Selasa, 26 Juli 2016

Dewa dan Bhatara

Masih banyak orang yang masih bingung dengan perbedaan dari masing-masing kata Dewa dan Bhatara. Terkadang ada yang mengatakan kedua istilah itu sama, tetapi ada juga yang bilang berbeda tetapi walaupun demikian tidak mengerti maksud yang sebenarnya. Dalam agama Hindu, kedua bentuk jiwa tersebut memang memiliki kedudukan tinggi. Untuk lebih jelasnya berikut adalah arti dari istilah-istilah tersebut :

Dewa berasal dari kata "Div" dalam bahasa sansekerta yang artinya bersinar. Jadi Dewa berarti sinar suci dari Brahman/Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Waca. Dewa merupakan jiwa/mahluk suci yang tinggal di nirwana/surga. Musuh para Dewa adalah Asura (raksasa). Walaupun demikian, tidak semua asura adalah jiwa yang jahat demikian juga tidak semua dewa itu memiliki sifat yang baik. Fungsi Mereka adalah mengatur jalannya dunia termasuk kehidupan. Diantara pada dewa yang ada, dewa tertinggi disebut sebagai Tri Murti yaitu Brahma, Wisnu dan Ciwa. Mereka adalah Pencipta, Pemelihara dan Pelebur alam semesta atau diidentikkan sebagai awal, proses dan akhir dari kehidupan. Sedangkan dewa lainnya adalah penguasa unsur dalam alam semesta seperti misalnya Dewa Bayu menguasai unsur angin, Dewa Agni menguasai unsur api, Dewa Baruna menguasai unsur air/laut, Dewi Pertiwi menguasai unsur tanah, dan lain-lain. Dalam Reg Weda disebutkan ada 33 nama dewa diantaranya yang paling banyak disebutkan adalah Indra, Agni, Baruna, Soma. Dewa Baruna sendiri adalah dewa yang juga merupakan asura.

Bhatara berasal dari kata "Bhatr" dalam bahasa sansekerta yang artinya pelindung. Jadi Bhatara adalah jiwa suci yang menjadi pelindung dunia. Di setiap daerah memang memiliki Bhatara yang berbeda-beda. Di Bali sendiri kita mengenal banyak bhatara yang sesungguhnya sudah diketahui bahkan sebelum agama hindu memasuki Bali. Diantara Bhatara yang ada adalah Sang Hyang Sapuh Jagat yang menjaga di persimpangan, Beliau yang bertugas menjaga Bali diantaranya Ratu Niang Sakti, Jero Dukuh Sakti, Ratu Sakti Dalem Ped atau Ida Bhatara Sakti Wawu Rawuh yang menjaga pesisir pantai dan Ida Bhatari Danu yang menjaga Danau, dan lain sebagainya. Asal muasal para bhatara ini adalah memang dari dunia ini baik dari dunia nyata maupun dunia lain. Intinya jiwa yang telah disucikan baik itu jiwa yang berasal dari manusia ataupun mahluk halus, akan menjadi Bhatara. Contohnya leluhur kita yang sudah selesai disucikan dan dilakukan penyembahan terus menerus akan terangkat dengan sendirinya dan menjadi Bhatara. Bahkan penguasa Bali (raja) pada jaman dahulu sebagian besar diangkat menjadi Bhatara dan dibuatkan tempat pemujaan/Pura. Di Bali sendiri banyak dibangun pura untuk melakukan pemujaan kepada Bhatara disamping pemujaan untuk para Dewa, bahkan di setiap rumah terdapat banyak pelinggih/tempat pemujaan yang diperuntukkan untuk para Bhatara misalnya penunggu, pelinggih lebuh, dan merajan yang utamanya adalah memohon perlindungan.

Perbedaan dasar antara Dewa dan Bhatara adalah Dewa merupakan sinar suci dari Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan unsur dasar dari alam semesta sedangkan Bhatara adalah aktifitas Tuhan Yang Maha Esa dalam melindungi alam semesta. Dewa dan Bhatara bisa juga disebut sebagai manifestasi Tuhan karena apapun di dunia ini adalah memang manisfestasi dari Beliau bahkan juga manusia, hewan maupun Tumbuhan karena Tuhan berada di dalam dan di luar ciptaan-Nya.

Apakah Dewa bisa disebut sebagai Bhatara?
Pada dasarnya khususnya di Bali, Dewa memang diidentikkan sebagai Bhatara karena aktifitas Beliau untuk melindungi, akan tetapi orang kadang salah menyebutkan. Contohnya Dewa Wisnu, Beliau yang bertugas sebagai pemelihara alam semesta tidak bisa langsung kita sebut sebagai Bhatara Wisnu. Karena dalam melakukan aktifitasnya Beliau melakukan cara-cara tertentu yang lebih dikenal sebagai Awatara. Maka para awatara inilah yang bisa kita sebut sebagai Bhatara. Contohnya Bhatara Krishna, Bhatara Rama, Bhatara Manu, dll. Contoh lainnya adalah Dewa Ciwa, dalam melakukan aktifitas sebagai pelindung, Beliau bergelar Bhatara Guru. Walaupun insannya sama tetapi kalau aktifitas dan fungsinya berbeda, maka beda juga dalam penyebutan.

Terlihat memang sedikit rumit, kenapa mesti ada sinar suci dan pelindung yang dianggap berbeda tetapi terkadang sama. Kenapa tidak seperti umat lain saja misalnya Islam yang hanya memuja Allah dan memohon perlindungannya atau umat Kristen yang memuja Yesus dan memohon keselamatan darinya. Jadi dalam Hindu semestinya hanya memuja Ida Sang Hyang Widhi/Brahman dan memohon perlindungannya. Tetapi apa yang tertera dalam Hindu, memang seperti itulah cara kerja Tuhan. Sifat Tuhan/Brahman dalam Hindu sangat rumit dan tidak terbatas. Beliau ada dimana-mana (Wibhu Sakti) tetapi tidak bergerak (Acala) dan tidak berpindah-pindah (Sthanu), Beliau ada di dalam dan di luar ciptaan-Nya, Beliau tak terpikirkan (Acintya). Sedangkan dalam Hindu sendiri kita sudah mengenal tentang pembagian fungsi dan tugas baik untuk para Dewa, Bhatara, manusia ataupun mahluk lainnya dan setiap insannya tersebut sudah memiliki tugas yang harus dilakukan. Jadi hal tersebut sebenarnya memang sudah diatur, sehingga dalam dunia nyatapun pembagian tugas ini diadopsi dan dilakukan dalam keseharian yang lebih kita kenal sebagai catur warna.

Apakah salah manusia memuja Dewa dan Bhatara?
Manusia tidak akan salah kalau seandainya melakukan pemujaan kepada para Dewa dan Bhatara. Maksud dari pemujaan tersebut adalah sebagai ungkapan terima kasih dan memohon perlindungan. Tetapi untuk urusan penyerahan diri, maka pemujaan dilakukan kepada Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi.

Selasa, 31 Mei 2016

Saguna dan Nirguna Brahman

Brahman dalam agama Hindu merupakan jiwa yang paling utama yang menyebabkan segala sesuatu di alam semesta ini menjadi ada dan tidak ada. Beliau bersifat kekal, tidak berwujud, tak terbatas, tiada berawal dan juga tiada akhir, menguasai segala bentuk, waktu, ruang, energi serta menguasai alam semesta. Di Bali Beliau dikenal dengan gelar Ida Sang Hyang Widhi yang artinya Dia yang maha tahu. Jadi walaupun berbeda nama, Beliau tetap satu.

Dalam Bhagawad Gita dijelaskan mengenai Brahman beberapa diataranya :
Bab VIII. 3 "Yang Tak Dapat Dihancurkan, Yang Maha Agung disebut Sang Brahman. Svabhava (Sang Jati Diri atau Sang Atman yang bersemayam dalam jiwa kita) disebut Adhyatman. Tenaga (ataukekuatan) kreatif yang menciptakan semua mahluk dan benda disebut Kama."

Bab VIII.4 "Yang menjadi inti dari semua benda dan mahluk (yaitu Adhibhuta) sifatnya dapat binasa. Yang menjadi inti para dewa adalah Jiwa Kosmos. Dan Arjuna, di dalam raga ini, Aku Sendiri (sebagai Saksi di dalam) adalah Adhiyagna."

Bab VIII.9 "Ia memujaNya sebagai Yang Maha Mengetahui, sebagai Yang Selalu Hadir Semenjak Masa Yang Amat Silam, sebagai Yang Maha Penguasa, sebagai Yang Maha Tercepat, sebagai Yang Maha Memelihara kita semua, sebagai Yang BentukNya Tak Dapat Dimengerti oleh manusia dan mahluk-mahluk lainnya, tetapi Ia Terang Benderang bagaikan Sang Surya dan jauh dari semua kegelapan."

Karena sifat-sifat Beliau yang maha tidak terbatas, sehingga sangat sulit bagi manusia yang mempunyai akal dan kesadaran yang bisa dibilang masih sangat rendah untuk bisa memahaminya. Maka untuk bisa mencapai sesuatu yang tidak terbatas maka kita harus mempersempit ketidak terbatasan itu. Contoh: misalnya kita harus mengukur luas suatu bidang (suatu area) yang tidak beraturan, maka kita harus mempersempit bidang tersebut dan dibentuk pola-pola bidang datar yang bisa diukur (misal persegi, segi tiga, trapesium, dll) sehingga nantinya kita bisa menemukan jumlah luas keseluruhan dari bidang tak beraturan tersebut.

Sama halnya dengan Brahman, manusia tidak akan mungkin bisa menggambarkan bagaimana Brahman itu sebenarnya. Lalu bagaimana manusia bisa menggambarkan bentuk Tuhan? Kembali lagi ke kitab-kitab suci agama Hindu dimana telah dijelaskan bentuk-bentuk manifestasi dari Tuhan. Beliau adalah Brahma, Wisnu, Siwa, Indra, Surya, Baruna, Kresna, Ramadewa, dll. Apakah benar jiwa-jiwa tersebut adalah pribadi dari Tuhan? Sesuai dengan sifat-sifat dari Brahman/Tuhan yaitu maha kuasa, maha ada, maha tahu dan maha karya, maka untuk menjadi suatu pribadi tertentu tidak akan sulit bagi Beliau. 

Untuk lebih jelas kita kutip sloka Bhagawad Gita berikut :
Bab X.19 "Jika demikian, baiklah Arjuna! AkanKu sabdakan kepadamu sebagian dari bentuk-bentuk suciKu, tetapi hanya bentuk-bentuk yang telah dikenal dan mudah difahami, karena keberadaanKu tak ada batasnya."
Bab X.20 "Aku adalah Jati Diri, oh Arjuna, Yang bersemayam di dalam hati setiap mahluk. Aku adalah permulaan, Yang ditengah-tengah dan juga akhir dari setiap yang ada."
Bab X.21 "Di antara para Aditya Aku adalah Vishnu; di antara cahaya Aku adalah Sang Surya yang terang-benderang. Di antara para Marut Aku adalah Marici, di antara bintang-bintang Aku adalah sang rembulan."
Bab X.22 "Di antara Veda-Veda Aku adalah Sama-Veda, di antara para dewa Aku adalah Indra, di antara indra-indra Aku adalah pikiran; dan Aku adalah kesadaran di antara para mahluk-hidup."
Bab X.23 "Di antara para Rudra Aku adalah Shankara (Shiva), di antara para Yaksha dan Rakshasa Aku adalah Kubera (dewa kekayaan), di antara para Vasu Aku adalah Agni(dewa api), dan di antara puncak-puncak gunung Aku adalah Meru."
Bab X.24 "Di antara para pendeta (pendeta setiap rumah-tangga), oh Arjuna, kenalilah Aku sebagai Brihaspati, sang pemimpin; di antara jenderal-jenderal di peperangan Aku adalah Skanda; di antara danau-danau Aku adalah Samudra."
Bab X.25 "Di antara para resi yang agung Aku adalah Bhrigu, di antara kata-kata Aku adalah satu patah kata OM, di antara yang dipersembahkan Aku adalah persembahan dalam bentuk japa (mengulang-ulang mantra atau puja-puji kepada Yang Maha Esa, atau bisa juga meditasi yang dilakukan secara diam-diam dan tenang), di antara yang tak dapat dipindah-pindahkan Aku adalah Himalaya."
Bab X.26 "Di antara pepohonan Aku adalah pohon Asvattha, di antara para resi suci Aku adalah Narada, di antara para ghandharva Aku adalah Citraratha, dan di antara yang telah disempurnakan Aku adalah resi Kapila."
Bab X.27 "Di antara kuda-kuda Aku adalah Uchaishvara yang lahir dari air-suci (tirta), di antara gajah Aku adalah Airavata, dan di antara manusia Aku adalah Raja."
Bab X.28 "Di antara senjata Aku adalah halilintar, di antara sapi Aku adalah Kamadhuk, Sapi Kemakmuran; di antara leluhur (nenek-moyang) Aku adalah Kandarpa, Kasih Nan Kreatif; dan di antara ular Aku adalah Vasuki."
Bab X.29 "Di antara Naga Aku adalah Ananta, di antara mahluk-mahluk lautan Aku adalah Varuna, dianatara pitri (arwah leluhur) Aku adalah Aryaman, dan di antara para penguasa Aku adalah Yama, Raja Maut."
Bab X.30 "Di antara Daitya Aku adalah Prahlada, di antara benda-benda yang mengukur Aku adalah Sang Waktu, di antara binatang yang buas Aku adalah raja-hutan (singa), dan di antara burung-burung Aku adalah putra sang Vinata (Garuda)."
BabX.31 "Di antara para penyuci Aku adalah sang Vayu (angin), di antara para pendekar (pahlawan) Aku adalah Sang Rama, di antara ikan Aku adalah Makara, di antara sungai Aku adalah sungai Gangga."

Kenapa diperlukan suatu bentuk? 
Pikiran manusia yang terbatas tidak akan bisa mencapai sesuatu yang tidak terbatas. Maka diperlukan suatu media/bentuk yang bisa menghubungkan atau memusatkan pikiran manusia kepada pribadi yang dipuja (Brahman/Tuhan). Maka dari itu dalam agama Hindu dikenal istilah Saguna Brahman dan Nirgunam Brahman. Saguna artinya memiliki atribut sehingga Saguna Brahman adalah Tuhan yang mempunyai nama, bentuk dan atribut lainnya. Sedangkan Nirgunam artinya tanpa atribut sehingga Nirgunam Brahman adalah Tuhan merupakan jiwa suci yang tidak mempunyai bentuk, tidak punya nama, ataupun atribut lainnya. Untuk lebih mudahnya, seseorang yang memuja Tuhan sebagai Saguna Brahman akan cenderung untuk melakukan pemujaan kepada Dewa-Dewi dan memusatkan pikiran pada pribadi Dewa yang disembah. Sedangkan seseorang yang memuja Tuhan sebagai Nirgunam Brahman tidak akan mempersonifikasikan lagi pribadi Beliau karena sudah mencapai tahap pencerahan tertinggi untuk bisa mamahami dan merasakan kehadiran Brahman.

Seseorang yang tingkat spiritualitasnya masih rendah akan membutuhkan media dalam pemujaannya. Sehingga kebanyakan orang akan memuja Beliau sebagai pribadi yang mempunyai bentuk dan dibuatkanlah simbol baik berupa arca, relief ataupun gambar. Dalam sarana upacaranya juga akan masih memakai persembahan apakah banten, persembahan buah atau makanan, maupun kurban. Sedangkan bagi mereka yang sudah mempunyai tingkat spiritual tinggi, tidak akan memerlukan media apapun karena dia sudah bisa merasakan kehadiran Tuhan sebagai nirguna brahman dan akan mempersembahkan dirinya sendiri. Mempersembahkan diri sendiri dalam hal ini bukan berarti melakukan tindakan bunuh diri demi mempersembahkan nyawanya kepada Tuhan atau berperang atas nama Tuhan. Melainkan melepaskan semua ikatan duniawi. memutuskan semua hubungan/tidak bergantung lagi dengan siapapun, tidak mempunyai nafsu ataupun ambisi apapun, hanya berserah dan selalu memuja Beliau sampai tercapai tujuannya yaitu Moksa.  

Kamis, 19 Mei 2016

Agama Yang Universal

Setiap agama pastinya menyatakan diri sebagai agama yang paling universal. Kalau kita lihat kembali arti dari universal itu sendiri yaitu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, universal artinya yang bersifat umum (berlaku untuk semua orang dan seluruh dunia). Sedangkan dalam Wikipedia, universal berarti konsep yang dipercaya umat manusia tanpa membeda-bedakan apakah manusia itu berkulit hitam, berkulit putih, beragama islam maupun kristen, apakah ia Tionghoa atau orang Amerika atau lebih tepatnya tidak bersifat deskriminatif.

Jadi kalau kita ambil kesimpulan suatu agama bisa disebut universal apabila :

  1. Bisa diberlakukan kepada semua orang dan seluruh dunia.
  2. Tidak membeda-bedakan ras, budaya, golongan, suku
  3. Dapat bercampur dengan budaya lokal tanpa mengubah pola budaya yang ada
  4. Dengan tidak mengubah pola budaya setempat, tetapi bisa menjadi akar filsafat dan menjadi konsep utama.
  5. Memiliki konsep ketuhanan yang universal (Tuhannya tidak membeda-bedakan umatnya walaupun berkeyakinan berbeda).
Karena dalam hal ini kita membicarakan Hindu, maka kita lihat apakah Hindu merupakan agama yang universal atau tidak. Berdasarkan fakta yang ada, masuknya agama Hindu tidak pernah mengubah ataupun merusak budaya lokal. Misalnya di Indonesia, agama Hindu berkembang dengan tetap menjunjung tinggi adat leluhur dan mengkulturasikannya dengan budaya setempat. Tidak ada pemaksaan budaya India harus diterapkan di Indonesia. Sehingga Hindu di Indonesia akan berbeda dengan Hindu di India tetapi mempunyai konsep yang sama yaitu berdasarkan Weda. Bahkan di Indonesia sendiri pola budaya agama Hindu masing-masing daerah juga berbeda karena adatnya yang berbeda.  

Adanya kebangkitan Hindu di beberapa daerah, seolah-olah menunjukkan adanya Balinisasi yang terjadi. Padahal sebenarnya Balinisasi yang terjadi sebagai akibat dari suatu daerah yang memulai lagi agama Hindu dari awal, masih belum mempunyai dasar yang pasti sesuai dengan Tiga Kerangka Dasar agama Hindu yaitu Tatwa, Etika dan Upakara. Maka dari segi upakara, daerah lain sering meniru dari Upakara Bali, sedangkan untuk Tatwa dan Etika masih tetap berpegangan pada budaya awal. Contohnya pakaian sembahyang ke pura di Bali berbeda dengan di Jawa, tetapi upakaranya sama. Karena sudut pandang yang berbeda, maka hal tersebut malah diidentikkan dengan Balinisasi. 

Berdasarkan beberapa sloka dalam Bhagavad Gita di antaranya :

BG IV.7 : "Sesungguhnya dikala dharma berkurang kekuasaannya dan tirani merajalela, wahai Arjuna, saat itu Aku ciptakan diri-Ku sendiri".  

BG IV.8 :"Untuk melindungi orang-orang baik dan untuk memusnahkan orang yang jahat, Aku lahir ke dunia dari masa ke masa untuk menegakkan Dharma". 

BG IV.11: "Bagaimanapun (jalan) manusia mendekati-Ku, Aku terima wahai Arjuna, manusia mengikuti jalan-Ku pada segala jalan". 

Berdasarkan sloka di atas, Hindu mengajarkan bahwa Tuhan bukan hanya melindungi umat seagamanya saja, tetapi berdasarkan karma yang dilakukan. Bahkan Beliau juga tidak membeda-bedakan keyakinan umatnya tetapi menerima jalan apapun yang dilalui melalui Catur Marga Yoga ("Bukan menerima agama apapun"). Dan kalau diteliti lebih dalam lagi, dalam Weda Sruti maupun Smerti tidak satupun ditemukan sloka yang menunjukan bahwa umat Hindu diharuskan untuk memerangi orang yang keyakinannya berbeda. Perang yang malah dianjurkan adalah memerangi Adharma (ketidakbaikan), Kebodohan (Awidya), Sad Ripu (Musuh dalam diri), dan lainnya yang menyangkut prilaku tidak benar. 

Maka dengan demikian, kita sebenarnya sudah bisa melihat keuniversalan Hindu dalam hal ketuhanan maupun kehidupan sosial. Tetapi dalam kehidupan sebenarnya kadang Hindu dianggap memberatkan karena upacara yang besar dan rumit serta menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Padahal itu bukan salah dari ajaran Hindu, tetapi salah adat yang diatur oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab dan egois. Maka dari itu hendaknya umat Hindu bisa sadar diri dan menyadarkan orang lain tentang keuniversalan Hindu tersebut. 

Rabu, 13 April 2016

Kebenaran Hindu

Apakah Hindu adalah agama yang paling benar? Tak satupun dalam Weda ditemukan sloka-sloka yang menunjukkan bahwa Hindu adalah agama yang paling benar. Bahkan kata Hindu tidak satupun ada dalam Weda. Bagaimana sebenarnya Hindu itu lahir dan kapan, belum juga ada yang tahu. Hanya menurut sejarah, ajaran Hindu pertama kali dibawa oleh bangsa Arya ke India pada tahun 1400SM dan itupun bukan bernama Hindu tetapi Sanatana Dharma (kebenaran yang abadi). Kata Hindu didapat dari bangsa Persia yang melihat orang India di seberang sungai Sindhu sehingga disebutlah kata Hindu.

Dalam sejarah, Hindu merupakan agama tertua di dunia. Tetapi ada juga agama lain yang mengklaim bahwa bukan Hindu yang pertama tetapi agamanya karena menyangkut kelahiran manusia pertama yaitu Adam dan Hawa. Sedangkan dalam Hindu sendiri juga disebutkan ada manusia pertama yang disebut Manu yang merupakan beberapa golongan manusia yang terlahir pertama kali saat alam semesta selesai tercipta.

Kalau disimak dari siklus alam semesta, hanya dalam Hindu yang paling lengkap mengenai penciptaan, proses dalam siklus beserta dengan jamannya, serta peleburan alam semesta dalam bentuk maha pralaya. Dalam Hindu, disebutkan ada 4 macam jaman yang disebut Catur Yuga yang diantaranya :

  1. Satya Yuga; merupakan jaman keemasan yang mempunyai masa 1.728.000 tahun, dimulai dari awal penciptaan alam semesta ataupun setelah hari pralaya (masa berakhirnya Kaliyuga sebelumnya). Pada jaman ini karakter manusianya memiliki kesadaran akan dharma, budi luhur, mempunyai moral yang baik, dan kebenaran sangat dijunjung setinggi-tingginya. Tidak satupun ada kejahatan yang dilakukan. Berakhirnya jaman ini akan membawa ke jaman yang baru yaitu Treta Yuga. 
  2. Treta Yuga; merupakan jaman kerohanian mempunyai masa 1.296.000 tahun. Pada jaman ini sifat kerohanian sudah muncul, agama menjadi dasar, orang yang pandai dan memiliki wawasan luas, serta ahli filsafat akan sangat dihormati. Hanya saja kejahatan sudah mulai muncul walaupun sangat sedikit sekali. Berakhirnya Treta Yuga kemudian dilanjutkan dengan Dwapara Yuga.
  3. Dwapara Yuga, merupakan jaman ritual mempunyai masa 864.000 tahun. Pada jaman ini kejahatan dan orang-orang berdosa sudah mulai bermunculan. Kelicikan dan kebohongan sudah mulai terlihat. Orang yang banyak melakukan ritual adalah orang paling dihormati. Jaman ini diidentikkan terjadi pada saat cerita Maha Bharata terjadi sampai sepeninggal Sri Krishna. Berakhirnya Dwapara Yuga maka dimulailah Kaliyuga,
  4. Kaliyuga; merupakan jaman kegelapan mempunyai masa 432.000 tahun. Pada jaman ini kejahatan sudah merajalela, kebohongan, fitnah, tindah kekerasan ada dimana-mana, murid sudah berani melawan gurunya, dharma sudah tidak dianggap lagi. Berakhirnya jaman ini mengakibatkan terjadinya pralaya (kiamat kecil) yang membuat jaman kembali lagi ke Satya Yuga atau bahkan mahapralaya (kiamat besar) yang mengakibatkan kehancuran alam semesta.
Siklus jaman ini terjadi bukan hanya sekali tetapi berkali-kali seperti siklus dalam musim. Satu kali siklus Catur Yuga ini disebut sebagai Mahayuga, sedangkan Mahayuga terjadi sebanyak 71 kali yang disebut satu Manwantara. Setiap Manwantara dipimpin oleh manu yang baru. Setelah terjadi 14 kali Manwantara disebut sebagai satu Kalpa. Satu Kalpa adalah satu hari Brahman atau 1 hari untuk Tuhan. Maka setelah 1 kalpa ini berlangsung maka alam semesta akan dihancurkan (mahapralaya) dan akan dibuat alam semesta yang baru.

Berdasar pada cerita awatara yang terkenal sebagai Dasa Awatara dimana awatara yang pertama adalah Matsya Awatara yang berwujud ikan besar demi menyelamatkan manu dari air bah. Kejadian inilah sebenarnya awal dari Satya Yuga. Kenapa hanya menyelamatkan manu? Seperti kita ketahui setiap Manwantara dipimpin oleh manu yang baru, maka manusia-manusia yang hidup pada jaman sebelumnya (pada masa kaliyuga sebelumnya) yang sudah memiliki akhlak yang buruk akan dibinasakan. Tetapi dalam hal ini sebenarnya tidak semuanya akan dibinasakan. Hanya yang memiliki akhlak buruk saja, tetapi yang masih menjunjung Dharma akan tetap diselamatkan.

Berdasarkan siklus jaman yang ada, Hindu sudah mengetahui akan adanya siklus tersebut. Hal ini berarti ajaran Sanatana Dharma ini memang sudah ada di awal penciptaan, mengingat karena perubahan Mahayuga sebagai akibat dari pralaya, maka asal usul ajaran ini menjadi kabur. Sehingga tidak bisa dipastikan kapan ajaran Weda ini sebenarnya lahir. Ini juga berarti walaupun dengan adanya perubahan siklus jaman ini, Sanatana Dharma masih bisa tetap hidup walaupun mencapai kemunduran sampai akhirnya mencapai kembali masa gemilangnya.

Kalau dikilas lebih lanjut, ajaran-ajaran lain selain Hindu baru lahir setelah masa Kaliyuga, sedangkan kita tahu bagaimana kondisi jaman Kali tersebut. Bukan bermaksud merendahkan ajaran-ajaran lain yang lahir di jaman Kali tersebut, ini tergantung kebijaksanaan kita dalam menelaah ajaran tersebut.  

Selasa, 12 April 2016

Unsur - Unsur Badan Dalam Hindu

Dalam agama Hindu dikenal ada 3 jenis badan yaitu Stula Sarira, Suksma Sarira dan Antakarana Sarira yang disebut sebagai Tri Sarira. Ketiga jenis tubuh inilah yang menjadi kesatuan sehingga manusia bisa hidup dengan selayaknya manusia normal. Apabila salah satu tubuh ini terlepas maka sudah pasti akan terjadi ketidak seimbangan ataupun kematian. Penjabaran dari masing-masing badan tersebut adalah :

  1. Stula Sarira atau badan kasar, merupakan badan yang bisa dilihat, diraba, dirasakan, mempunyai bentuk tetapi tidak memiliki kehidupan.
  2. Suksma Sarira atau badan halus, merupakan badan yang memiliki bentuk, akan tetapi tidak bisa dilihat ataupun diraba dan merupakan letak dari akal dan pikiran manusia. Badan ini diidentikkan dengan roh manusia. Orang yang meninggal akan meninggalkan badan kasarnya dan menjadi roh dan menempati alam Pitara sampai waktunya dia kembali lagi ke dunia. Kenapa menjadi roh, bukan menjadi atman? Buktinya adalah terkadang ada orang yang memiliki kemampuan lebih/indra ke-enam yang mampu membuat orang itu melihat roh orang yang sudah meninggal dimana mempunyai bentuk dan wajah sama seperti saat keadaan masih hidup. 
  3. Antakarana Sarira atau badan penyebab merupakan atman yang merupakan sumber kehidupan dari keseluruhan badan yang ada. Atman mempunyai sifat yang sama dengan asalnya yaitu Paramaatman atau Tuhan Yang Maha Esa. Hanya saja atman merupakan percikan terkecil dari Tuhan sehingga walaupun mempunyai sifat yang sama tetapi tidak sama dalam hal kemampuan. 
Atman dan roh berbeda, roh merupakan suksma sarira sedangkan atman adalah penyebab kehidupan yang mana semua hasil dari karma melekat pada atman ini. Apabila seseorang yang sudah meninggal itu harus kembali lagi ke dunia, maka dia harus melepas suksma sariranya yang lama dan kembali ke dalam bentuk atman, kemudian akan mendapat suksma dan stula sarira yang baru. Makanya dia akan lupa bagaimana dia ada di kehidupan sebelumnya karena akal dan pikiran yang merupakan tempat penyimpanan memory ada pada sukma sarira sebelumnya. Apabila seseorang kehilangan rohnya/suksma sarira, orang itu tetap masih hidup tetapi tidak punya akal dan pikiran lagi dan akan mudah diombang-ambing.

Inti badan yang sebenarnya adalah atman, begitu atman terlepas dari badan kasar dan badan halus, maka kedua badan itu tidak akan diperlukan lagi. Sesuatu yang diciptakan sudah pasti lama kelamaan akan usang termakan usia dan tidak akan bisa digunakan lagi. Seperti diibaratkan sebuah komputer, dimana badan kasar adalah perangkat kerasnya, badan halus adalah perangkat lunaknya/software, dan listrik adalah atman. Apabila ketiga unsur itu berjalan normal, maka anda akan dengan mudah mengoperasikannya. Seandainya ada kerusakan pada perangkat keras, sudah tentu komputer tersebut tidak akan bisa digunakan lagi dan harus dilakukan penggantian alat baru bahkan komputer yang baru. Dan apabila ada kerusakan pada softwarenya, maka komputer itu masih bisa hidup tetapi tidak bisa digunakan. Dan apabila listriknya mati sudah tentu tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.

Jadi sama halnya Tri Sarira dengan perumpamaan di atas, badan kasar yang sudah rusak atau sudah usang sudah tentu tidak akan bisa digunakan lagi. Kalau sebuah komputer rusak mungkin anda bisa buang atau dijual ke tempat barang bekas. Bagaimana dengan tubuh manusia, apakah bisa dijual atau dibuang begitu saja? Tentu saja tubuh manusia tidak serendah komputer yang merupakan buatan manusia. Unsur penciptaan badan kasar terdiri dari 5 macam yang disebut sebagai Panca Maha Bhuta yang diantaranya :

  1. Akasa atau rongga; tanpa adanya rongga segala benda padat/organ tubuh tidak akan bisa diposisikan dan tidak akan ada aliran apapun apabila seandainya sebuah tubuh dipenuhi benda padat. Maka dari itu akasa adalah bagian yang pertama.
  2. Pertiwi atau organ padat; merupakan benda padat/organ-organ tubuh yang digunakan untuk proses pencernaan serta pemerosesan lainnya. Organ tubuh tersebut antara lain hati, paru-paru, jantung, usus, tulang, kulit dan organ padat lainnya.
  3. Bayu atau udara; di dalam rongga sudah pasti ada udara, disamping itu udara juga dibutuhkan untuk proses pernafasan dan pembakaran sehingga menjadi energi. 
  4. Apah atau darah; darah yang mengalir melalui pembuluh akan membantu mengalirkan sari-sari makanan sehingga energi.
  5. Teja atau panas; dari hasil pemrosesan akan mengasilkan panas dan akan menghasilkan suhu yang tetap. Suhu ruangan yang tidak bagus akan berpengaruh pada kondisi tubuh misalnya kalau terlalu dingin akan membuat kita mengalami hypotermia atau kalau terlalu panas akan mengakibatkan dehidrasi. 
Unsur badan kasar ini mempunyai bahan yang sama dengan unsur penciptaan alam semesta. Maka dari itu badan manusia disebut sebagai Buana Alit (Mikrokosmos) dan alam semesta disebut sebagai Buana Agung (Makrokosmos). Hanya saja untuk Buana Agung pengertiannya lebih luas yaitu Akasa merupakan ruang angkasa, Pertiwi adalah planet, bintang, meteor, dll. Bayu merupakan udara, Apah adalah air, dan Teja adalah panas/api dalam inti. Badan kasar yang terdiri dari lima unsur tersebut harus dikembalikan ke asalnya semula sehingga di adakanlah upacara ngaben untuk mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta kembali ke asalnya. Upacara ngaben ini tidak harus dilakukan secara kremasi saja yang penting sudah menggunakan salah satu unsur penciptaannya. Misalnya dikubur yang artinya menggunakan unsur pertiwi/tanah, dihanyutkan yang artinya menggunakan unsur Apah/air (seperti orang India di sungai Gangga). Diantara tata cara ngaben yang ada, kremasi adalah yang utama.


Kenapa kremasi adalah utama dalam ngaben?
Dalam kremasi semua unsur akan kembali dengan cepat. Teja akan kembali ke panas (api), Apah akan kembali ke air (menjadi uap), Bayu akan kembali ke udara, Pertiwi akan kembali ke tanah (abu), dan Akasa akan kembali ke hampa. Dan semuanya kembali dalam waktu yang tidak lama. Itulah sebabnya kenapa umat Hindu sebagian besar melakukan kremasi dalam prosesi upacara ngabennya. Hanya sedikit ada yang melakukan dengan cara dikubur karena desa, kala, patra (tempat, waktu dan kondisi) yang tidak sesuai.

Kremasi memang kelihatan kejam, bahkan banyak non-Hindu mengatakan sangat tidak berprikemanusiaan. Tetapi memang begitulah cara yang paling tepat untuk mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta. Badan kasar sudah tidak bisa digunakan lagi. Roh dan atman juga sudah tidak melekat lagi dalam badan kasar. Maka apapun yang dilakukan pada badan kasar tidak akan mempengaruhi badan halus dan badan penyebabnya. Bahkan dengan dilakukannya hal tersebut akan membantu jiwa/Atman agar segera bisa terlepas dari duniawi dan bisa melanjutkan ke proses selanjutnya.

Rabu, 06 April 2016

Bergesernya Tradisi di Bali Akibat Penjajahan

Tradisi/budaya Bali sebenarnya tidak lepas dari ajaran Weda, hanya saja dengan begitu banyaknya campur tangan akhirnya tradisi yang sudah sesuai dan lengkap akhirnya berubah sesuai dengan keinginan manusia. Salah satu contoh tradisi yang bergeser adalah catur warna yang menjadi kasta. Padahal dalam kitab suci Hindu sudah jelas dituliskan bahwa catur warna adalah pembagian manusia berdasarkan kualitas dan keahliannya. Dan hal ini juga sudah dipertegas oleh sloka Bhagawad Gita IV-13 : "Catur Varna (Warna) adalah ciptaan-Ku, menurut pembagian kualitas dan kerja; tapi ketahuilah walaupun Aku penciptanya, Aku tak berbuat dan merubah diri-Ku".

Pembagian catur warna sendiri adalah

  1. Brahmana : golongan yang mempunyai keahlian di bidang pelaksanaan keagamaan. Golongan ini cocok ditempatkan sebagai pendeta atau sulinggih, pemangku, guru kerohanian.
  2. Ksatria : golongan yang ahli di bidang ke ketatanegaraan, sehingga cocok ditempatkan sebagai pengatur jalannya suatu negara dan pembela negara, misalnya prajurit/tentara, menteri, pemerintah.
  3. Weisya : golongan yang ahli di bidang ekonomi, sehingga cocok ditempatkan sebagai pengatur perekonomian, misalnya pengusaha, pedagang, petani.
  4. Sudra : golongan yang mendedikasikan diri untuk memberikan pelayanan terhadap suatu pekerjaan. Sehingga golongan ini cocok ditempatkan sebagai buruh atau karyawan.
Dilihat dari pembagian beserta dengan maksud yang ada dalam catur warna, sudah jelas sekali ada perbedaan antara catur warna dan kasta. Catur warna lebih mementingkan ke profesi sedangkan kasta lebih cenderung ke wangsa/keturunan.

Bagaimana kasta bisa terbentuk ?
Pada awal kehidupan di Bali bahkan sampai masuknya Majapahit di bali tidak mengenal adanya kasta. Ini terbukti dengan nama-nama orang Bali termasuk petingginya yang tidak menggunakan kata sandang apapun, misalnya Ida Bagus, Gusti Ngurah, I Dewa, dll. Yang menjadi raja ataupun petingginya tidak harus dari keluarga bangsawan atau wangsa tertentu. Seperti contoh di Jawa, Kerajaan Singosari yang dibangun oleh seorang pemuda biasa yang bernama Ken Arok, Kerajaan Majapahit dibangun oleh menantu bekas raja Singosari yaitu Raden Wijaya dan akhirnya juga mendapat seorang patih dari rakyat biasa yang bernama Gajah Mada. Di Bali sendiri semenjak masih dalam masa Kerajaan Bedahulu, rajanya masih menggunakan nama aslinya, misalnya Kesari Warmadewa menjadi Sri Kesari Warmadewa, Ugrasena menjadi Sri Ugrasena, Udayana menjadi Sri Udayana. Jadi hanya ditambahkan kata "Sri" sebagai abiseka bahwa beliau adalah seorang raja. Patih-patihnya pun bernama Ki Kebo Iwa, Ki Pasung Grigis, dll yang hanya dari rakyat biasa. Jadi sudah jelas sekali bahwa jaman dulu Bali tidak mengenal kasta. Tetapi yang dipentingkan adalah keahlian.

Kemudian setelah kedatangan penjajah Belanda dengan politik adu dombanya, direncanakanlah pengkotak-kotakan masyarakat Bali ke dalam sistem kasta. Sistem kasta ini ditiru dari penerapan sistem kasta yang sudah berhasil diterapkan oleh sekutunya yaitu Inggris di India. Maka Belanda juga ingin melakukan hal yang sama terhadap rakyat Bali dan sayangnya berhasil. Akhirnya semenjak itulah Warna (catur warna) disalah artikan menjadi kasta dan mulailah pemakaian kata sandang untuk kaum bangsawan sampai ke keturunannya.

Disamping itu pengkotak-kotakan masyarakat Bali dilakukan juga dalam hal pembagian waris. Pada awal Bali, anak perempuan dan laki-laki mempunyai hak yang sama dalam hal warisan. Perbedaannya hanya jumlahnya yaitu "a suun" (mengangkat dengan kepala) untuk anak perempuan dan "a tegen" (mengangkat dengan bahu) untuk anak laki-laki. Artinya anak perempuan mendapat setengah dari anak laki-laki. Kecuali untuk warisan yang bersifat pusaka keluarga memang harus diserahkan kepada anak laki-laki. Penjajah juga akhirnya menghapus hak-hak anak perempuan dalam hal warisan dan sebagainya.

Begitulah tragisnya perubahan tradisi dalam tatanan masyarakat Bali yang sudah maju dan akhirnya hancur sebagai akibat dari penjajahan Belanda. Untungnya sekarang kehancuran tradisi ini sudah mulai luntur, perbedaan kasta sudah mulai pudar dan persamaan hak antara anak perempuan dan laki-laki sudah mulai diakui. Memang belum semua orang melakukannya, tetapi semoga untuk kedepannya masyarakat Bali bisa kembali lagi ke ajaran Weda yang sesungguhnya.

Selasa, 05 April 2016

Agama Adalah Petunjuk Jalan

Berdasarkan sloka Bhagavad Gita Bab IV-11 "Bagaimanapun (jalan) manusia mendekati-Ku, Aku terima wahai Arjuna. Manusia mengikuti jalan-Ku pada segala jalan". Sebenarnya sloka ini bukan berarti apapun agama yang dianut, berati Tuhan akan langsung menerimanya. Jalan sebenarnya yang dimaksud adalah catur marga yaitu 4 jalan/cara untuk mencapai Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Catur marga terdiri dari :

  1. Bhakti Marga : Jalan untuk mendekatkan diri melalui berbhakti/sembahyang, membaca doa dan kidung suci, mencintai dan menjaga semua ciptaan-Nya.
  2. Jnana Marga : Jalan untuk mendekatkan diri melalui pengetahuan, mengamalkan pengetahuan-pengetahuan suci, membagi pengetahuan suci (yang benar) baik itu tentang saints ataupun spiritual.
  3. Karma Marga : Jalan untuk mendekatkan diri melalui perbuatan, melakukan pekerjaan sebaik-baiknya tanpa mengeluh, membantu sesama mahluk Tuhan, selalu mengamalkan Tri Kaya Parisudha.
  4. Raja/Yoga Marga : Jalan untuk mendekatkan diri melalui jalan yoga, meditasi, pemusatan pikiran dan melepaskan semua ikatan duniawi,
Kemudian apa hubungan agama dengan catur marga ini? Catur marga merupakan cara atau jalan untuk mencapai pendekatan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa, hanya dilakukan melalui 4 cara tersebut. Sedangkan agama merupakan panduan yang menjadi penuntun untuk melaksanakan catur marga tersebut.

Lalu apakah semua agama melakukan catur marga tersebut?
Jawabannya bisa iya bisa tidak. Dalam agama Hindu sendiri sudah jelas filosofi catur marga tersirat dalam Weda, sehingga sudah pasti melakukan apa yang ada dalam catur marga. Dari keempat jalan itu tidak harus semua dilakukan, yang penting selalu diikuti oleh Bhakti Marga. Bisa hanya melakukan Bhakti dan Jnana, Bhakti dan Karma, atau Bhakti dan Raja. Agama Hindu di masing-masing daerah juga melakukan hal yang berbeda. Contohnya agama Hindu di Bali yang melakukan Bhakti dan Karma Marga, agama Hindu di India melakukan Bhakti dan Raja Marga, dan saya sendiri melakukan Bhakti dan Jnana Marga.

Untuk agama selain Hindu, secara tidak langsung sebenarnya juga melakukan catur marga tersebut. Misalnya agama Kristen melakukan bhakti dan karma marga karena yang terpenting adalah perbuatan, agama Budha melakukan bhakti dan Raja marga karena yang terpenting adalah pemusatan pikiran untuk melepaskan ikatan duniawi, dan agama lainnya tergantung cara pandang masing-masing.

Jadi pada dasarnya semua agama sudah menganjurkan untuk melakukan catur marga tersebut hanya saja konsepnya tidak ada. Tuhan tidak memerlukan agama, manusialah yang perlu agama sebagai pemandu untuk melakukan catur marga tersebut. Dengan demikian agama lebih baik disebut sebagai penunjuk jalan. Sekarang tinggal manusianya yang memilih apakah akan mengikuti petunjuk yang salah atau yang benar.

Rabu, 23 Maret 2016

Umat Hindu tidak tahu isi Weda

Sebagian besar umat Hindu di Bali pastinya tidak mempunyai kitab Weda (Sruti) bahkan membacanya tidak pernah. Lalu bagaimana umat Hindu bisa mengerti tentang Weda padahal mereka tidak pernah membacanya. Dalam agama Hindu dikenal dengan tiga kerangka dasar agama Hindu yaitu tatwa (filsafat), etika (susila) dan upakara (upacara). Ketiga kerangka dasar ini saling terhubung satu dengan yang lainnya dimana tatwa adalah ilmu pengetahuannya sebagai bahan acuan, etika adalah tingkah laku dalam lingkungan sosial dan upakara adalah tata cara penghormatan kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi.

Dalam kesehariannya umat Hindu memang jarang mempelajari tatwa, tetapi telah mempraktekkan susila dan upacara sesuai dengan di dalam Weda. Jadi secara tidak langsung umat Hindu sudah melakukan apa yang dituliskan dalam Weda hanya mereka tidak tau makna dari hal-hal yang dilakukannya tersebut. Maka ketika ditanya oleh orang yang belum mengenal, dijawabnya "Nak Mule Keto" (memang begitu adanya) seperti orang Bali bilang.

Untuk mempelajari Weda memang tidak segampang kelihatannya. Berbeda dengan kitab suci agama lain yang sudah jelas dalam pemaknaannya, tetapi di dalam Weda sendiri adalah berupa syair-syair atau nyanyian suci dalam bahasa sansekerta. Sehingga tidak semua orang bisa memahami apa sebenarnya arti dari syair yang ada. Kecuali orang tersebut sudah mencapai tingkat kebijaksanaan tertinggi dan mengerti tentang alam semesta sehingga kebanyakan dari pembaca Weda adalah dari kalangan orang suci atau maharesi.

Weda berarti pengetahuan. Semua pengetahuan tentang alam semesta ada di dalam Weda. Ibarat buku pelajaran, Weda adalah buku tentang pelajaran matematika, IPS, IPA, PPKN, dll dari kelas 1 SD sampai perguruan tinggi. Sungguh banyak ilmu yang bisa digali dalam Weda. Karena banyaknya ilmu yang tersirat dalam Weda, maka Weda dibagi lagi menjadi beberapa bagian, dan dibagi lagi dan dibagi lagi sampai benar-benar jelas dan mudah dipelajari oleh umat Hindu.

Secara garis besar Weda dibagi menjadi 2 bagian yaitu :

  1. Weda Sruti, merupakan wahyu yang secara langsung diterima oleh para maharesi (Sapta Resi) yang kemudian disusun menjadi 4 bagian yaitu Reg Weda, Sama Weda, Yajur Weda, dan Atharwa Weda. Weda Sruti inilah yang merupakan Weda yang asli karena langsung diterima dari Brahman/Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi. Ilmu tentang alam semesta ini sangat sulit diterima oleh otak manusia yang terbatas, karena luas alam semesta yang besarnya tak terkira beserta dengan segala rahasianya tidak akan bisa dicerna dengan mudah dan masuk ke dalam otak manusia yang kecil dan dangkal. Maka dari itu dibuatlah penjelasan dari Weda Sruti yang disebut dengan Weda Smerti.
  2. Weda Smerti, merupakan Dharma Sastra yang isinya bersumber dari Weda Sruti atau lebih jelasnya merupakan buku manual/petunjuk/penjelasan yang sumbernya dari Weda Sruti. Hal ini dilakukan untuk mempermudah umat Hindu dalam mempelajari Weda. Secara umum Weda Smerti terdiri dari 2 bagian yaitu kelompok Wedangga dan Upaweda. 
Yang termasuk kelompok Wedangga adalah
  • Siksa (Phonetika/Ilmu olah vokal), tata cara pengucapan mantra serta tekanan suara
  • Wyakarana (Ilmu tata bahasa), yang memudahkan untuk mengerti isi dari Weda Sruti
  • Chanda (Lagu), lantunan nada menjadi sebuah nyanyian sehingga memudahkan dalam membaca dan mengingat mantra-mantra. 
  • Nirukta, memuat penafsiran otentik tentang kata-kata dalam Weda, berisikan sinomim, antonim, dll.
  • Jyotisa (Imu perbintangan/Astronomi), ilmu tentang tata surya, bulan, ruang angkasa.
  • Kalpa, kelompok wedangga terbesar yang terdiri dari Srauta (tata cara pelaksanaan yadnya), GrhyaSutra (yadnya bagi orang yang sudah berumah tangga), Dharma Sutra (peraturan dan ketentuan dalam bernegara), Sulwasutra (ilmu arsitektur dan tata cara pembuatan tempat peribadatan)
Yang termasuk kelompok Upaweda adalah
  • Itihasa, berisikan kisah kepahlawanan dan peperangan Dharma melawan Adharma (kebaikan melawan kejahatan) antara lain Ramayana dan Mahabharata.
  • Purana, kumpulan cerita kuno yang menceritakan awal penciptaan dunia dan silsilah raja-raja di dunia. Salah satu purana yang paling terkenal adalah Bhagavata Purana.
  • Arthasastra, ilmu pemerintahan dalam bernegara dan ilmu politik
  • Ayur Weda, ilmu tentang pengobatan (medis)
  • Gandarwaweda, ilmu tentang seni (musik, sajak, tari)
Berdasarkan cerita dalam Itihasa terutama Mahabharata, menghasilkan kitab suci yang terkenal yaitu Bhagavad Gita yang disusun Bagawan Wyasa. Disamping itu ada pula kitab Sarasamuscaya yang disusun oleh Bagawan Wararuci dan Manawa Dharma Sastra yang kesemuanya masuk ke dalam kelompok Weda Smerti. Dari seluruh kitab yang ada, yang paling banyak dibaca saat ini adalah Bhagavad Gita karena memang sangat mudah untuk dipelajari dan sudah mencakup hampir keseluruhan isi Weda. 

Dengan demikian, hanya dengan mempelajari 1 kitab Smerti saja sebenarnya umat Hindu sudah mengenal isi dari Weda itu sendiri. Disamping itu dari ajaran susila yang merupakan tingkah laku sehari-hari, umat Hindu secara turun temurun sudah diajarkan cara bergerak dan berprilaku seperti yang diajarkan dalam Weda (Misal : Tat Wam Asi, Panca Yadnya, Tri Kaya Parisudha, Tri Hita Karana, Panca Yama & Nyama Bratha, Sad Ripu, dll). Hanya saja ada memang sebagian umat yang tidak mengindahkannya disebabkan karena nafsu duniawinya terlalu tinggi sehingga mereka lupa tentang ajaran turun temurun yang sudah didapatkannya.

Rabu, 13 Januari 2016

Perayaan Tumpek Landep

Tumpek Landep adalah salah satu hari raya agama Hindu di bali berdasarkan pawukon (wuku) yang jatuhnya kurang lebih setiap 6 bulan sekali untuk kalender masehi. Hari raya ini tiba pada saat hari Saniscara Kliwon wuku Landep. Arti kata landep dalam hal ini adalah tajam, dimana tajam dalam ini adalah ketajaman pikiran. Jadi pada hari tumpek landep ini diharapkan umat Hindu bisa memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pasupati untuk memberikan ketajaman pikiran dalam memilah sesuatu, baik dalam melakukan perbuatan, perkataan dan berfikir.

Pada jaman dahulu, hari tumpek landep ini digunakan untuk mengasah sesuatu yang tajam secara niskala dalam bentuk senjata, diantaranya adalah keris, tombak,dll. Dan senjata yang diupacarai pun juga bukan sembarang senjata, yaitu senjata yang memang merupakan anugrah dari Dewa. Hal tersebut dilakukan sebagai rasa syukur atas anugrah yang diberikan dan agar tetap diberikan ketajaman dalam memerangi Adharma/ketidak baikan. Tetapi pada masa sekarang keadaan berubah, dimana yang diupacarai adalah mobil, motor, mesin, dan alat teknologi lainnya. Entah dari kapan kebiasaan ini berlangsung yang pasti kebiasaan ini masih terjadi sampai sekarang.

Berdasarkan makna dari tumpek landep sendiri yaitu menajamkan pikiran untuk sesuatu yang lebih baik. Tetapi rasanya tidak ada kaitannya antara ketajaman pikiran dengan mobil, mesin, motor, lalu kenapa umat Hindu malah mengupacarai barang tersebut. Disamping itu barang tersebut adalah buatan manusia sendiri yang berbeda dengan keris jaman dahulu yang memang diperoleh dari hasil bertapa/semedi dan mendapat anugrah dari Dewata sehingga sudah jelas-jelas bahwa senjata tersebut adalah milik dari Dewa. Bahkan ada yang sampai membuat banten gede hanya untuk mengupacarai mobilnya apalagi itu mobil baru. Apakah yang kemudian disembah? Apakah Ida Bethara Avanza atau Sang Hyang Xenia? Makanya hal tersebut menjadi hal perbincangan dari umat lain yang mangatakan bahwa umat hindu, mobil koq disembah. Sungguh miris mendengar hal tersebut. Bahkan ada yang mengatakan kenapa umat hindu mebanten di mobil? Dan sayangnya ada umat hindu yang menjawab karena di mobil ada setannya maka harus dibanteni. Itulah karena makna sebenarnya hari tumpek landep ini tidak dimengerti secara utuh. Seseorang lebih mementingkan hari tumpek landep untuk mengupacarai kendaraan sampai mereka rela mencuci dulu kendaraannya sebelum diupacarai padahal sayangnya pada saat otonan dia sendiri tidak pernah diupacarai. Dimana jelas-jelas dalam diri terdapat atman yang lebih suci tetapi mendapat perlakukan yang lebih rendah dibandingkan dengan kendaraan atau mesin yang dibuat oleh manusia.

Jadi inti sebenarnya dari tumpek landep adalah permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi sebagai Sang Hyang Pasupati agar buana alit/tubuh manusia terutama inti yang terpenting yaitu atman, bisa diberikan ketajaman pikiran agar diperoleh kebijaksanaan dalam melalui kehidupan sehingga bisa menjalankan Dharma. Bukan harus mengupacarai mobil, motor, mesin, komputer, dll. Maka dari itu setiap hari tumpek landep, utamakan dulu penyucian atman sebelum dilakukan upacara yang lainnya.

Senin, 11 Januari 2016

Benarkah Tuhan ada di dalam dan di luar ciptaan-Nya

Salah satu sifat Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi dalam Catur Cadu Sakti yaitu Wibhu Sakti yang artinya Tuhan Maha Ada dan meresapi segalanya, tidak berubah dan tidak terpengaruh (wyapi wyapaka nir wikara), Beliau berada di dalam dan diluar cipataanNya. Bagaimana Tuhan bisa seperti itu?

Seperti kita andaikan air laut di seluruh bumi ini yang terdiri dari berbagai samudera, lautan dan pantainya. Tuhan adalah air laut di seluruh bumi ini. Lalu samudera kita ibaratkan Dewa Tri Murti, lautan/selat kita ibaratkan Dewa-Dewi di nirwana. Sedangkan manusia dan mahluk hidup lainnya adalah titik-titik air laut. Maka walaupun sebutannya berbeda tetap saja tetap saja adalah merupakan laut itu sendiri. Samudera mempunyai luasan terbesar di antara lautan yang ada, begitu pula antara samudera yang satu dengan yang lain satupun tidak ada pembatasnya, begitu juga dengan perairan laut lainnya. Tetapi diantaranya diberikan nama yang berbeda-beda padahal sebenarnya lautan itu semuanya adalah satu. Begitu pula dengan Tri Murti yang kita ibaratkan samudera karena mempunyai sifat kesadaran yang hampir sama dengan Tuhan, padahal Beliau adalah manifestasi Tuhan itu sendiri. Begitu pula dengan Dewa-Dewi lainnya yang mempunyai kesadaran agak kurang dibandingkan Tri Murti yang kita ibaratkan lautan atau selat. Mereka juga adalah manifestasi dari Tuhan seperti halnya lautan/selat adalah merupakan lautan di bumi yang satu.

Lalu bagaimana dengan manusia yang diibaratkan titik-titik air laut. Manusia dan mahluk hidup lainnya di bumi ini sama sekali tidak mempunyai kesadaran tentang Tuhan. Jika kita ibaratkan proses titik-titik air laut ini, maka akan sama dengan perjalanan mahluk hidup rendah di bumi ini. Titik-titik air laut ini akan menguap ke udara dan akan menggumpal menjadi awan, yang nantinya akan menurunkan hujan dan mengalir di sungai atau jalur lainnya yang akan kembali lagi ke laut. Di antara air hujan yang mengalir tersebut tentu saja akan ada yang terperangkap di bumi yaitu masuk ke dalam danau atau bendungan.

Personifikasinya adalah titik-titik air laut yang menguap ini adalah proses pemisahan atman dengan asal utama (Tuhan) dan proses turun hujan adalah lahirnya manusia ke bumi, dan akan mengalir melalui sungai yang artinya sama dengan manusia yang berjalan melalui jalan agama. Air hujan yang sudah melewati jalur sungai yang tepat akan bisa kembali lagi ke laut. Seperti halnya seseorang yang sudah melewati jalan kebenaran dan sesuai dengan prinsip dalam agama (Dharma) akan bisa kembali lagi kepada asal muasalnya yaitu Tuhan (Moksa). Lalu ada juga manusia yang tersesat karena ketidak tahuannya (Awidya) seperti air hujan yang terperangkap di danau yang tidak akan mengalir kemana pun. Lalu bagaimana cara agar air dalam danau itu bisa mengalir? Maka air dalam danau tersebut harus menguap kembali terlebih dahulu dan turun kembali dalam bentuk hujan dan mengalir dalam sungai yang sesuai sehingga dia bisa mengalir ke laut. Sama halnya dengan manusia yang sudah tersesat dan melakukan banyak dosa sehingga dia harus terlahir kembali (Reinkarnasi/Punarbhawa), dan harus bisa melalui jalan kebenaran (Dharma) sehingga bisa menyatu kembali dengan Tuhan.

Air laut tersebut bisa saja menguap dari belahan laut manapun, maka sama dengan manusia yang bisa saja terlahir dari Tuhan itu sendiri, Dewa tertinggi Tri Murti, ataupun Dewa-Dewi lainnya. Maka tidak salah kalau manusia berbakti juga kepada Dewa-Dewi.

Jadi sama seperti lautan di bumi, walaupun disebut samudera hindia, samudera atlantik, laut jawa, selat sunda, dan lain-lain yang karena luasannya berbeda tetap saja itu adalah lautan bumi dan sama sekali tidak ada pembatasnya. Begitu juga Dewa, manusia dan mahluk hidup lainnya walaupun berbeda karena tingkat kesadarannya maka tetap saja asalnya dari Tuhan dan merupakan Tuhan itu sendiri. Laut juga bukan hanya terdiri air laut saja, tetapi juga dipenuhi oleh karang, pasir, palung, dll yang merupakan personifikasi alam semesta ini. Jadi dengan demikian sama seperti lautan yang terdiri dari beraneka ragam, sebagai sumber air terbesar bumi, Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi berada di dalam dan di luar ciptaanNya dan meresapi segala-galanya serta merupakan asal dari segalanya.

Selasa, 08 Desember 2015

Dasar Kepercayaan Agama Hindu

Untuk mejadi suatu keyakinan dasarnya adalah kepercayaan. Dari kepercayaan ini timbul rasa ingin tau dan belajar lebih sehingga apa yang dipercayai itu bisa diterima dengan logis sehingga menjadi suatu keyakinan. Dalam Agama Hindu terdapat 5 dasar kepercayaan yang disebut sebagai Panca Sradha. Dari lima kepercayaan ini sehingga memunculkan berbagai materi pengetahuan yang akhirnya menjadi pedoman hidup umat Hindu dalam melaksanakan keseharian dalam hal berkeTuhanan dan bergaul dengan sesamanya serta alam. Kelima dasar kepercayaan atau disebut sebagai Panca Srada itu adalah :

  1. Percaya dengan adanya Brahman
  2. Percaya dengan adanya Atman
  3. Percaya dengan adanya Karma Phala
  4. Percaya dengan adanya Punarbhawa
  5. Percaya dengan adanya Moksa
1. Percaya dengan adanya Brahman

Brahman adalah jiwa Maha Tunggal/Maha Besar/Maha Tau dan Maha Sempurna sesempurna-purnanya serta menguasai segalanya atau kita sebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Waca. Dalam hal ini kenapa kita hanya percaya dengan Brahman, kenapa tidak ditulis percaya dengan adanya Brahman dan Para Dewa Dewi? Jawabannya karena agama Hindu bukan penganut paham politeisme melainkan yang lebih universal yaitu Panteisme. Para Dewa dan Dewi hanyalah manifestasi dari Tuhan berdasarkan fungsinya karena hal yang terpenting di dunia ini adalah fungsi dan tugas. Tidak ada seorangpun atau benda apapun di dunia ini yang tidak mempunyai fungsi/tugas. Maka dari itu Tuhan mengajarkan kita bahwa fungsi itu penting melalui diciptakannya para Dewa dan Dewi. 

Dengan adanya dasar kepercayaan kepada Brahman/Tuhan Yang Maha Esa, maka timbul banyak konsep baru/keinginan diantaranya :
  • Keinginan untuk mengetahui bahwa Tuhan itu memang ada yang disebut sebagai Tri Pramana diataranya Anumana, Pratyaksa dan Agama.
  • Rasa memiliki hutang kepada Beliau yang telah menciptakan manusia atau disebut Tri Rna (hutang kepada Tuhan, hutang kepada orang tua, hutang kepada guru yang telah mengajarkan kita).
  • Keinginan untuk melakukan pengorbanan yang disebut Panca Yadnya.
  • dan lain-lain yang akhirnya menciptakan konsep baru lainnya.
Jadi pada dasarnya agama Hindu tidak pernah mengajarkan bahwa kita hanya harus percaya Dewa dan Dewi melainkan kepada Brahman/Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasi beliau sebagai Dewa Dewi. Hanya saja karena dasar pikiran manusia yang masih lemah sehingga sulit untuk menggambarkan bagaimana sebenarnya Brahman tersebut. Maka salah satu cara untuk menghubungkan manusia dengan Brahman adalah melalui penyembahan para Dewa dan Dewi. Berbeda halnya untuk orang yang sudah mempunyai kesadaran tinggi atau sudah memperoleh pencerahan maka tidak akan sulit untuk menghubungkan diri dengan Brahman Sang Pencipta.

2. Percaya dengan adanya Atman

Atman adalah jiwa/roh/badan suksma yang merupakan percikan terkecil dari Tuhan Yang Maha Esa/Brahman sebagai sumber dari segala kehidupan. Itulah sebabnya mengapa sifat-sifat atman sama dengan sifat-sifat Brahman. Hanya saja karena atman adalah merupakan percikan terkecil (atom) maka atman tidak memiliki sifat keesaan seperti yang dimiliki oleh Tuhan. Karena atman inilah semua mahluk hidup di alam semesta bisa hidup. Atman ini kemudian diberi badan kasar (Stula Sarira) sehingga tubuh bisa hidup dan bisa dilihat/dirasa/diraba. Sedangkan para Dewa yang memiliki persentasi keesaan lebih tinggi dibandingkan dengan manusia diberikan badan halus (Suksma Sarira), sedangkan atman itu sendiri sering disebut sebagai Antakarana Sarira. Karena sudah diberikan badan kasar maka atman yang sudah berwujud manusia atau mahluk hidup lainnya, akan mulai harus melalukan rutinitas sebagaimana kehidupan itu misalnya makan, minum, bekerja, olah raga, rekreasi, dan segala aktivitas duniawi lainnya hanya untuk memberikan makanan kepada badan kasar tersebut. 

Kemudian apakah atman itu juga harus diberi makan? Jawabannya iya, tetapi bukan makanan dalam bentuk lahiriah dan materi. Makanan atman adalah sesuatu yang bisa membuat mereka menyatu kembali dengan keEsaan Tuhan dalam bentuk pengendalian diri. Dalam hal ini disebut dengan Panca Yama Brata (pengendalian diri dalam sikap) dan Panca Nyama Brata (pengendalian diri dalam mental) yang masing-masing terdiri dari 5 bagian.

     Panca Yama Brata diantaranya :
  • Ahimsa, artinya tidak membunuh, tidak menyakiti, tidak melukai baik melalui pikiran, perbuatan maupun perkataan
  • Brahmacari, artinya menuntut ilmu sebaik-baiknya khususnya dalam hal pendekatan kepada Tuhan. Masa brahmacari ini bukan hanya dilakukan pada saat masih sekolah saja tetapi masih harus tetap dilakukan sampai akhir hayat karena ilmu pengetahuan itu tidak akan pernah habis.
  • Satya, artinya kesetiaan terhadap apapun yang dilakukan. Satya ini terbagi menjadi 5 yang disebut Panca satya diantaranya satya wacana, satya herdaya, satya laksana, satya mitra, satya samaya.
  • Awyawahara/Awyawaharika, yaitu tidak terikat dengan ketentuan/ikatan keduniawian yang bersifat materi. Dalam hal ini kita diajarkan tentang keserhanaan yaitu tidak bergaya hidup mewah, tidak suka berfoya-foya, tidak sombong dan tidak suka pamer.
  • Asteya artinya tidak mencuri atau mengambil milik orang lain. Segala sesuatu yang sudah menjadi milik seseorang adalah milik dia sendiri. Tidak pantas seseorang mengambil secara paksa ataupun sembunyi-sembunyi apa yang sudah menjadi milik orang lain.
Disamping Panca Yama Brata ini ada juga yang disebut dengan Panca Nyama Brata yang merupakan pengendalian diri tingkat lanjut yang diantaranya :

  • Akroda, artinya tidak marah/tidak mempunyai sifat marah. Sifat marah lebih banyak mengakibatkan hal yang buruk dibanding hal yang baik. 
  • Guru Susrusa, artinya hormat dan bakti terhadap guru. Dalam hal ini bukan artinya hanya hormat kepada guru pengajar di sekolah tetapi hormat kepada Catur Guru.
  • Sauca, artinya kesucian lahir dan bathin. Dalam silakrama disebutkan bahwa tubuh dibersihkan dengan air, jiwa dibersihkan dengan ilmu dan tapa bratha, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan.
  • Aharalagawa, artinya makan yang serba ringan atau tidak rakus. Makan yang berlebihan tidak akan baik pada tubuh karena akan menyebabkan tubuh sakit dan secara tidak langsung akan mempengaruhi kejiwaan. Maka ada semboyan "dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat".
  • Apramada, artinya tidak bersifat inkar terhadap kewajiban. Setiap manusia lahir ke dunia pastilah mempunyai maksud dan fungsi/tugas tertentu. Dengan demikian melakukan kewajiban dengan tulus wajib dilakukan.
Setiap mahluk hidup pasti mempunyai atman tetapi tidak sama karena tingkatannya berbeda dari mahluk terendah sampai ke manusia yang merupakan mahluk tertinggi. Atman pada setiap mahluk hidup mempunyai istilah yang berbeda diantaranya Jiwatman (atman pada manusia), Janggama (atma pada binatang) dan Sthawana (atma pada tumbuhan)

3. Percaya dengan adanya hukum Karma Phala

Karma Phala artinya hasil dari perbuatan yang dilakukan. Apapun yang sudah dilakukan baik melalui perkataan, perbuatan dan pikiran, suatu saat pasti akan mendapat imbalannya. Baik perbuatan yang dilakukan maka baik pula pahala yang didapat dan begitu pula dengan sebaliknya. Tidak ada di dunia ini yang bisa lepas dari hukum ini. Dalam menjalani kehidupan banyak orang beranggapan setiap perbuatan itu tidak akan mempengaruhi pahala yang dia dapat. Maksudnya kalau dia sudah melakukan lebih banyak perbuatan baik ketimbang perbuatan tidak baik maka nantinya dia pasti akan memperoleh hasil yang baik. Namun tidak demikian adanya, karena setiap detail perbuatan kita pasti akan memperoleh ganjarannya. Misalnya dalam kehidupan seseorang 80% melakukan kebaikan dan sisanya adalah perbuatan yang tidak baik. Maka sisa yang 20% dari perbuatanya pastilah tetap akan mendapat imbalan yang tidak baik juga. Tidak ada istilah "Pemutihan Pahala" yang artinya perbuatannya yang tidak baik akan diabaikan karena sudah melakukan lebih banyak kebaikan. Itulah hukum sebab akibat yang tidak akan bisa lepas dan tidak akan bisa dihindari.

Dalam agama Hindu, hukum sebab akibat atau Karma Phala ini terdiri dari 3 bagian yaitu :

  1. Sancita Karma Phala, artinya perbuatan di masa lampau atau kehidupan terdahulu maka hasilnya akan kita terima pada kehidupan sekarang.
  2. Prarabda Karma Phala, artinya perbuatan kita saat ini maka hasilnya akan kita dapat pada saat ini juga.
  3. Kryamana Karma Phala, artinya perbuatan kita di saat ini maka hasilnya akan kita terima pada kehidupan yang akan datang. Dalam hal ini yang akhirnya menyebabkan terjadinya Reinkarnasi/Punarbhawa.
Akibat dari hukum Karma Phala ini akan memperoleh tujuan yang berbeda yaitu apakah orang tersebut akan mengalami reinkarnasi/kelahiran kembali atau bisa mencapai tujuan terakhir yaitu Moksa. Maka dari itu prilaku sangatlah penting demi mencapai tujuan yang lebih baik.

4. Percaya dengan adanya Punarbhawa

Punarbhawa artinya lahir kembali ke dunia atau bereinkarnasi. Punarbhawa ini adalah akibat dari hukum karma phala yang sudah diberlakukan sebelumnya. Seseorang mengalami kelahiran kembali karena belum bisa mencapai pengendalian diri yang baik sehingga harus dilakukan pembenahan lagi sehingga menjadi lebih sempurna. 

Banyak pertanyaan sering saya dengar, kalau memang punarbhawa ini benar adanya, kenapa jumlah manusia bertambah sedangkan dosa mereka sebenarnya juga bertambah. Jadi banyak yang beranggapan bahwa Punarbhawa itu tidak mungkin karena kalau bertambah terus, lalu siapa itu yang lahir kembali?
Dalam hal ini banyak orang gelap mata bahwa mereka hanya hidup dalam kelompoknya saja. Tidak memikirkan bahwa ada mahluk hidup lain selain manusia yang mempunyai atman juga yaitu binatang dan tumbuhan. Secara kasat mata untuk saat ini kita sudah bisa melihat bagaimana populasi binatang maupun tumbuhan yang sudah berkurang dari belahan dunia. Lalu kemana perginya mereka (binatang & tumbuhan) yang sudah mati tersebut? Apakah kita hanya melihat bagian kasarnya saja bahwa binatang yang mati itu sudah menjadi santapan manusia dan tumbuhan yang ditebang itu sudah menjadi rumah bagi manusia? Padahal sudah jelas dalam agama Hindu bahwa mereka juga memiliki jiwa. Maka dari itu jiwa merekalah lahir kembali menjadi mahluk yang lebih tinggi yaitu manusia. 
Apakah benar binatang bisa lahir menjadi manusia? Jawabannya adalah bisa. Binatang bahkan bisa mempunyai jumlah dosa yang jauh lebih sedikit dibanding manusia maka wajar mereka bisa mencapai kehidupan yang lebih tinggi yaitu terlahir kembali sebagai manusia. Dan bahkan malah sebaliknya kebanyakan manusia bisa saja terlahir kembali menjadi mahluk yang lebih rendah karena banyaknya dosa yang mereka perbuat.

5. Percaya dengan adanya Moksa

Moksa artinya kebebasan yang kekal dan tiada akhir dimana atman bisa bersatu kembali dengan Sang Pencipta/Brahman/Ida Sang Hyang Widi dan merupakan tujuan terakhir. Tidak akan ada lagi kelahiran kembali. Tingkatan moksa ini terbagi dalam 3 golongan yaitu :

  • Moksa, artinya kebebasan yang dicapai seseorang tetapi masih meninggalkan badan kasar.
  • Adi Moksa, artinya kebebasan yang dicapai seseorang tetapi masih meninggalkan sisa berupa abu.
  • Parama Moksa, artinya kebebasan yang dicapai seseorang tanpa meninggalkan bekas.
Apapun jenis moksa yang telah dicapai artinya adalah sama walaupun dia meninggalkan bekas ataupun tanpa bekas karena pada intinya seseorang sudah bisa mencapai kebebasan tertinggi yaitu manunggal dengan Brahman.

Itulah kelima dasar kepercayaan dalam agama Hindu yang menjadi tolak ukur dalam menjalani kehidupan beragama Hindu. Dari kelima Sradha tersebut kenapa tidak ada surga dan neraka? Apakah agama Hindu tidak percaya dengan surga dan neraka? Jawabannya, agama Hindu percaya dengan adanya surga dan neraka tetapi tidak menjadi dasar kepercayaan atau suatu tujuan karena surga dan neraka hanyalah gambaran situasi yang sebenarnya ada di dunia fana ini. Saat kita senang itulah surga dan saat kita susah itulah neraka. Jadi konsepnya sangat berbeda dengan agama lain yang tujuan akhirnya adalah surga dan neraka.

Minggu, 09 November 2014

Hindu Menyembah Banyak Dewa

"Hindu menyembah banyak dewa, lalu dewa apakah yang harus saya sembah?"
Setiap dewa mempunyai sifat dan fungsi masing-masing, dan yang paling penting apapun dewa tersebut sebenarnya adalah sama. Tuhan memanifestasikan diri kedalam 3 dewa yang disebut Tri Murti sebagai dewa utama. Dari Tri Murti masing-masing menciptakan dewa lainnya untuk membantu mengatur roda dunia agar tetap terkendali dan berjalan sebagaimana mestinya.

Menyembah salah satu Tri Murti artinya menyembah seluruh Tri Murti, jadi tidak masalah kalau kita mengagumi salah satu bentuk dari Beliau karena pada dasarnya adalah sama. Dan menyembah Tri Murti artinya sama dengan menyembah Brahman/Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi yang utama.

Bagaimana kalau kita menyembah salah satu dewa yang bukan merupakan dewa utama?
Hal ini juga pada akhirnya juga sama. Seperti contoh kita adalah seorang nelayan, yang pastinya  memohon kepada Sang Hyang Baruna yang artinya sama dengan menyembah Dewa Wisnu sebagai penguasa lautan. Sebagai pelajar kita memohon kepada Dewi Saraswati yang artinya kita juga memohon kepada Dewa Brahma, atau kita memohon perlindungan kepada Sri Ganesha yang artinya kita memohon kepada Dewa Siwa, yang mana pada akhirnya kita akan tetap memohon kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi. Dalam Bhagawad Gita disebutkan :

"Orang yang menyembah para dewa sebenarnya adalah menyembahKu hanya saja mereka melakukannya dengan cara yang keliru."

Perbedaanya terletak pada anugrah yang didapat. Tuhan sama sekali tidak mengharapkan imbalan apapun ataupun memberikan imbalan. Tuhan hanya menerima siapapun yang sudah bisa melepaskan diri dari keinginan ataupun ikatan apapun dan akhirnya bisa bersatu dengan Beliau. Jadi kalau kita memohon sesuatu yang akan memberikan anugrah adalah para Dewa karena fungsi dari dewa selain mengatur roda kehidupan tetapi memberikan anugrah. Seperti yang dikutip dalam Bhagawad Gita sebagai berikut :

"Orang yang menyembah para dewa akan hidup di dunia para dewa, sedangkan orang yang menyembahKu akan mencapai duniaKu"

Maksud dari sloka di atas adalah karena manusia masih memiliki keinginan sehingga cenderung memohon kepada dewa agar diberikan anugrah, sehingga mereka belum bisa terbebas dari belenggu duniawi. Jadi intinya hendaknya kita harus bisa membebaskan diri dan memuja kebesaran Tuhan tanpa memohon atau mengharapkan apapun. Segala sesuatu diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tidak ada lagi yang perlu disampaikan selain rasa syukur sehingga kita bisa bersatu dengan Beliau.

Jadi dapat disimpulkan apapun dewa yang disembah pada intinya sama, yang penting disesuaikan dengan fungsi masing-masing atau tergantung kekaguman kita terhadap salah satu dari Tri Murti. Tetapi hendaknya segala sesuatu harus dilakukan secara tulus ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun apabila tujuannya adalah untuk mencapai moksa (bersatunya atma dengan Tuhan).


Konsep Ketuhanan dalam Agama Hindu

"Agama Hindu adalah agama politheisme yang menyembah banyak Tuhan?". Hal ini sering saya dengar dari saudara beda agama yang mungkin belum mengerti tentang konsep ketuhanan dalam Hindu. Dengan demikian maka sering muncul pemikiran yang cenderung merendahkan karena ketidakjelasan Tuhan mana sebenarnya yang disembah. Padahal sebenarnya Hindu bukanlah agama monotheisme, politheisme, atheisme ataupun lainnya. Konsep agama Hindu adalah Panteisme yaitu agama universal (satu Tuhan untuk semuanya).

Kenapa Agama Hindu disebut Panteisme? Memang terdapat perbedaan dalam proses tata cara penyembahan dan bahkan perbedaan nama Beliau yang disembah sesuai dengan alirannya tetapi sebenarnya mereka tetap menyembah satu Tuhan yang disebut Brahman/Ida Sang Hyang Widhi Wasa dikarenakan Beliau mempunyai banyak gelar seperti yang disebutkan oleh sloka-sloka berikut :

"Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangruwa" yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu, tidak ada Dharma/Tuhan yang lainnya.

"Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadhanti" artinya Tuhan hanya satu, tetapi para resi bijaksana menyebut Beliau dengan banyak nama.

Berbeda dengan monotheisme yang hanya menyembah satu Tuhan, tetapi sayangnya hanya berpihak pada satu kelompok saja, sedangkan kelompok lain adalah kaum musuh yang harus dibasmi. Atau paham politheisme yang jelas-jelas menunjukkan perbedaan dan penyembahan berhala.

Lalu siapakah sebenarnya Tuhan dalam Agama Hindu ?
Tuhan dalam agama Hindu disebut Brahman ("bukan Dewa Brahma") atau di Bali biasa disebut Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang artinya Tuhan yang maha besar dan tahu segalanya. Segala sesuatu tentang Brahman/Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak secara gampang bisa kita pahami kecuali kita sudah memiliki hati yang tulus, bijaksana dan tidak memiliki keterikatan terhadap apapun masalah keduniawian dikarenakan sifat-sifat beliau. Sifat-sifat Beliau banyak disebutkan dalam kitab suci. Dalam Weda disebutkan 4 sifat kemahakuasaan dari Tuhan yang disebut Cadu Sakti yang diantaranya :

  1. Wibhu Sakti : Tuhan Maha Ada yang memenuhi dan meresapi seluruh bhuana/dunia dan berada dimana-mana, tidak terpengaruh dan tidak berubah ("Wyapi Wyapaka Nir Wikara") dan tidak ada tempat yang kosong bagi Beliau karena beliau memenuhi segalanya. Beliau ada di dalam dan di luar ciptaan-Nya.
  2. Prabhu Sakti : Tuhan Maha Kuasa yang menjadi raja dari segala raja (Raja Diraja),  yang menguasai segalanya baik dalam hal penciptaan (Utpetti), pemeliharaan (Stiti), dan Pelebur (Prelina). 
  3. Jnana Sakti : Tuhan Maha Tahu yang mengetahui segala sesuatu yang terjadi baik di alam nyata maupun tidak nyata, yang terjadi di masa lampau(Atita), yang sedang terjadi (Nagata), ataupun yang akan terjadi (Wartamana).
  4. Krya Sakti : Tuhan Maha Karya yang setiap saat tidak pernah berhenti melakukan aktifitas baik dalam penciptaan, pemeliharaan, pelebur, pengawasan, penjagaan, sutradara dalam sandiwara kehidupan (demi memberikan pembelajaran dan pengetahuan) dan segala aktifitas lainnya.
Disamping sifat kemahakuasaan di atas, Tuhan/Brahman/Ida Sang Hyang Widhi juga memiliki sifat sebagai berikut seperti yang disebutkan dalam kitab Wrhaspati Tattwa yang disebut sebagai Asta Iswara yang diantaranya :
  1. Anima : Tuhan bagaikan setiap atom yang mempunyai kehalusan yang bahkan lebih halus dari partikel apapun
  2. Lagima : Sifat Tuhan yang sangat ringan bahkan lebih ringan dari ether
  3. Mahima : Dapat memenuhi segala ruang, tidak ada tempat kosong bagi Beliau
  4. Prapti : Segala tempat bisa dicapai,  Beliau dapat pergi kemanapun yang dikehendaki dan Beliau telah ada.
  5. Prakamya : Segala kehendakNya akan selalu terjadi.
  6. Isitwa : Tuhan merajai segala-galanya, dalam segala hal yang paling utama
  7.  Wasitwa : Menguasai dan dapat mengatasi apapun.
  8. Yatrakamawasayitwa : Tidak ada yang dapat menentang kehendakNya.
Adapun sifat-sifat Tuhan yang merupakan sumber dari segala kehidupan (Parama Atma) adalah :
  1. Achintya : tak terpikirkan
  2. Awikara : tak berubah-ubah
  3. Awyakta : tak terlahirkan.
  4. Achodya : tak terlukai oleh senjata
  5. Adhaya : tak terbakar oleh api
  6. Akledya : tak terkeringkan oleh angin
  7. Achesyah : tak terbasahi oleh air
  8. Nitya : kekal abadi
  9. Sarwagatah : ada dimana-mana
  10.  Sthanu : tak berpindah-pindah
  11. Acala : tak bergerak
  12. Sanatana : selalu dalam keadaan sama
  13. Atarjyotih : maha sempurna sesempurna-purnanya.
Dengan adanya sifat-sifat Beliau seperti di atas sangatlah sulit bagi orang awam untuk bisa mengerti dan memahami Tuhan kecuali kita sudah memiliki keyakinan teguh, berusaha untuk memahami dan menghayati keberadaan Beliau, melepaskan semua ikatan terhadap keinginan duniawi, dan memasrahkan sepenuhnya untuk Beliau.

Lalu apakah fungsi Dewa-Dewi? Apakah mereka bukan Tuhan?
Dewa berasal dari kata "Div" yang artinya sinar suci dari Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi. Dewa  adalah belahan dari Tuhan yang mana sebenarnya sama dengan mahluk lainnya termasuk manusia yang merupakan percikan terkecil dari Beliau karena Beliau adalah sumber dari segala kehidupan hanya saja Dewa berbentuk Sarira/roh/atma yang mempunyai sifat dan kemahakuasaan yang hampir sama dengan Tuhan. Diantara nama Dewa-Dewa yang ada hanya ketiga dewa yang mempunyai sifat yang mendekati sama dengan Tuhan diantaranya Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa sehingga ketiga dewa tersebut dijadikan dewa tertinggi dalam agama Hindu yang disebut Tri Murti.

Fungsi para dewa adalah untuk mengatur jalannya roda kehidupan baik dalam penciptaan, perjalanan waktu, dan peleburan serta proses setelah kematian. Mereka juga membantu makluk lainnya termasuk manusia untuk bisa mengerti konsep ketuhanan dan mengatur tatatan hidup manusia. Sehingga secara tidak langsung mereka adalah wakil dari Tuhan yang mengatur segala kehidupan sesuai dengan tugasNya masing-masing dan juga sebagai penghubung antara Tuhan dengan ciptaanNya. Dengan kata lain apabila manusia melakukan persembahan kepada salah satu dewa maka sama artinya mereka menyembah Tuhan dan dewa lainnya karena mereka semua adalah satu tetapi berbeda karena fungsinya. Sama halnya dengan kita sendiri, dengan menjaga diri sendiri dan menghormati orang lain artinya juga kita menjaga dan menghormati Tuhan karena Tuhan juga bersemayam dalam diri manusia.

Jika diibaratkan dalam sebuah perusahaan besar, Tuhan adalah sebagai pemilik perusahaan dan Tri Murti adalah Owner Representative, Dewa Indra yang merupakan raja dari para dewa adalah sebagai General Manager dan dewa-dewa lainnya sebagai departement head/manager. Dan disini manusia adalah staff yang harus tetap tunduk dan patuh terhadap atasan. Seorang staff sangatlah susah untuk bertemu langsung dengan pemilik perusahaan sehingga mereka harus menggunakan penghubung yaitu atasannya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Hindu tidak menganut paham monotheisme, politeisme, atheisme tetapi panteisme yang bersifat universal sehingga Hindu bisa menyatu dengan unsur daerah manapun tanpa adanya perselisihan sehingga penyebaran agama Hindu tidak pernah sekalipun dilakukan melalui kekerasan. Hindu tetap menyembah satu Tuhan yang disebut Brahman/Ida Sang Hyang Widhi hanya saja karena sifat dan kemahakuasaan Beliau sangat sulit untuk bisa dipahami akal manusia yang masih sangat terbatas sehingga manusia lebih cenderung untuk menyembah Dewa-Dewa yang sebenarnya sama artinya dengan dengan menyembah Tuhan.

Konsep Ketuhanan Agama Hindu Bagian 2 - Saguna dan Nirguna Brahman

Senin, 15 September 2014

Agama Diibaratkan Sebagai Orang Tua

Berbicara tentang agama adalah sesuatu yang sangat sensitif, karena jika ada salah satu pihak yang merasa sakit hati karena pihak lain akan mengakibatkan pemberontakan yang akan berakibat fatal. Agama merupakan pedoman dan tuntunan dalam menjalankan kehidupan. Jadi dalam situasi apapun dalam tingkah lakunya selalu berasaskan pada ajaran agama.

Manusia lahir, hidup dan mati dari Agama, karena itu agama bisa dikatakan sama seperti orang tua. Orang tua yang melahirkan anaknya, kemudian memberikan tuntunan sampai dia bisa hidup sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Disebutkan lahir dari agama karena setiap manusia yang percaya akan kebesaran Tuhan akan memeluk suatu agama yang sangat diyakininya. Walaupun kita terlahir dari orang tua, tetapi tanpa adanya kebesaran dari Tuhan YME, manusia tidak akan bisa tercipta. Setelah kelahirannya, manusia akan dituntun dengan ajaran-ajaran sebagaimana tertera dalam kitab sucinya. Jadi bisa dilihat, suatu ajaran agama yang memang mengandung unsur kebenaran pasti dapat dilihat dari tingkah laku pengikutnya. Apapun yang diajarkan orang tua kepada anaknya pasti akan tetap melekat dan tetap dilakukannya karena sudah terdoktrin seperti yang diajarkan, Begitu pula dengan agama, apapun yang diajarkan dalam kitab suci, pasti akan tetap melekat yang tentunya akan menentukan masa depan tingkah laku manusia apakah akan selalu menjunjung kebenaran atau melakukan kebiadaban.

Seorang anak yang mempunyai orang tua yang berbudi luhur pastinya mempunyai anak yang baik, sedangkan anak yang mempunyai orang tua yang keji, anaknya pasti akan mengikuti orang tuanya yang berbuat keji pula. Orang tua dalam hal ini bukan dalam arti sempit yang hanya berarti yang melahirkan kita, tetapi orang yang mengasuh dan memelihara kita juga disebut orang tua. Begitupun dengan agama. Suatu agama yang mengajarkan Darma (kebenaran) pasti akan membuat manusianya menjadi berbudi luhur dan baik hati. Tetapi kalau dalam agama sudah mengajarkan kekerasan dan dendam, menghasilkan manusia yang beringas, keji, pemberontak.

Seorang anak yang terlahir dari orang tua mempunyai hutang kepada orang tua yang melahirkannya. Dengan demikian seorang anak wajib untuk mengikuti semua aturan dan perintah orang tua. Agama pun demikian. Manusia juga mempunyai hutang kepada Tuhan yang telah menciptakannya berserta dengan alam semesta. Sehingga manusia wajib untuk memuja Tuhan dengan berbagai pengorbanan yang memang layak untuk dilakukan.

Kita tidak bisa memilih orang tua sesuka kita karena bagaimanapun seorang anak pasti terlahir dari orang tua. Berbeda dengan agama yang memang akan dipilih oleh seorang manusia apabila sudah sesuai dengan keyakinannya. Dalam hal ini, kebijakan dalam memilih suatu ajaran yang memang murni dan mengandung kebenaran serta bisa dijadikan panutan sangat diperlukan.

Rabu, 26 Februari 2014

Makna Cerita "MAHA BHARATA" di Kehidupan Saat Ini

Maha Bharata adalah sebuah kisah yang ditulis oleh Bhagawan Byasa atau Maharesi Wyasa yang mengisahkan kehidupan Pandawa dengan Korawa sedari kecil sampai dewasa dan akhirnya timbul perselisihan yang mengakibatkan terjadinya pertempuran antara kedua belah pihak. Padahal sebenarnya mereka adalah saudara sedarah yang seharusnya hidup rukun satu sama lain tetapi malah terlibat perang. Dalam pertempuran ini, masing-masing pihak berperang demi mempertahankan kehormatan, tahta dan juga menuntut keadilan.

Sama halnya dengan kehidupan saat ini, dimana masih saja ada saudara satu darah apakah itu sepupu atau bahkan saudara kandung yang terlibat permusuhan. Biasanya yang menjadi akar permasalah yang paling populer adalah hak tentang warisan, dimana kalau sudah menyangkut masalah ini, seseorang bagaikan sudah kehilangan akal sehat dan tidak akan mengenali mana saudara dan mana lawan. Sehingga timbullah sifat iri hati dari satu pihak yang merasa tidak mendapat keadilan.

Disamping karena masalah warisan, sifat iri hati tersebut timbul karena ketidak senangan apabila melihat saudara lain yang sukses, maka mulailah timbul pikiran-pikiran kotor yang akan menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan orang lain yang bahkan bisa berakibat fatal bagi yang dijatuhkan.

Sungguh sangat disayangkan apabila hal tersebut bisa terjadi. Bagaimana kita sebagai saudara yang seharusnya saling membantu dan saling mendukung bisa saling adu jotos satu sama lain. Tetapi walaupun demikian Tuhan tidak akan pernah tinggal diam. Sama halnya dalam cerita Maha Bharata dimana Sri Krisna yang merupakan perwujudan dari Tuhan YME hadir untuk membantu pihak Pandawa. Seperti kita ketahui bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Korawa bertolak belakang dengan sifat yang dimiliki oleh Pandawa. Pihak korawa memiliki sifat angkuh, rakus, sombong, iri hati. Berbeda dengan Pandawa yang memiliki sifat lembut, hormat dan patuh, suka menolong dan selalu menjalankan Dharma sehingga Tuhan pun akan berada di pihak mereka yang pada akhirnya kemenangan bisa diraih.

Dengan demikian bisa disimpulkan walaupun seandainya kita berada dalam situasi yang sama seperti dalam cerita Maha Bharata tersebut, hendaknya kita tetap memegang teguh kebenaran (dharma) dan bukannya selalu merasa diri benar. Karena dalam situasi tersebut Tuhan akan selalu membantu umatnya yang berada dalam posisi tertindas tetapi masih memegang teguh kebenaran.

Walaupun demikian hendaknya kita harus tetap berusaha memegang teguh persaudaraan agar tidak terjadi perselisihan. Maka dari itu sangat diperlukan sikap saling mengerti dan menghormati satu sama lain. Bukankah kita akan merasa lebih nyaman apabila memiliki saudara yang rukun daripada memiliki saudara yang menjadi musuh.

Senin, 07 Oktober 2013

Tujuan Hidup Manusia

Sebagian besar orang jika ditanyakan masalah tujuan hidup pastilah jawabannya sama. Mayoritas orang ingin menjadi orang kaya sehingga semua keinginannya tercapai, menduduki jabatan yang tinggi agar dihormati, bahkan agar bisa mencapai surga sebagai tujuan akhiratnya. Tetapi segala sesuatu itu tidak ada artinya apabila semua yang didapat tidak sesuai dengan filsafat kebenaran. Terkadang mereka bangga dengan apa yang telah dicapai walaupun itu adalah hasil dari kejahatan/sesuatu yang tidak baik.

Tingkatan tujuan hidup sebenarnya memiliki aturan yang harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Dalam agama Hindu tujuan hidup bukan hanya mencari kekayaan kemudian melakukan kebaikan agar bisa mencapai surga. Walaupun itu ada benarnya tetapi itu bisa dikatakan kategori salah besar. Kenapa demikian? Karena pencarian tujuan terutama kekayaan kalau tidak ada yang melandasinya artinya sama saja dengan omong kosong. Maka dari itu dalam agama Hindu kita kenal istilah Catur Purusha Artha yakni 4 tujuan hidup manusia. Dengan berdasarkan Catur Purusha Arta diharapkan "Moksartam Jagat Hita Ya Ca Iti Dharma" yaitu kebahagian yang kekal dan abadi di dunia dan akhirat bisa terwujud.

Keempat tujuan hidup (Catur Purusha Artha) diantaranya :

1. Dharma
Dharma (ajaran pokok kebenaran) diletakkan paling awal dan utama karena menjadi dasar dari segala prilaku. Apapun yang kita lakukan hendaknya selalu berasaskan kebenaran dan prilaku yang baik. Jika segala sesuatu dilakukan tanpa kebaikan sama saja dengan tidak artinya.

2. Artha
Artha artinya kekayaan dan kekuasaan. Dalam hal ini manusia sebenarnya sudah mempunyai sifat tamak dan rakus. Tetapi karena sudah ada pondasi dharma, maka segala kekayaan dan kekuasaan yang didapat seharusnya didapatkan dari jalan kebenaran. Tidak ada istilah kekayaan itu didapat karena merampok, mencuri, menipu, korupsi, atau kejahatan lainnya. Sama halnya dengan kekuasaan hendaknya diperoleh dengan jalan yang benar dan memang karena kapasitas orangnya yang memang mampu. Bukan karena didapat dari hasil menyuap, menjatuhkan orang lain, dll.

3. Kama
Kama artinya hawa nafsu atau keinginan. Dengan diperolehnya artha/kekayaan sudah pasti muncul keinginan manusia untuk memiliki sesuatu. Dan tentu saja apapun keinginan ini tetap harus berdasarkan dharma. Apabila suatu keinginan itu tidak dilandasi dengan kebenaran/dharma, sudah pasti akan timbul pemikiran-pemikiran kotor dan jahat yang akan mengakibatkan timbulnya kejahatan dan sudah pasti dosa yang akan didapat.

4. Moksa
Moksa artinya bersatunya/kembalinya atman kepada brahman/Tuhan YME sebagai penciptanya. Jadi tujuan akhir hidup ini bukanlah surga karena dalam surga masih diliputi oleh sifat-sifat duniawi. Berbeda dengan Moksa dimana atman dan Tuhan sudah menjadi satu artinya atman sudah mencapai kebebasan tertinggi dan sudah benar-benar lepas dari sifat duniawi.

Jadi apapun tujuan dari manusia itu, hendaknya selalu berdasarkan kepada dharma/kebenaran sehingga dharma akan selalu menjadi yang pertama sebagai dasar dari tingkah laku dalam pencapaian tujuan.

Hari "Pralaya"

Pralaya sering disebut sebagai hari kiamat, tetapi apakah benar pralaya itu sama dengan kiamat? Jawabannya adalah tidak. Bagi umat lain selain Hindu, hari kiamat adalah hancurnya dunia dengan kondisi yang sangat mengerikan dimana digambarkan bumi akan terbelah, gunung-gunung akan meletus, air laut meluap menutupi semua daratan. Tetapi berbeda dengan pralaya yaitu kembalinya semua unsur ciptaan Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan YME kepada penciptanya yaitu Tuhan itu sendiri. Segala yang pernah diciptakan oleh Tuhan YME sudah pasti akan kembali ke asalnya. Jadi dalam Hindu tidak ada istilah hari penghakiman karena justru yang ada adalah hari kebahagiaan sebab semua makhluk sudah tidak diliputi oleh dosa dan bisa manunggal dengan Tuhan YME.

Pralaya akan tiba ketika semua mahluk ciptaanNya sudah memiliki kesadaran yang tinggi akan Dharma (ajaran pokok kebenaran). Disaat manusia mempunyai kesadaran tinggi akan dharma, seluruh ajaran agama dan dharma akan dilakukan dengan sungguh-sungguh sehingga memungkinkan tujuan terakhir agama Hindu yaitu moksa (bersatunya atman dengan brahman/Tuhan) akan bisa tercapai. Apabila semua makhluk Tuhan bisa mencapainya maka tak dapat dipungkiri lagi pralaya sudah pasti akan tiba.

Saat awal penciptaan manusia sebenarnya sudah dibekali dengan akal dan budi luhur yang menjunjung tinggi dharma. Sehingga jaman itu banyak muncul kaum pendeta yang memang mengkhususkan hidupnya untuk menjalankan dharma dan memuja Tuhan. Tetapi karena manusia diliputi oleh sifat Awidya (ketidak tahuan) maka lama-lama dharma mulai ditinggalkan dan sampai saat ini penganut dharma sangat minim. Disamping faktor keminiman itu, walaupun sudah menganut dharma tetapi masih saja belum seratus persen bisa menjalankannya sehingga tujuan moksa belum ada yang bisa mencapainya.

Saat ini manusia sudah mengalami titik kesadaran yang paling rendah. Dilihat dari prilaku manusia yang sudah tidak sesuai dengan norma-norma agama atau dharma. Kasus kejahatan, penodaan agama, pemaksaan kehendak, bahkan tingkah laku abnormal manusia sudah menjadi kebiasaan. Tetapi tanpa kita sadari, kemampuan berfikir manusia sekarang ternyata semakin maju. Anak kecil jaman dulu mungkin setelah SD baru bisa menulis, membaca, menggambar, atau melakukan hal lain yang masih dasar. Tetapi sekarang, bahkan anak kecil sudah memiliki pemikiran yang maju. Itu artinya kesadaran manusia sebenarnya sudah ditakdirkan semakin hari semakin maju. Sekarang tinggal mencari arahan yang tepat kemana mereka akan berlabuh, apakah menuju dharma atau lainnya. Apabila dengan meningkatnya kesadaran ini diimbangi dengan meningkatnya kesadaran akan dharma, sudah dipastikan bahwa hari kembalinya semua ciptaanNya yang disebut pralaya akan segera tiba.


Senin, 09 September 2013

Benarkah Tuhan Itu Ada?

Benarkah Tuhan / Ida Sang Hyang Widhi itu benar-benar ada? Jawabannya pasti akan berbeda sesuai dengan masing-masing individu. Orang yang agamis akan menjawab dengan lantang bahwa Tuhan itu benar adanya dan ada dimana-mana dan semuanya diciptakan oleh Tuhan. Tetapi orang yang Atheis atau komunis akan menjawab berbeda, mereka akan bilang bahwa mahluk tertinggi di dunia ini adalah manusia dan manusialah yang memegang roda kehidupan dunia.

Berdasarkan kasus di atas maka kita lihat dari segi Agama Hindu. Dalam Widhi Tatwa disebutkan ada istilah Tri Pramana yang artinya Tiga jalan/cara/ukuran untuk mengetahui kebenaran sesuatu. Ketiga jalan/cara tersebut antara lain :

1. Pratyaksa Pramana

Artinya jalan untuk mengetahui sesuatu dengan melihat/mendengar/merasakan secara langsung. Dari jalan ini orang sudah tentu tahu tentang kebenaran karena fakta sudah didepan mata sehingga tidak bisa dipungkiri lagi. Jalan ini mungkin tidak semua orang bisa melakukannya karena tidak sembarang orang bisa melihat Tuhan secara langsung. Hanya dengan hati yang suci niscaya kita bisa melihat/mendengar Tuhan. Bagaimana caranya? Dalam kekawin Arjuna Wiwaha disebutkan :

"Sasi wimbha haneng ghata mesi banyu. Ndan asing suci nirmala mesi wulan"

Artinya : Sesuatu yang suci harus dilihat dengan hati yang suci. Bagaikan air dalam tempayang dimana airnya keruh, bayangan bulan tidak akan terlihat. Tetapi dalam air yang bersih bulan akan terlihat jelas.

Setelah satu jalan/cara ini kita lihat, mungkin belum tumbuh keyakinan kita mengenai kebenaran Tuhan karena cara ini sangat sulit untuk dilakukan dan sangat sulit untuk melihat Tuhan secara langsung. Tetapi kita hanya bisa melihat ciptaan Beliau yang tidak mungkin manusia bisa melakukannya.

2. Anumana Pramana

Artinya jalan untuk mengetahui kebenaran dengan berdasarkan logika. Dewasa ini orang sudah banyak menggunakan logikanya jadi saya yakin cara ini pasti bisa dimengerti. Sekarang kita lihat sekeliling kita, pertama dari yang paling dekat yaitu diri kita. Siapakah yang menciptakan kita? Jawabannya sudah tentu orang tua kita. Siapakah yang menciptakan orang tua? Jawabnya kakek dan nenek. Siapakah yang menciptakan kakek nenek? Jawabnya kakek & nenek buyut. Dan jika pertanyaan ini dilanjutkan terus menerus, maka akan ada pertanyaan terakhir yang tidak bisa terjawab. Siapakah yang menciptakan leluhur pertama kita? Nah inilah ada pertanyaan yang harus dijawab di luar nalar kita yaitu ada sesuatu yang diluar batas yang mampu menciptakan manusia.
Kemudian kita lihat contoh lain, Siapakah yang menciptakan Gelora Bung Karno di Jakarta? Sudah tentu jawabannya para arsitek yang dibiayai oleh pemerintah sehingga bisa dibangun stadion yang megah. Kemudian kalau ada pertanyaan siapakah yang menciptakan bumi, matahari, dan seluruh jagat raya? Dan saya rasa tidak ada satupun arsitek/ilmuwan yang bisa menciptakan alam semesta walaupun dibiayai oleh seluruh penghuni bumi sekalipun. Maka akan timbul lagi persepsi bahwa ada sesuatu yang mempunyai kekuatan yang maha dahsyat yang bisa menciptakan seluruh jagat raya yaitu yang kita sebut sebagai "Tuhan".

Jadi saya rasa cara kedua ini pasti bisa diterima oleh semua orang. Karena antara cara pertama dan kedua ini masih 1:1 antara yakin dan tidak, maka ada cara ketiga yaitu Agama Pramana.

3. Agama Pramana

Yaitu jalan/cara untuk mengetahui kebenaran melalui kitab suci agama yang memang diakui kebenarannya. Kitab suci tersebut harus bisa diterima oleh akal sehat, mampu menuntun manusia menjadi lebih baik, isinya memang benar adanya dan bisa memberikan pengetahuan murni. Karena kitab suci ini memang diciptakan oleh para orang suci (orang yang sudah bisa melakukan cara pertama), maka kita yang belum tahu apa-apa ini hanya bisa membanding-bandingkan apakah benar atau tidaknya wahyu yang diterima oleh orang suci tersebut. Dan kalau memang benar isinya sesuai dengan ciri-ciri kitab suci yang saya sebutkan diatas, berarti itu adalah suatu kebenaran seperti misalnya kitab suci Weda.

Berdasarkan ketiga cara/jalan tersebut, maka dengan pasti kita bisa menyimpulkan bahwa Tuhan / Ida Sang Hyang Widhi itu memang benar-benar ada. Dan kita ini hanyalah segelintir kerikil kotor yang walaupun demikian masih saja tetap diperhatikan oleh Beliau karena Beliau Maha Penyayang. Dimana kita sering menunjukkan ketajaman kita tetapi Beliau masih saja menyayangi kita. Dan kerikil tajam ini saya ibaratkan untuk orang-orang yang tidak percaya dengan Tuhan.

Sabtu, 12 Desember 2009

Pelaksanaan Yadnya ditengah masyarakat Hindu saat ini

Kata Yadnya pasti sudah sangat dikenal oleh masyarakat Hindu yang lebih dikenal dengan Panca Yadnya yaitu :

1. Dewa Yadnya
2. Rsi Yadnya
3. Pitra Yadnya
4. Manusa Yadnya
5. Bhuta Yadnya

Dimana dalam keseharian kita tidak bisa lepas dari yadnya terutama Dewa Yadnya. Melakukan sembahyang Tri Sandhya sebanyak tiga kali merupakan Dewa Yadnya yang utama dan paling gampang sebenarnya dilakukan. Akan tetapi kenyataannya orang-orang terkadang enggan untuk cuma duduk sejenak sambil mengucapkan 6 bait mantra dikarenakan kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. Sehingga muncullah pemikiran Agama Hindu memperbolehkan untuk bersembahyang walau cuma sekali tetapi wajib dilakukan setiap hari. Dan ternyata itupun sangat sulit dilakukan.
Purnama, tilem dan piodalan sering dijadikan sebagai ajang untuk menyembah kebesaran Tuhan, akan tetapi hal tersebut juga takkan ada artinya jika kesehariannya dilakukan dengan melakukan hal-hal yang tidak baik.

Agama Hindu tidak pernah mengikat umatnya untuk mewajibkan melakukan sesuatu tetapi hanya menyarankan untuk melakukannya, dan alangkah baiknya jika itu bisa dilaksanakan sebaik-baiknya dalam keseharian.

Pelaksanaan Yadnya yang besar-besaran sungguh akan membuat Para Dewa akan bangga akan tetapi jika dilaksanakan dengan penuh hikmat tanpa rasa pamrih dan rasa terbebani. Anda bisa pikirkan betapa malunya jika kita melakukan yadnya tetapi atas dasar ingin dipuji oleh oleh orang lain, sedangkan pada akhirnya kita yang akan kewalahan akibat dari pengeluaran yang berlebihan yang diluar dengan kemampuan kita. Kita mendapat pujian dari orang lain tetapi Tuhan yang bernaung di dalam diri kita merasa menderita.

Sering terjadi demikian, orang melakukan yadnya hanya berdasar atas gengsi semata, tanpa melihat pokok tujuan dari beryadnya, yang penting terlihat hebat dimata orang lain. Maka dari itu perlu kita perbaiki bagaimana cara melakukan yadnya yang benar, yang sesuai dengan kemampuan sehingga agama Hindu juga memberikan kebebasan umatnya untuk beryadnya sesuai dengan kemampuan yang dibagi menjadi :

1. Nista
2. Madya
3. Utama

Ketiga pelaksaan yadnya itu ditentukan oleh upakara yang dipakai dimana ketiganya sebenarnya mempunyai arti yang sama hanya dibedakan oleh besar kecilnya upakara. Jadi umat Hindu yang kemampuan finansialnya dikategorikan masih kurang, masih bisa melakukan yadnya tanpa harus membebani dirinya.

Untuk itu perlu diingat, gengsi itu tidak ada gunanya karena semua yang kita berikan kepada Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi adalah Beliau yang menentukan nilai besar kecilnya yadnya yang kita berikan, bukan ditentukan besar kecilnya upakara tetapi ditentukan kuat lemahnya iman dan taqwa kita kepada Tuhan.

Kamis, 16 Juli 2009

Siapakah yang kita sembah?

Umat hindu menyembah patung?Mungkin itu selalu terlintas di benak saudara-saudara yang belum memahami hindu itu seperti apa.Wajar jika ada yang beranggapan bahwa untuk apa sebenarnya patung disembah.

Kecintaan umat hindu terhadap Tuhan melebihi kecintaan terhadap apapun bahkan terhadap dirinya sendiri. Karena itu mereka rela melakukan apapun demi menunjukkan rasa bakti disamping untuk memohon keselamatan dan ampunan.

Karena rasa cinta inilah ada rasa ingin bertemu dan selalu dekat dengan penciptanya. Maka dibuatkanlah simbol yang merupakan wujud kecintaan manusia terhadap Ida Sang Hyang Widhi yang tak lain adalah berupa patung.

Bagaimana sebenarnya bentuk/wujud Tuhan itu? Tidak satupun orang yang tau. Maka dari itu dibuatkanlah wujud yang ditampilkan dalam bentuk kesenian dan digambarkan sesuai dengan yang tertera di buku suci Weda.

Jadi patung adalah wujud semu Tuhan dimana karena saking cinta dan rindunya manusia untuk bertemu. Seperti sifat-sifat Tuhan yang salah satunya tidak berwujud maka manusia bebas menggambarkan Tuhan dalam wujud apapun yang dianggapnya suci. Maka kebanyakan dibuatkan wujud Tuhan sesuai dengan tugasNya masing-masing.

Bukan hanya Hindu saja yang mempunyai simbol Tuhan, bahkan agama lainpun punya. Seperti agama Budha dengan patung Budhanya, dan agama Kristen dengan salib dan patung Yesus Kristus.