agama Hindu kita kenal istilah Catur Purusha Artha yakni 4 tujuan hidup manusia. Dengan berdasarkan Catur Purusha Arta diharapkan "Moksartam Jagat Hita Ya Ca Iti Dharma" yaitu kebahagian yang kekal dan abadi di dunia dan akhirat bisa terwujud.

Keempat tujuan hidup (Catur Purusha Artha) diantaranya :

1. Dharma
Dharma (ajaran pokok kebenaran) diletakkan paling awal dan utama karena menjadi dasar dari segala prilaku. Apapun yang kita lakukan hendaknya selalu berasaskan kebenaran dan prilaku yang baik. Jika segala sesuatu dilakukan tanpa kebaikan sama saja dengan tidak artinya.

2. Artha
Artha artinya kekayaan dan kekuasaan. Dalam hal ini manusia sebenarnya sudah mempunyai sifat tamak dan rakus. Tetapi karena sudah ada pondasi dharma, maka segala kekayaan dan kekuasaan yang didapat seharusnya didapatkan dari jalan kebenaran. Tidak ada istilah kekayaan itu didapat karena merampok, mencuri, menipu, korupsi, atau kejahatan lainnya. Sama halnya dengan kekuasaan hendaknya diperoleh dengan jalan yang benar dan memang karena kapasitas orangnya yang memang mampu. Bukan karena didapat dari hasil menyuap, menjatuhkan orang lain, dll.

3. Kama
Kama artinya hawa nafsu atau keinginan. Dengan diperolehnya artha/kekayaan sudah pasti muncul keinginan manusia untuk memiliki sesuatu. Dan tentu saja apapun keinginan ini tetap harus berdasarkan dharma. Apabila suatu keinginan itu tidak dilandasi dengan kebenaran/dharma, sudah pasti akan timbul pemikiran-pemikiran kotor dan jahat yang akan mengakibatkan timbulnya kejahatan dan sudah pasti dosa yang akan didapat.

4. Moksa
Moksa artinya bersatunya/kembalinya atman kepada brahman/Tuhan YME sebagai penciptanya. Jadi tujuan akhir hidup ini bukanlah surga karena dalam surga masih diliputi oleh sifat-sifat duniawi. Berbeda dengan Moksa dimana atman dan Tuhan sudah menjadi satu artinya atman sudah mencapai kebebasan tertinggi dan sudah benar-benar lepas dari sifat duniawi.

Jadi apapun tujuan dari manusia itu, hendaknya selalu berdasarkan kepada dharma/kebenaran sehingga dharma akan selalu menjadi yang pertama sebagai dasar dari tingkah laku dalam pencapaian tujuan.

Hari "Pralaya"

Pralaya sering disebut sebagai hari kiamat, tetapi apakah benar pralaya itu sama dengan kiamat? Jawabannya adalah tidak. Bagi umat lain selain Hindu, hari kiamat adalah hancurnya dunia dengan kondisi yang sangat mengerikan dimana digambarkan bumi akan terbelah, gunung-gunung akan meletus, air laut meluap menutupi semua daratan. Tetapi berbeda dengan pralaya yaitu kembalinya semua unsur ciptaan Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan YME kepada penciptanya yaitu Tuhan itu sendiri. Segala yang pernah diciptakan oleh Tuhan YME sudah pasti akan kembali ke asalnya. Jadi dalam Hindu tidak ada istilah hari penghakiman karena justru yang ada adalah hari kebahagiaan sebab semua makhluk sudah tidak diliputi oleh dosa dan bisa manunggal dengan Tuhan YME.

Pralaya akan tiba ketika semua mahluk ciptaanNya sudah memiliki kesadaran yang tinggi akan Dharma (ajaran pokok kebenaran). Disaat manusia mempunyai kesadaran tinggi akan dharma, seluruh ajaran agama dan dharma akan dilakukan dengan sungguh-sungguh sehingga memungkinkan tujuan terakhir agama Hindu yaitu moksa (bersatunya atman dengan brahman/Tuhan) akan bisa tercapai. Apabila semua makhluk Tuhan bisa mencapainya maka tak dapat dipungkiri lagi pralaya sudah pasti akan tiba.

Saat awal penciptaan manusia sebenarnya sudah dibekali dengan akal dan budi luhur yang menjunjung tinggi dharma. Sehingga jaman itu banyak muncul kaum pendeta yang memang mengkhususkan hidupnya untuk menjalankan dharma dan memuja Tuhan. Tetapi karena manusia diliputi oleh sifat Awidya (ketidak tahuan) maka lama-lama dharma mulai ditinggalkan dan sampai saat ini penganut dharma sangat minim. Disamping faktor keminiman itu, walaupun sudah menganut dharma tetapi masih saja belum seratus persen bisa menjalankannya sehingga tujuan moksa belum ada yang bisa mencapainya.

Saat ini manusia sudah mengalami titik kesadaran yang paling rendah. Dilihat dari prilaku manusia yang sudah tidak sesuai dengan norma-norma agama atau dharma. Kasus kejahatan, penodaan agama, pemaksaan kehendak, bahkan tingkah laku abnormal manusia sudah menjadi kebiasaan. Tetapi tanpa kita sadari, kemampuan berfikir manusia sekarang ternyata semakin maju. Anak kecil jaman dulu mungkin setelah SD baru bisa menulis, membaca, menggambar, atau melakukan hal lain yang masih dasar. Tetapi sekarang, bahkan anak kecil sudah memiliki pemikiran yang maju. Itu artinya kesadaran manusia sebenarnya sudah ditakdirkan semakin hari semakin maju. Sekarang tinggal mencari arahan yang tepat kemana mereka akan berlabuh, apakah menuju dharma atau lainnya. Apabila dengan meningkatnya kesadaran ini diimbangi dengan meningkatnya kesadaran akan dharma, sudah dipastikan bahwa hari kembalinya semua ciptaanNya yang disebut pralaya akan segera tiba.


Senin, 09 September 2013

Benarkah Tuhan Itu Ada?

Benarkah Tuhan / Ida Sang Hyang Widhi itu benar-benar ada? Jawabannya pasti akan berbeda sesuai dengan masing-masing individu. Orang yang agamis akan menjawab dengan lantang bahwa Tuhan itu benar adanya dan ada dimana-mana dan semuanya diciptakan oleh Tuhan. Tetapi orang yang Atheis atau komunis akan menjawab berbeda, mereka akan bilang bahwa mahluk tertinggi di dunia ini adalah manusia dan manusialah yang memegang roda kehidupan dunia.

Berdasarkan kasus di atas maka kita lihat dari segi Agama Hindu. Dalam Widhi Tatwa disebutkan ada istilah Tri Pramana yang artinya Tiga jalan/cara/ukuran untuk mengetahui kebenaran sesuatu. Ketiga jalan/cara tersebut antara lain :

1. Pratyaksa Pramana

Artinya jalan untuk mengetahui sesuatu dengan melihat/mendengar/merasakan secara langsung. Dari jalan ini orang sudah tentu tahu tentang kebenaran karena fakta sudah didepan mata sehingga tidak bisa dipungkiri lagi. Jalan ini mungkin tidak semua orang bisa melakukannya karena tidak sembarang orang bisa melihat Tuhan secara langsung. Hanya dengan hati yang suci niscaya kita bisa melihat/mendengar Tuhan. Bagaimana caranya? Dalam kekawin Arjuna Wiwaha disebutkan :

"Sasi wimbha haneng ghata mesi banyu. Ndan asing suci nirmala mesi wulan"

Artinya : Sesuatu yang suci harus dilihat dengan hati yang suci. Bagaikan air dalam tempayang dimana airnya keruh, bayangan bulan tidak akan terlihat. Tetapi dalam air yang bersih bulan akan terlihat jelas.

Setelah satu jalan/cara ini kita lihat, mungkin belum tumbuh keyakinan kita mengenai kebenaran Tuhan karena cara ini sangat sulit untuk dilakukan dan sangat sulit untuk melihat Tuhan secara langsung. Tetapi kita hanya bisa melihat ciptaan Beliau yang tidak mungkin manusia bisa melakukannya.

2. Anumana Pramana

Artinya jalan untuk mengetahui kebenaran dengan berdasarkan logika. Dewasa ini orang sudah banyak menggunakan logikanya jadi saya yakin cara ini pasti bisa dimengerti. Sekarang kita lihat sekeliling kita, pertama dari yang paling dekat yaitu diri kita. Siapakah yang menciptakan kita? Jawabannya sudah tentu orang tua kita. Siapakah yang menciptakan orang tua? Jawabnya kakek dan nenek. Siapakah yang menciptakan kakek nenek? Jawabnya kakek & nenek buyut. Dan jika pertanyaan ini dilanjutkan terus menerus, maka akan ada pertanyaan terakhir yang tidak bisa terjawab. Siapakah yang menciptakan leluhur pertama kita? Nah inilah ada pertanyaan yang harus dijawab di luar nalar kita yaitu ada sesuatu yang diluar batas yang mampu menciptakan manusia.
Kemudian kita lihat contoh lain, Siapakah yang menciptakan Gelora Bung Karno di Jakarta? Sudah tentu jawabannya para arsitek yang dibiayai oleh pemerintah sehingga bisa dibangun stadion yang megah. Kemudian kalau ada pertanyaan siapakah yang menciptakan bumi, matahari, dan seluruh jagat raya? Dan saya rasa tidak ada satupun arsitek/ilmuwan yang bisa menciptakan alam semesta walaupun dibiayai oleh seluruh penghuni bumi sekalipun. Maka akan timbul lagi persepsi bahwa ada sesuatu yang mempunyai kekuatan yang maha dahsyat yang bisa menciptakan seluruh jagat raya yaitu yang kita sebut sebagai "Tuhan".

Jadi saya rasa cara kedua ini pasti bisa diterima oleh semua orang. Karena antara cara pertama dan kedua ini masih 1:1 antara yakin dan tidak, maka ada cara ketiga yaitu Agama Pramana.

3. Agama Pramana

Yaitu jalan/cara untuk mengetahui kebenaran melalui kitab suci agama yang memang diakui kebenarannya. Kitab suci tersebut harus bisa diterima oleh akal sehat, mampu menuntun manusia menjadi lebih baik, isinya memang benar adanya dan bisa memberikan pengetahuan murni. Karena kitab suci ini memang diciptakan oleh para orang suci (orang yang sudah bisa melakukan cara pertama), maka kita yang belum tahu apa-apa ini hanya bisa membanding-bandingkan apakah benar atau tidaknya wahyu yang diterima oleh orang suci tersebut. Dan kalau memang benar isinya sesuai dengan ciri-ciri kitab suci yang saya sebutkan diatas, berarti itu adalah suatu kebenaran seperti misalnya kitab suci Weda.

Berdasarkan ketiga cara/jalan tersebut, maka dengan pasti kita bisa menyimpulkan bahwa Tuhan / Ida Sang Hyang Widhi itu memang benar-benar ada. Dan kita ini hanyalah segelintir kerikil kotor yang walaupun demikian masih saja tetap diperhatikan oleh Beliau karena Beliau Maha Penyayang. Dimana kita sering menunjukkan ketajaman kita tetapi Beliau masih saja menyayangi kita. Dan kerikil tajam ini saya ibaratkan untuk orang-orang yang tidak percaya dengan Tuhan.